<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283</id><updated>2011-08-02T10:18:53.651-07:00</updated><category term='Tukar Pasangan'/><category term='3 in 1'/><category term='ABG'/><category term='lain2'/><category term='Saudara'/><category term='Tante2'/><category term='Inces'/><title type='text'>xxx</title><subtitle type='html'>Berpikir jernih sebagian dari pada IMAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://critaxxx.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-7206605798601495393</id><published>2007-11-05T12:39:00.000-08:00</published><updated>2009-10-05T02:54:03.611-07:00</updated><title type='text'>Kenangan Ayu</title><content type='html'>Perkenalkan dulu namaku Krishna.Aku sekolah di sebuah SMU di kotaku Klaten.Aku punya cewek yang bernama Ayu dan dia bersekolah di sebuah sekolah dasar dikotaku juga. Cerita ini adalah pengalamanku yang nyata dan sangat berkesan dihatiku.Awal ceritanya begini,&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sudah siap dengan dandanan rapi untuk pergi kerumah Yusha. Dirumah Yusha aku disambut oleh adik adik Yusha yang kecil kecil.Saat itu Yusha keluar sehabis ngasih makan ayam kesayangannya.aku langsung diperkenalkan dengan cewek imut dan cantik bernama Ayu.Aku,Yusha dan adik Yusha yang lain lalu bermain di serambi samping rumah Yusha.Saat itu aku memang tidak ada perasaan apapun terhadap Ayu tapi lama kelamaan…….. Tetapi besoknya lagi aku tak bosan bosan kerumah Yusha.Aku langsung nyariin Ayu.Sejak saat itu terbit harapan dihatiku untuk mendapatkan hati Ayu. Suatu saat aku lagi sakit,badanku lemas,kepala sakit.Semua itu dikarenakan sehabis Fashion Show di Semarang tapi ini justru menjadi awal dari segalanya.Kesibukanku sebagai model memang menuntut tenaga yang lumayan besar.Fashon Show dengan mobil bersama teman temanku satu agency hingga harus berjongkok ria didalam mobil sedan merelakan tempatku dipakai temenku yang cewek.Saat pulang aku banyak kehilangan tenaga hingga malamnya aku langsung tertidur pulas banget.&lt;br /&gt;Paginya aku menelfon Yusha dan bilang kalau aku nggak masuk sekolah dan titip izin kepada wali kelasnya tak lupa pula aku kirim salam kepada Ayu yang membuat hatiku berbunga bunga indah. Saat suatu senja dimalam Minggu dirumah Yusha,Ayu menungguku.Waktu aku menemui Ayu diserambi samping rumah Yusha,Ayu menangis dan berkata kenapa aku tak menemuinya dan rindu berat sama aku.Saat aku dan Ayu memasuki rumah Yusha Kami disambut oleh mama Yusha yang bernama tante Nana yang super sexy Saat itu mama Yusha memakai tengtop terusan rok ketat sebatas paha atas berwarna pink transparan membuat lekuk lekuk tubuh wanita dewasa kelihatan jelas walau agak transparan. Dalam posisi duduk yang miring sambil menyilangkan sepasang pahanya sehingga tak mustahil akan memperlihatkan pemandangan indah itu dan memaksa mata nakalku singgah berkali kali di paha mulusnya Saat itu posisi duduk tante Nana berubah dari menyilang hingga kini setengah bersila dengan kaki kiri kebawah terus kaki kanan menyilang lurus kesamping malah menambah posisi roknya semakin naik sehingga paha bagian dalam terlihat samar samar.Ternyata tante Nana memakai celana dalam yang minim banget.Celana dalam model G-spot berwarna putih transparan berukuran kecil dengan tali pengikat disamping pinggangnya menampakkan kemulusan bagian dalam pangkal paha serta bulu halus hitam lebat membuat mata nakalku tambah jelalatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Nana memintaku untuk membantunya memperbaiki lampu kamarnya yang terputus. Saat didalam kamar suasana begitu gelap karena tak ada penerangan.Tanganku meraba raba mencari kursi untuk memanjat karena letak bohlamnya diatas.Tak sengaja tanganku menyentuh benda lunak yang begitu indah.Ternyata yang kuraba tadi gundukan dada tante Nana yang tak tertutup apapun selain kain tipis tengtop itu.Tante Nana melarangku untuk beralih malah meletakkan tanganku disusunya Saat itu tanganku tak beralih malah tambah berani dengan meremas remas lembut bukit itu.Remasanku bertambah berani saat aku mendengar desahan desahan halus tante Nana. “Ahhh…Kriiishhh Terrusss..Enaaak sekaliii….”desahnya mengundang birahi Tangan tante Nana tidak tinggal diam.Tangannya meraba raba punggung terus turun hingga sampai kepangkal pahaku.Disana dia menemukan sebentuk keperkasaan milikku yang sudah tegang dari tadi. “Agh….tante…mhhh”aku tak dapat berkata apa apa sehingga tak sadar aku menurunkan tali pengikat tengtop dibahu tante Nana dan terus meremas bukit indah yang kelihatan masih kencang itu.Saat itu tante Nana sudah tidak peduli lagi siapa aku dan siapa dirinya.Dia langsung turun melepas remasanku mencari kait celanaku dan kebetulan aku memakai celana model training sehingga memudahkan tante Nana melorotkan celanaku.Terlihatlah celana dalamku yang berwarna biru tua.Celana itu sangatlah kecil hingga tak mampu menutupi semua kontolku sehingga nampak mengintip batang milikku yang tegang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan tante Nana langsung merampas lepas celana kecil itu kebawah hingga terlihatlah kerasnya kejantananku yang tegang sepenuhnya mengacung keras menampar pipi tante Nana. “Oh…Krish besar dan indah tante ingin sekali memilikinya”kata tante penuh nafsu sambil tangannya memegang penisku “Ahhh….tante milikilah dan lakukan sesuka tante sekarang”kataku Tangan tante Nana langsung memegang dan bahkan memasukannya kedalam mulutnya batangku.Tante Nana langsung mengulum dan meremas sambil sesekali menggerakkan naik turun perlahan lahan batangku membuat aku tak henti hentinya mendesah sambil sesekali tanganku meremas remas payudara tante Nana. “Aghhh…tante teerrruuussss..mhhhh”kata ku menahan agar tidak sampai suaraku terdengar sampai depan.Hisapan,remasan,dan kocokan tante Nana bertambah ganas seiring remasan didadanya bertambah keras. Sampai suatu ketika aku menjerit menahan desah karena aku sudah mencapai klimaks dari permainan tante Nana. “Aghh…tante sudah,Krish keluaarhh nihhh…”jeritku tertahan “Crot…crot..crot…”3 kali aku menembakkan pejuku didalam mulut tante Nana dan tante Nana menelannya sampai bersih. Lalu tante Nana menghentikan kegiatannya pada batang milikku dan menelan habis air mani milikku dan menjilat ujung kepala penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tante Nana ingin melanjutkan permainannya,aku segera tersadar kalau kami meninggalkan anak anak terlalu lama. “Udah tante,Krishna janji akan menyenangkan tante asal tante tetap memakai pakaian yang sexy seperti ini kalau ada saya”janjiku “Ya udah deh,tapi kamu harus janji lho”sahut tante Nana “Tante mana nih bohlamnya”aku meminta bohlam yang akan dibetulin “Oh ini”kata tante Nana sambil memberikan bohlam itu.Saat itu tengtop tante Nana tidak dibetulkan posisinya sehingga masih nampak bukit indahnya. Saat selesai memperbaiki lampu kamar tante Nana,aku langsung memakai kembali celana dan celana dalamku setelah kami berciuman tanda terima kasih tante Nana karena aku telah memuaskannya.Waktu itu aku yang berjiwa muda melumat habis mulut mungil tante Nana sehingga tante Nana kembali terangsang. “Udah Krish,katanya udah ntar tante terangsang lagi lho”katanya sambil melepas ciumanku “Maaf tante terlalu nafsu,kapan kapan lanjutin lagi”kataku sambil menenangkan diri “Ok deh Krish”jawab tante Nana Lalu kami keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami sampai di ruang tamu Yusha dan adik adiknya sudah didepan main bersama sama.Aku langsung mengajak Ayu keserambi samping rumah. Saat diserambi milikku diremas Ayu sehingga tak sadar tanganku memasukan tangan Ayu kedalam celanaku. “Yuuu…kocok milik kakak yuu..yanghh kerasshh yah..mhhh”kataku sudah terangsang berat.Saat itu Ayu berkata “Kak celananya mengganggu” Langsung aku menurunkan celana beserta celana dalamnya sekalian. “Ayo Yu kocok cepat”kataku tak sabar.Buru buru Ayu mengocok batangku yang gede berukuran panjang 18cm dan berdiameter 5 cm itu.Suasana serambi rumah Yusha memang mendukung untuk melakukan semua itu maka kami tidak takut akan ketahuan oleh tetangga yang lain. Aku yang sudah terangsang berat langsung meraba raba dada Ayu yang sudah mulai tumbuh payudara walau yang masih terbungkus kaos tipis Ayu. “Achh…kak,geli kaaakkhh”Ayu merasakan kenikmatan yang belum dia dapatkan sebelumnya.Tanganku langsung melepas kaos Ayu sekalian kaos singletnya hingga nampak olehku susu indah dengan puting kecil berwarna merah jambu yang baru muncul terus meremas remasnya. “Ayu susumu indah benget”kataku senang “Kakak netek yah”sambungku tanpa menunggu persetujuan Ayu langsung menetek susu miliknya “Ahh..kakak enakhh banget kak,Ayu sayang kakak”kata Ayu menyeracau Tanganku yang bebas langsung menuju ke-rok Ayu yang sebatas atas paha itu terus meraba raba paha Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku terus meraba kian kedalam hingga tersentuh olehku celana dalam Ayu yang sudah basah cairan kenikmatan Ayu.Tak sabar tanganku pun menurunkan celana dalam Ayu hingga sampai mata kaki Ayu “Ayu lepas dong sayang”kataku.Saat itu Ayu memang menolak tetapi aku membujuk sambil mengulum puting Ayu hingga Ayu akhirnya mau juga dilepas celana dalamnya. Setelah terlepas tanganku meraba raba bibir memek Ayu yang basah sambil sesekali menusuk nusuk liang milik Ayu “Yu kamu cantik”kataku “Mhh…terusshhh kakhhh…”desah Ayu “Iya Yuuu…kocok terus kontol kakak sampai keluar air susunya sayang”kataku Keadaan terus berlanjut hinggak akhirnya aku berteriak waktu aku mencapai klimaksku.5 kali tembakan pejuku mengenai rok Ayu.Ayu rebah dipangkuanku tapi aku masih meraba raba memek Ayu. “Ayu enak benget yang tadi,kakak puas Yu?”kataku “Enak yah kak,Ayu juga enak kok,sekarang main yang beneran yah kak”Ayu memintaku “Iya deh”sahutku “Sekarang Ayu kulum dulu milik kakak,terus Ayu hadap kakak,nanti Ayu kakak gendong kalau kakak udah siap”aku mengajari “Gimana kak?”tanya Ayu “Ini masukin kemulut Ayu terus dikulum seperti ngulum permen itu lho”aku menyodorkan batang pelirku “Ini….mhhhh”Ayu mulai ngemut batang pelirku “Akhh…mhhh Ayuuuu enhhakhhhh….”desahku keenakkan “terushhh….”kataku “Udah Yu sekarang Ayu naik kepaha kakak yah nanti kalau sakit tahan dikit yah”kataku sambil memangku Ayu Ayu terus naik kepangkuanku sementara aku menempatkan batang penisku tepat pada lubang memek Ayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan yah sayang”kataku sambil melumat bibir Ayu agar tidak menjerit Lalu…blesh kepala penisku memasuki memek Ayu.Saat itu Ayu langsung menjerit kecil “Akhh kak perih”jerit Ayu “Tahan dikit yah sayang”kataku sambil menekan penisku lebih dalam “Mhh kak”Ayu merintih sambil memegang tanganku.Saat penisku sudah ¾ masuk,aku menggoyangkan pinggulku pelan pelan hingga Ayu naik turun dan lama lama rintihan Ayu berubah menjadi desahan “Kak enak terrushhh”katanya Tanpa disadari Ayu aku menekan kuat kuat pinggul Ayu kebawah sehingga kemaluanku masuk semua menerobos selaput dara milik Ayu “Ssakithhh…Kakhhh”Ayu berteriak lalu menggigit bibir “Sabar sayang nanti juga hilang sakitnya berganti nikmathhh”kataku bercampur desah.Saat Ayu tenang kembali aku mengayun pantatku dari pelan naik turun hingga Ayu seperti naik kuda semakin lama semakin keras. “Kak enak terrrushh kak”desah Ayu “Mhh…nikmattt Yuuu,memek Ayu enakhh”kataku Aku menyetubuhi Ayu sambil berselunjur kaki,terus Ayu kuhentak hentakkan keatas dengan pahaku.Walau aku lelah tetapi kami mendapatkan kenikmatan yang baru kami peroleh. Hingga Ayu memelukku erat erat tanda Ayu Ejakulasi. “Kakhh Ayu pipis”jerit Ayu “Iya kakak juga kita bersama sama pipis yah”sahutku.Saat itu aku tidak tahan lagi lalu membalik dan menindih tubuh Ayu lalu menggenjot keras keras memek Ayu “Kakakhh Udah Ayu nggak tahhaanhh”Ayu menjerit Hingga Akhirnya “Kakhh”Ayu menjerit.”Akh…nikmatthh”desahku saat ejakulasi dan kami saling memeluk erat erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menembakan pejuku yang kedua kali selama 5 tembakan tanpa melepas kontolku dari dalam memek Ayu dan Ayu mengguyur kontolku dengan air maninya selama 4 tembakan. Hari jadian kami diawali dengan percintaan yang baru kami rasakan.Tak sadar kami dihampiri oleh tante Nana yang sudah sejak tadi mengintip.Tante Nana langsung mengajak kami main dikamarnya karena tadi belum puas karena permainannya denganku terhenti. “Yusha kemana tante?”tanyaku “mereka pergi kok jangan takut”jawab tante Nana.Ayu dan aku menuju kekamar tante Nana tanpa memakai kembali pakaian kami Saat sampai dikamar tante Nana yang terang ternyata Tante Nana sudah tidak pakai tengtop lagi melainkan memakai sarung saja sebagai penutup tubuhnya.Sarung itu hanya mampu menutupi susu sama memeknya saja tetapi paha atas sampai pangkal paha terlihat jelas. “Kak tante Nana sexy yah kak”ucap Ayu polos “Iyah…”aku menjawab sambil mendesah Tak sabar aku langsung melepas kaosku hingga bugil karena celanaku ditinggal di serambi rumah tante Nana.Ayu melepas rok kecil yang masih menghalangi memeknya sehingga tubuh mulus anak SDnya kelihatan semua.aku langsung mendekati tante Nana.Tanganku meraih ikatan sarung tante Nana lalu melepasnya.Aku langsung menetek susu tante Nana tanpa diperintah “Tante enak nggak”tanya Ayu “Ahhh…enakhh banget Ayu sayang,Ayu jilatin dong memek tante”tante menuntun kepala Ayu kememeknya. “Nah terus Yu yang dalem…ahhh masukin lidah kamu dong…terushhhh…”tante Nana mendesah desah Merasa sudah pernah aku ajari,Ayu langsung menjilat jilat seperti menjilat es krim hutan dan memek tante Nana. Dan tangan tante Nana memegang kemaluanku lalu mengocoknya naik turun. “Akhh…terus ayooo…miahhhhhhh….”desahnya tak teratur Lalu tiba tiba tante Nana menyuruh kami berhenti. “Krish kamu tiduran aja sayang biar tante masukin kontol kamu,tante udah nggak kuat sayang”katanya tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku tidur terus tante Nana naik keatas tubuhku sambil menduduki penisku otomatis penis tegangku masuk perlahan lahan hingga masuk semua. “Akhh….Krish kontolmu kok besar banget sih tante sakithhh tapi enak kok Krishhh…”erangnya kenikmatan “Tante masukin terus kontol Krishna biar tante enak”jawabku menunggu kontolku masuk semua. Sementara itu Ayu melihat dari samping sambil mengeluar masukkan jarinya didalam memeknya.Dia terangsang sekali saat itu.Saat itu memek tante Nana masuk semua lalu dia menggenjot pinggulnya bagai kesetanan. “Ahh…tante terushhh…mhhh”desahku kenikmatan ‘cleepp…plek plek cleep…plek”suara beradunya kemaluan kami “Akhh…kontol anak anak memang nikhhmathhh…”teriak tante Nana tidak sadar “Tante Krishna mau diatas,tante pindah turun dong”pinta Krishna pada tante Nana Lalu tante Nana turun tanpa melepas kontolku dari memeknya.Aku langsung menggenjot kontolku sedang tante Nana menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan bagai tari sterptease. Kami mengejar puncak ejakulasi kami sampai seperempat jam dan Ayu masturbasi sampai ia pun mencapai puncaknya. “Krishna,tanhh…te Sampai nihhh..”erang tante Nana “Sleph..slep..slep”Aku mempercepat gerakanku agar tante Nana cepat mencapai ejakulasinya…lalu “Akhhh…mhhhh”terasa kontolku basah dan hangat dibanjiri air mani tante Nana tanda tante Nana telah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mencabut penisku yang masih tegang dan basah terus menghampiri Ayu. “Ayu main lagi yuk sayang,kak Krishna mau gantian sama Ayu”kataku memeluk Ayu “Iya kak”jawab Ayu Lalu aku mendekati memek Ayu yang kelihatan basah dan sedikit berdarah tanda perawannya telah hilang. “Yu,punya Ayu berdarah yah?”tanyaku “Sakit tidak?”tanyaku lagi “Sedikit kak,makanya yang pelan yah kak”kata Ayu “Iya sayang”kataku lalu aku menjilat memek Ayu hingga cairan mani Ayu habis dan berganti oli kenikmatan Ayu. “Sekarang masukin lagi yah kontol kakak ke memek Ayu yah sayang”kataku “Iya kak pelan pelan yah”jawab Ayu “Kita kekursi itu yah lalu Ayu kakak pangku lagi tapi yang naik turun Ayu yah”aku mengajari lagi “Krishna kalau kamu udah mau sampai bilang tante yah ntar pejumu masukin aja ke memek tante biar tante merasakan siraman pejumu Krish,tante disini mau nonton ngentot kalian”tante Nana memesan pejuku seperti memesan Es jus. “Iya tante”jawabku singkat. Lalu aku duduk dan memangku Ayu. “Yu,ayo dong kamu naik turun”kataku saat kontolku sudah masuk setengahnya.Lalu menurunkan Ayu pelan pelan takut Ayu kesakitan lagi.Ayu pun tidak kesakitan seperti tadi dan mulai menaik turunkan pantatnya pelan pelan lama kelamaan mulai cepat seperti orang naik kuda. “Akhh…Ayu kakak sayanghh..Ayuuu…terushh sayang nikmat sekalliii…”desahku “Kak Nikhhmathhh Ayu mau dong kapan kapan,kita mainhh lagi yah kakkhhh”desah Ayu ketagihan “Yahhh sayanghhhh…..”jawabku.Kami tak berhenti hingga akhirnya…. Aku berteriak kepada tante Nana kalau aku sudah akan klimaks. “Ah…tante Krishna mau sampai tante kita gantian yuk”teriakku “Iya,tunggu tante”tante Nana buru buru mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu diturunkan dan tante naik menggantikan Ayu lalu menggenjot memeknya kuat kuat agar aku cepet sampai.Aku memasukan dua jariku kedalam memek Ayu agar Ayu juga merasakan kenikmatanya yang tertunda.Hingga akhirnya…… “Achh tante Krishna sampai nih”teriakku saat air pejuku mau keluar “Semprotin terus dalam memek tante sayang,semua ayo…”kata tante Nana menyambut pejuku. “crot…crot..crot..crot..crot”4 kali pejuku menyemprot membasahi memek tante Nana yang sempit dan…. “Kak jangan keras kerashh…kakhhh sakiiithhh…”saat tak sadar aku mengocok memek Ayu terlalu keras. “Kakhhh Ayu pipishhh”kata Ayu saat sampai “Serr…serrr..serr…serrr”air maninya menyembur nyembur membasahi tanganku Tante Nana turun saat beberapa saat diam dipangkuanku membiarkan kontolku mengecil sendiri laluaku menjilat memek Ayu hingga bersih dan menjilat memek tante Nana membersihkannya juga menjilat semua air mani Ayu yang ada ditangannya. “Krishna tante puas sekali,terima kasih yah tapi loe besok harus kemari dan kita main seperti ini lagi yah”katanya “Ayu boleh ikutan tante?”Ayu menyahut “Iya deh sayang tapi Ayu dilarang pakai celana dalam dan memakai kaos dalam hanya boleh pakai daster terusan rok aja yah sayang”jawabku “Terserah kamu deh Krish,tante capek nih mau tidur”kata tante Nana “Ya sudah tante kami mau pulang dulu,sampai besok tante”kataku “Sampai besok tante”kata Ayu “Bye semua”kata tante Nana lalu mengantar kami sampai keserambi depan rumah mengambil dan mengenakan pakaian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sampai diluar rumah dan berjalan pulang bersama Ayu aku mengajari bermasturbasi yang nikmat.Aku mengajari bila tak ada aku Ayu bisa mengeluar masukkan tiga jarinya didalam memeknya sambil meremas remas susunya dan memelintir putingnya sampai dia puas dan mengeluarkan air maninya,tapi harus didalam kamarnya dan tidak mengajak siapapun juga. Esoknya kami melakukannya lagi sepuas kami sampai sore sekali.Pembaca ini pengalaman kami yang takkan kami lupakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-7206605798601495393?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/7206605798601495393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/7206605798601495393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/kenangan-ayu.html' title='Kenangan Ayu'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-5650981717828339700</id><published>2007-11-05T11:56:00.000-08:00</published><updated>2009-10-05T03:07:11.898-07:00</updated><title type='text'>Mbak Laras</title><content type='html'>Para pembaca setia cerita sex dewasa, perkenalkan nama aku iwan asli kota penghasil kayu jati &amp; kota penghasil minyak bumi.sekarang usia aku 27taon, sudah bekerja disalah satu perusahaan didenpasar bali. aku akan menceritakan pengalaman "Malam Pertama Hadiah Ultah ke-22 Dari mbak Laras" kejadian nyata yang aku alami waktu masih kuliah diperguruan tinggi swasta ternama dimalang. mbak laras adalah seorang janda 1 anak, usianya waktu itu 29th,ukuran branya 36b,berkulit kuning langsat,bodynya sexy. mbak laras asli dari jakarta , dia kerja dimalang dimall. Awal perkenalan aku dengan mbak laras ini ketika waktu chatting di internet IRC, waktu itu aku semester 4 kuliah ambil jurusan produksi ternak&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;singkat cerita sbelum mengenal mbak laras aku menjelajahi situs-situs porno &amp; www.17tahun.com, yaitu cerita nyata tentang kehidupan sex orang2 dewasa,sehingga menjadi situs favoritku,suatu hari tepatnya tanggal 27 januari 2001 awal perkenalan aku dengan mbak laras kami berdua asik berchating ria sampai malem, dari situ kita saling tukar no.hp terus mengadakan pertemuan online didunia maya, sampai akhirnya terjadi ketertarikan diantara kita berdua untuk langsung kopy darat ketemuan dihotel ALOHA didaerah tugu malang deket stasiun, kami janjian ketemu jam 8 malem, kita ketemu langsung ngobrol sampai jam 9 malem tapi tak terjadi persetubuhan, kita Cuma merayakan pertemuan &amp; kenala lebih dekat, jam menunjukan pukul 11 malem aku pamitan untuk minta ijin pulang kekostan, dia tetep menginap dihotel, akhirnya hari yang aku tunggu2 datang juga, mbak laras bertanya ke aku wan...kapan kamu ulang tahun? aku jawab tanggal 7 februari mbak, &amp; aku balik tanya kepada mbak laras??? emangnya kenapa tanya ultahku!!! dengan rasa penasaran aku bertanya terus - menerus, dia menjawab aku mau kasih hadiah special dihari ultahmu ke-22 nanti , kira2 kamu mau hadiah apa wan.....??? aku jawab dengan perasaan takut bercampur gemeteran aku ngomong ajarin aku "ML MBAK"mau ngak? dengan entengnya dia menjawab oke sayang.........tunggu ya tanggal mainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya hari2 yang kutunggu2 tiba aku langsung cari tempat hotel yang nyaman, sepi &amp; akhirnya jatuh pada pilihan "Hotel Megawati". dihotel tersebuat kami berdua melakukan persetubuhan layaknya suami istri yang dimabuk cinta yang lama tak bertemu, tepatnya dikamar no.33.waktu dah menunjukan pukul 8 malem, didalam kamar kita berdua ngobrol sebentar sambil nonton film kartun “TOM &amp; JERRY” tak terasa kami berdua akhirnya saling berciuman bercumbu, meraba2 &amp; meremas2 sambil bergulingan dikasur....mbak laras kemudian melepas pelukan &amp; ciuman aku, dia lalu pergi kekamar mandi untuk mencuci vaginanya dengan pembersih dari daun sirih biar baunya harum, akhirnya permainan kami lanjutkan setelah mbak laras membersihkan vaginanya dia sudah dalam keadaan bugil , begitu juga aku dalam keadaan yang sama bugil dengan penis panjang 14cm, besar diameternya 12cm, penisku tegak keras seperti tiang listrik, mbak laras tersenyum melihat penisku yang begitu mengoda dia langsung menjilatin satu persatu 2 biji pelitku dari ujung sampai kepangkal, aku sontak langsung merasakan kenikmatan yang dasyat yang belum pernah aku rasakan, penisku diemut2, jilatain terasa es krim conello,aku tak kalah dengan permainannya, aku juga melakukan menjilati 2 gunung kembarnya yang montok rasanya seperti makan permen blaster liarnya rasanya strobery &amp; pentilnya rasa coklat. tangan kanan aku meremas2 susunya dan tangan kiriku meraba2 dan memasukan jari manisku ke gua vaginanya yang udah basah dengan carian kewanitaannya. kami berdua sudah dalam larut kenikmatan dunia, tak memikirkan perasaan takut kalo2 petugas hotel mendengar riantihan demi rintihan kenikmatan yang kita lakukan.mbak laras mendesah "wan... terus...wan....terus"aku tambah bergairah untuk lebih giat mengerjainya &amp; semangatku semakin membara memainkan kedua susunya, terus aku mulai bergantian dengan permainan tangan kiri, sementara mulut aku pindah kevaginanya sambil menjilatin bibir vagina yang sudah becek, basah dengan air orgasmenya. lidahku memainkan masuk mundur kedalam liang surgawi, aku putar - putar itilnya &amp; menyedotnya, mbak laras semakin lama semakin mengeliat seperti cacing kepanasan, dia sambil mengoyangkan pantatnya maju mundur berirama, sesekali aku melihat matanya merem melek merasakan kenikmatan yang aku berikan sampai pada suatu titik tubuhnya mengejang keras kepalaku ditekan terjepit disela2 kedua pahanya, sehingga aku tidak bisa bernafas 15 detik, akhirnya mbak laras berterik keras wan.... mbak udah sampai....keluar nih..... aduh nikmat sekali sayang... kamu hebat ternyata, walaupun kamu belum pernah melakukan "ML" sama cewek manapun , kamu cepet belajarnya. Aku tersenyum pada mbak laras. kini giliran aku mulai dituntun pelan2 tapi pasti penisku dibantu masukan kedalam vaginanya, rasanya ngak bisa diungkapkan dengan kata2 ketika penisku sudah dilahap habis vegina mbak laras, rasanya penisku ada yang menekan2 sambil aku mulai gerakan maju mundur pelan2 sampai dengan kecepatan keras mbak laras mendesah2....oh.....yes....wan terus rasanya ngak ketulungan, nikmat banget penismu sudah 5th aku ngak merasakan kenikmatan seperti ini setelah ditinggal suamiku pergi keaustralia dengan selingkuhannya, penismu bener2 nikmat udah gedhe enak lagi, kalo penis mantan suamiku kecil pendek dan ngak bisa aku merasakan nikmatnya orgasme......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wan.... ya ...mbak terus....aku pun tak kalah merasakan remasan vaginanya sampai 1jam lewat pertahanan aku jebol....., keperjakaan yang aku pertahankan akhirnya dinikmati mbak laras. mbak aku udah ngak tahan...mau keluar spermaku ...nih....terus....wan mbak juga...kita sama2 yuk!!!..... oh....yes.....yes.....mbakkkkkkkkkkkkkkkk.....oh my good.......nikamat.......ku keluar klimaks bersamaan itu mbak laras nyusul .....orgasme yang ketiga kalinya......,kami berdua istirahat sejenak 3 menit sambil berpekukan bercumbu mesra, untuk memulihkan stamina. Akhirnya kita berduapun menlajutkan permainan setelah stamina pulih dikamar mandi dengan gaya duduk diatas WC &amp; gaya anjing kencing yaitu kaki mbak laras diangkat satu keatas...., dan gaya 69 dibak mandi .......kami berdua mencapai orgasme berkali2 &amp; sampai permaianan ini berakhir jam 11 malem. Kemudian kita trus.. mandi berdua, setelah itu kita berpakaian, kemudian aku mengantar pulang mbak laras sampai didepan pintu hotel, sedangkan aku tetep menginap dihotel karena tempat kostku jauh banget...sedangkan mbak laras pulang karena besoknya kerja, permaian sex ini kami berdua lakukan 1 minggu 3 kali, aku menjalin hubungan temen mesra selama 6 bulan saja. Mbak laras dipindah tugaskan kekaltim &amp; sampai sekarang hubungan komunikasi kita putus... karena no.hp mbak laras dah diganti jadai aku kehilangan jejak keberadaan dia. Sampai matipun aku mengharapkan &amp; berdoa semoga kita berdua diberikan umur panjang ketamu &amp; malajutkan permaianan terlarang ini. I LOVE U TO 4REVER MBAK LARAS .itulah sekelumit cerita pengalaman nyata aku dengan mbak laras(maaf jika dalam penulisan ceritaku ini ada kata2 yang salah mohon dimaklumin, dan aku ceritakan kisahku ini apa adanya betul2 nyata, tidak karangan fiktif atau bohong belaka, aku tahu cerita sex dewasa ini banyak yang minat &amp; menyukainya, sekedar menambah suasana ramai aja aku ikut forum ini), dari pengalaman aku "ML" dengan mbak laras, akhirnya sepak terjangku semakain hebat aja, aku mulai tiap 1 minggu 3x chatting baik di IRC maupun diYAHOO...untuk mencari petualangan sex aku, aku akhirnya menemukan tantangan ini dengan tante ayu janda 2 anak usia 45 tahun, tante retno janda 1 anak usia 42 tahun, rani mahasiswi unmer malang, tante ika janda 1 anak usia 30tahun, mbak eny janda 1 anak umur 8 tahun, yuni mahasiswi umm malang, tante santy janda kaya tanpa anak usia 35 tahun, mereka semua menjadi tempat pebuhan sex aku &amp; mereka semua body tubuhnya sexy, montok, karena mereka rajin merawat tubuhnya dengan malakukan olah raga erobic, sehingga tubuhnya masih sexy, &amp; wajahnya cantik, kencang, &amp; montok, perlu diketahui pertama making love dengan mbak laras aku tak pakai kondom, selanjutnya sama tante2 &amp; mahasiswi ini aku tiap melakukan making love selalu pakai kondom untuk menjaga tubuhku dari penyakit sampai serta cek up kedokter 1 minggu sekali sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-5650981717828339700?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5650981717828339700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5650981717828339700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/mbak-laras.html' title='Mbak Laras'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-7109946352902921928</id><published>2007-11-05T11:54:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T12:01:03.103-08:00</updated><title type='text'>Pembantu Binal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di kompleks perumahan ibuku, Tri terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Tri baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat. Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Tri adalah menjaga anak majikannya yang masih kecil-kecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalan-jalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Nabila (anak bungsu pasangan tempat Tri bekerja). Nabila ini seorang anak yang lucu, sehingga kadang-kadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Tri yang sedang mengasuh Nabila, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tri nyeletuk, "Kok cuma Nabila yang dicubit Pak?"&lt;br /&gt;Aku sedikit terkesiap, "Haah?" dan aku memandang kepada Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Tri, aku takut Mbak Tri marah," kataku.&lt;br /&gt;"Kalau cubitnya pelan-pelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng," sahut Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau cuma cubit aku enggak mau Tri." kataku.&lt;br /&gt;"Terus maunya apa? Emang berani?" dia malah menantang. Benar-benar ganjen anak ini.&lt;br /&gt;"Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh?" aku bertanya.&lt;br /&gt;Dia malah balik bertanya, "Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, ini sudah keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tri, aku kan sudah punya isteri, emang kamu masih mau?" aku bertanya.&lt;br /&gt;"Yaa, jangan sampai isteri Pak Irwan tahu dong. Masak cuma Mbak Enny aja yang boleh ngerasain Pak Irwan." balas Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang pernah membaca pengalamanku dalam cerita 'Enny, Pembantu Yang Sexy' pasti ingat dengan Enny. Aku agak kaget juga mendengar ucapan Tri. Rupanya Enny curhat sama Tri. Tapi, kepalang tanggung pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi benar nih kamu mau Tri?" aku memastikan.&lt;br /&gt;Tri menjawab, "Siapa takut? Kapan?"&lt;br /&gt;"Kamu bisanya kapan Tri? Aku sih kapan aja bisa," jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Tri pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah "Konak". Penisku kurasakan sudah mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan Bapak-Ibu mau ke Bogor, anak-anak mau diajak semua." kata Tri.&lt;br /&gt;"Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Yaa, jam delapanan deh," jawab Tri sambil membusungkan dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu nantang benar sih Tri, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya." ancamku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Eh, dia malah menjawab, "Asal Pak Irwan kuat aja nanti malam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benar-benar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu aku pulang dulu ya Tri, sampai nanti malam ya." kataku.&lt;br /&gt;"Benar yaa. Jangan boong lho. Tri tunggu ya sayang.." Tri membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Tri, lebih tepat rumah majikannya. Tri sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Tri langsung mengunci pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Enny, masih lebih putih Tri. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tri melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Irwan, kalau Pak Irwan mau ngewe sama Tri, ada syaratnya Pak."&lt;br /&gt;Aku bingung juga, "Apa syaratnya Tri?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Pak Irwan harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Irwan Yayang. Gimana? Mau nggak?" tanya Tri sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia di atas 40 tahun, punya isteri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk sambil menjawab, "Iya Mbak, aku mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya." perintah Tri, maksudku Mbak Tri.&lt;br /&gt;"Iya Mbak." jawabku pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Tri menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Tri menutup pintu dan sekarng dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Tri kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata," Yaang, kamu jongkok dong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lepasin celana Mbak Yang, pelan-pelan ya Yaang."&lt;br /&gt;"Iya Mbak." cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat clitnya yang juga montok. Mbak Tri melibarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Tri mendongakkan wajahku dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia bertanya, "Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?"&lt;br /&gt;"Iya Mbak. Bagus banget. Tembem." jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.&lt;br /&gt;"Yayang mau cium Memek Mbak?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Mau Mbak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Tri menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Tri. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Tri mengerang, "Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahan-lahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremas-remas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu klitnya, dan kujepit klitnya dengan kedua bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mbak Tri mengejang sambil mendesah, "Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tangan Mbak Tri meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Tri, aku hampir tidak bisa bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Tri merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang." perintah Mbak Tri. Lagi-lagi aku nurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Tri kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Tri yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputar-putar di dalam memeknya. Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Tri. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Tri dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg" rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Tri. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Tri saat itu. Setelah berisitirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Tri bangun dan mulai membuka pakaianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu" perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Tri memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, permainan lidah Mbak Tri luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan. Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu. Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Tri bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Tri menjilati dan mengemut penis dan anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Tri. Setelah masuk semua, Mbak Tri mulai menaik turunkan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aauugghh, Mbak. Enak Mbak." rintihku.&lt;br /&gt;"Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Mbak Tri mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benar-benar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Tri sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Tri dengan menusuk-nusukan penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, "Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun diam dan Mbak Tri semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Tri menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Tri mengerang keras, "Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Tri rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Tri ini. Kemudian Mbak Tri memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku berada di atas. Mbak Tri melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Tri, agar aku diam saja. Mbak Tri juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya. Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Tri menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Tri mulai memutar pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami. Dan kurasakan Memek Mbak Tri mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Tri semakin menggila, dan akupun membantu dengan menekan-nekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg.." erang Mbak Tri.&lt;br /&gt;Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, "Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Tri. Bersamaan dengan itu, Mbak Tri juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Tri. Mbak Tri mencium bibirku, akupun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kamipun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Tri. Nafas kami tinggal satu-satu. Seprai dan kasur Mbak Tri sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Tri saking banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yayaanngg.." Mbak Tri memanggilku dengan mesranya.&lt;br /&gt;"Iya mbaakk." aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.&lt;br /&gt;"Kamu hebat deh Yaang." kata Mbak Tri sambil mengecup bibirku dengan lembut.&lt;br /&gt;"Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak." kataku.&lt;br /&gt;Mbak Tri tersenyum, "Yayang suka sama memek Mbak?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak?" aku merayunya.&lt;br /&gt;"Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok." Kata Mbak Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-7109946352902921928?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/7109946352902921928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/7109946352902921928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/pembantu-binal.html' title='Pembantu Binal'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-3769929448865452579</id><published>2007-11-05T11:51:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T12:02:51.172-08:00</updated><title type='text'>Menantuku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hans, 56 tahun, dengan perutnya gendut yang kebanyakan minum bir, kepalanya mulai botak dan sudah menduda selama 10 tahun. Setelah rumahnya dijual untuk membayar hutang judinya, dia terpaksa datang dan menginap di rumah putranya yang berumur 28 beserta menantu perempuannya. Sekarang dia harus menghabiskan waktunya dengan pasangan muda tersebut sampai dia dapat menemukan sebuah rumah kontrakan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketuknya pintu depan dan Ester, menantu perempuannya yang berumur 24 tahun, muncul memakai celana pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papi, aku pikir papi baru datang besok, mari masuk", katanya sambil berbalik memberi Hans sebuah pemandangan yang indah dari pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingginya yang 175 itu, dia terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur yang sempurna yang membuat lelaki manapun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang."&lt;br /&gt;"Kupikir aku hanya nggak mau ketinggalan bus", kata Hans sambil duduk.&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa", jawab Esty, membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya tiga kancing yang terpasang, itu memberi Hans sebuah pemandangan yang bagus akan payudaranya, kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan Hans ereksi dengan cepat, dan dia harus lebih berhati-hati untuk menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Esty duduk di sofa di depan Hans dan menyilangkan kakinya, memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya pada Hans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perjalanan yang melelahkan", Hans menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada keindahan yang sedang duduk di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 5 tahun sejak Hans berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal, Hans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat hutangnya menumpuk, dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Esty menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri", katanya sambil berjalan naik ke tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Hans mengikuti pantat kencangnya yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia memerlukan beberapa ‘format pelepasan’ dengan segera. Kemudian telepon berbunyi. Hans mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo"&lt;br /&gt;"Hallo, ini papi ya?", itu Johan.&lt;br /&gt;"Ya Jo", jawab Hans.&lt;br /&gt;"Pi, aku khawatir harus meninggalkan papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi papi bisa kan bilang ini ke Esty, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti". Mereka mengucapkan selamat jalan lalu menutup teleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya. Dia berjalan ke atas, melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang yang sedang mandi. Hans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna putih. Hans mengambil atasan itu dan menemukan sebuah pakaian dalam wanita dibawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya celana dalam itu, membuka resliting celananya, dan mulai menggosok kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui menantu perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia sedang memakai celana dalamnya untuk ‘format pelepasan’ dirinya. Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Esty saat di atas tempat tidur, dan bagaimana rasanya mendapatkan Esty bergerak naik turun pada penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans hampir dekat dengan klimaksnya ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Hans menaruh pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintunya, tapi masih membiarkannya sedikit terbuka. Baru saja dia keluar, Esty muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus tubuhnya. Hans bisa langsung orgasme hanya dengan melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty melepas handuknya, membiarkannya jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu, saat dia pertama kali melihatnya Hans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat yang sangat indah itu. Kemudian Esty memutar tubuhnya yang semakin mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang dibayangkan Hans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Hans menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai mengocok penisnya lagi. Esty yang selesai mengeringkan rambutnya, mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukannya, Hans mendapatkan sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya, dan dia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Hans membayangkan apa Esty mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu. Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Hans ke garis akhir, saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya. Pelan-pelan Hans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah makan malam, mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak kita buka sebotol wine. Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya", kata Esty sambil berjalan ke lemari es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ide yang bagus", jawab Hans memperhatikan Esty membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine. Ketika Esty mengambil gelas di atas rak, atasan putihnya tersingkap ke atas, memberi sebuah pandangan yang bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Hans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Esty. Dengan cepat topik pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Esty sedang mengalami stress belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu", tawar Hans. Esty dengan malas berkata ya dan pelan-pelan mendekat pada Hans dan berbalik pada punggungnya lalu tangan Hans mulai bekerja pada bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh, ini sudah terasa agak baikan", dia merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans tetap memijat bahunya ketika perasaan mendapatkan Esty mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya mengeras. Mata Esty kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati apa yang sedang dilakukan Hans pada bahunya. Pantatnya kini berada di atas penis Hans, membuat Hans ereksi penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, papi sungguh baik".&lt;br /&gt;"Ini keahlianku", jawab Hans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak menghiraukan apa yang Hans lakukan dengan pijatannya yang mulai ‘salah’ itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Hans saat mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Hans. Tapi dengan gerakan malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Hans. Tahu-tahu dia merasa sangat bergairah, dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa segera bercinta dengannya. Hans tahu dia telah mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini mulai terasa nggak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas", ajak Hans .&lt;br /&gt;"Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku nggak mau membuat papi lelah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka memasuki kamar tidur, Hans menyuruhnya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra itu. Apa yang Esty kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang hampir tidak muat di pinggangnya. Esty rebah pada perutnya ketika Hans menempatkan dirinya di atas pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini jadi lebih mudah untukku", kata Hans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk menggosok pinggang dan punggung Esty bagian bawah. Alkohol telah berefek penuh pada Esty ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Johan", dia mulai merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans tidak bisa mempercayainya. Di sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan tubuh Esty. Hans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai melepaskan jeans Esty dengan perlahan. Vagina Esty kini mulai basah saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya. Dengan hati-hati Hans melepas jeansnya dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang pernah Hans bayangkan. Esty menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut Hans .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Johan", dia merintih ketika sekarang Hans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya. Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumnya ke atas tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berhenti", bisik Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sekarang menggerakkan penisnya naik turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang menghalanginya memasuki vaginanya. Hans lebih melebarkan paha Esty, dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan ujung penisnya pada pintu masuknya. Pelan-pelan, di dorongnya masuk sedikit demi sedikit ketika Esty kembali mengeluarkan sebuah rintihan lembut. Sudah sekian lama dia menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan ‘memasuki’ menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya, saat dia melepaskan branya. Hans mencengkeram kedua payudara itu dan menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa Esty kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya, mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap, dan yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans melihat matanya terbuka, maka dia memegang kaki Esty dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk segala miliknya yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh tidak... hentikan... oh... Tuhan... kita nggak boleh... tolong.. ooohhh", Esty berteriak. Payudaranya terguncang seperti sebuah gempa bumi ketika Hans menyetubuhinya layakanya seekor binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hentikan pi... ini nggak benar... oohh Tuhan", Esty berteriak dengan pasrah. Hans melambat, dia menunduk untuk mencium bibir Esty. Lutut Esty kini berada di sebelah kepalanya sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Hans. Sesuatu telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Hans menambah lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya, Esty semakin menekan punggungnya. Hans berguling dan Esty kini berada di atas, ‘menunggangi’ penis Hans .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh Tuhan, papi merobekku", kata Esty ketika dia meningkat gerakannya.&lt;br /&gt;"Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu", jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah vagina yang paling rapat yang pernah Hans ‘kerjai’ setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong jangan keluar di dalam... oohh... papi nggak boleh keluar di dalam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty kini menghempaskan Hans jadi gila. Mereka terus seperti ini sampai Hans merasa dia akan orgasme. Dia mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Esty. Dia kemudian menyuruh Esty untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, punya papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong pi jangan", Esty menghiba berusaha untuk lolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu tidak cukup untuk Hans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Tuhan", Esty menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans mencabut pelan-pelan dan kemudian mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang ketika Hans mengayun dengan irama mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh papi bangsat".&lt;br /&gt;"Aku tahu kamu suka ini", jawab Hans, dia mempercepat gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang ‘dikerjai’ pantatnya oleh mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih keras", Esty berteriak, Hans memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu. Ditariknya bahu Esty ke atas mendekat dengannya dan menghisapi lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan keluar", teriak Hans.&lt;br /&gt;"Tunggu aku ", jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans menggunakan salah satu tangannya untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan mulai mengerjai vaginanya. Esty menjerit dengan perasaan nikmat sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Esty menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Hans mengangkat telepon, dengan satu tangan masih menggosok vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo... Johan... ya dia menyambutku dengan sangat baik... ya aku akan memanggilnya, tunggu", katanya saat dia menutup gagang telpon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan orgasme istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bisa merasakan jarinya dilumuri cairan Esty. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan benihnya di dalam pantat Esty. Semprotan demi semprotan menembak di dalam pantat rapat Esty. Mereka berdua roboh ke tempat tidur, Hans di atas punggung Esty. Penisnya masih di dalam, satu tangan masih menggosok pelan vagina Esty yang terasa sakit, tangan yang lain meremas ringan payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo Johan", kata Esty mengangkat telepon. "Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan... jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat... aku mencintaimu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu. Mereka berbaring di sana selama lima menitan, Hans masih di atas, nafas keduanya berangsur reda. Hans mencabut jarinya yang berlumuran sperma dan menaruhnya ke mulut Esty. Dia menghisapnya hingga kering, dan kemudian bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pikir lebih baik papi keluar", dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi itu. Rambutnya berantakan. Hans bisa lihat cairannya yang pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-3769929448865452579?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3769929448865452579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3769929448865452579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/menantuku.html' title='Menantuku'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1152795209997734078</id><published>2007-11-05T11:45:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T12:03:30.630-08:00</updated><title type='text'>Para Tukang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku adalah anak kuliahan yang memiliki gairah seksualitas yang tinggi. Semenjak keperawananku direbut oleh kekasihku ketika SMA, aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Bahkan aku membayar orang untuk memuaskan nafsu seksualku ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku suka membayangkan bagaimana rasanya bermain seks dengan para buruh kasar, pasti akan sangat menyenangkan, karena mereka memiliki tenaga yang besar dibandingkan anak-anak orang kaya yang tidak pernah mengerjakan apa-apa. Ada seorang tukang air yang selalu mengangkut air minum untuk keluargaku. Orangnya sangat gagah, dan aku selalu menerka-nerka berapa "ukurannya" setiap kali dia mengantarkan minuman ke rumahku. Sehingga aku memikirkan sedikit rencana jahat untuk "ngerjain" dia. Wahyu selalu datang jam 10:00 setiap hari selasa, hari itu aku sudah siap-siap dengan rencanaku. Aku sudah menunggunya hanya dengan menggunakan handuk yang menutup tubuhku dari ketiak sampai pantat bawah, benar-benar minim. Dan aku juga tidak menggunakan apa-apa lagi di dalamnya. Dia pasti akan tergoda melihat pahaku yang putih mulus ini dengan dadaku yang berukuran 34B. Pas jam 10:00, ada orang datang dengan mengetuk pintu, aku berteriak tunggu berpura-pura bahwa aku sedang mandi. Dengan tergesa-gesa dan handuk yang agak acak-acakan aku membukakan pintu untuk Wahyu. Ternyata yang datang bukan Wahyu, tetapi tukang listrik, aku sedikit kaget, wah... ada perubahan rencana nih, pikirku, tapi tak apalah, yang ini juga sangatlah gagah. Orang itu sedikit kaget karena aku hanya menggunakan handuk yang sangat minim. Tetapi aku tahu kalau "ade"-nya yang di dalam agak bangun melihat keadaanku. Aku bersikap sangat biasa sambil minta maaf padanya karena lama membuka pintunya. Orang itu terlihat agak gugup, dan aku yakin dia pasti sangat ingin melihat di balik handukku ini. Berarti rencana tahap pertamaku berhasil. Aku melakukan rencana tahap keduaku, aku berpura-pura menjatuhkan bon yang dia berikan padaku dan aku mengambilnya dengan posisi membelakangi dia. Aku sangat yakin sekali kalau dia akan melihat pantatku. Dan seperti dugaanku, dia langsung menarik handukku. Aku berpura-pura kaget sambil menutup payudaraku dan kemaluanku. Dia hanya melihatku saja tanpa berkata apa-apa, tapi aku sangat yakin sekali dia sangat ingin menikmati tubuhku ini. Dengan perlahan-lahan kedua tanganku ini diturunkan, sehingga dia bisa menikmati tubuhku ini. Setelah terdiam agak lama, dia tidak bereaksi sama sekali, aku pikir. Wah... harus mulai duluan nih. Tapi ini benar-benar menjadi tantangan buatku. Aku mendekatinya, tangan kananku mengelus-elus "senjatanya" itu dari luar celana dan tangan kiriku memegang lehernya dan mendorong kepalanya ke arah payudaraku. Ketika mulutnya mencapai puncak dari payudaraku, rasanya sangat-sangatlah nikmat. Aku mengerang keenakan, dan tiba-tiba aku ingat kalau pembantuku ada di atas. Dengan bisikan yang sangat menggoda, "Mmmhh... kita pindah... mmmhh... ke kamarku yuk! Ada si bibi di atas... eeeuuuhhh... enak banget," tiba-tiba dia mengangkatku dengan posisi kakiku di pinggangnya dan kepalanya masih menikmati payudaraku. Tiba-tiba pintu terbuka dan Wahyu menongol dari pintu, aku begitu kaget. Hampir saja tukang listik itu menjatuhkan aku. Wahyu masuk perlahan-lahan, sambil tersenyum, dia berkata, "Wah... lagi asyik nih, ikutan boleh nggak?" Aku tersenyum dan kemudian tukang listrik itu berjalan perlahan-lahan takut menabrak tembok dan meja diikuti oleh Wahyu. "Kamarnya dimana, Neng?" tanyanya padaku dengan mulutnya yang masih di payudaraku, rasanya benar-benar menggetarkan hatiku. "Itu... aahhh... di situ... di sebelah kiri... ahhhh...!" aku benar-benar sangat menikmatinya dan sambil membayangkan dua orang yang akan memuaskanku. Setelah meletakkanku di atas tempat tidur, Wahyu langsung menutup dan mengunci pintunya. Kupasang kaset keras-keras supaya si bibi tidak mendengar yang sedang terjadi di dalam kamarku. Kemudian Wahyu dan tukang listrik itu langsung membuka bajunya dan celananya masing-masing, lalu terlihatlah batang kesukaanku yang sudah berdiri keras, batang kemaluan mereka sangatlah besar dan panjang, aku baru melihat kemaluan sebesar itu sampai terbengong-bengong melihatnya. Secara tiba-tiba Wahyu langsung menyerbu kemaluanku yang sedari tadi sudah basah. Dia langsung melumatnya dalam-dalam di dalam mulutnya, aku berdesis keenakan, "Aaahhh... enaaakkk!" Lalu tukang listrik itu melumat payudaraku dan tangannya yang satu lagi meremas-remas payudaraku yang lain. Aku berteriak-teriak kecil menahan keenakan yang mereka perlakukan padaku. "Wahyu... aku tak tahan lagi, masukin sekarang juga Yu!" tapi Wahyu tetap ngotot menikmati kemaluanku. Kemuadian tiba-tiba ada bunyi gedoran di jendela kamarku, ternyata di situ ada tukang bangunan yang sedang membangun rumahku. Kemuadian dia teriak, "Wey... ikutan donk!" Wahyu langsung memberi tanda agar si tukang bangunan masuk ke dalam. Si tukang listrik membukakan kunci pintu dan masuklah si tukang bangunan. Sambil tertawa, "Wah... sudah lama saya ingin menikmati tubuhnya si Neng ini, akhirnya kesampean juga." Kemudian dia membuka baju dan kulihat batangnya lebih besar dari Wahyu dan tukang listrik. Aku langsung berfikir, Wah.. bisa lemas nih aku melayani ketiga batang yang besar-besar ini. Wahyu mengambil posisi di payudaraku yang kiri dan tukang listrik di sebelah kanan dan tukang bangunan di kemaluanku. Kemudian ketiga jagoan ini memulai aksinya. Tukang bangunan itu sangatlah ahli dalam memainkan lidahnya, dia terus menyedot-nyedot kemaluanku kemudian menggigitnya dan memasukkan lidahnya ke lubang kemaluanku. Wahyu melumat-lumatkan puncak payudaraku dan kadang-kadang menggigitnya. Dan si tukang listrik juga melakukan hal yang sama, tetapi dia lebih ganas, dia memasukkan seluruh payudaraku ke dalam mulutnya. Aku tidak tahan menghadapi mereka semua, sangat enak sekali. "Aaahhhh.. nggak tahan nih... mau keluar... ahhh..." akhirnya aku mencapai orgasme yang sempat tertunda tadi. Wahyu dan kedua tukang itu berebut menjilati cairan yang keluar dari lubang kemaluanku, benar-benar membuatku melayang di udara. Dengan setengah merem-melek aku tak sadar kalau posisinya telah berubah sekarang. Wahyu tiduran dan mukaku tepat di atas batangnya yang besar itu, si tukang bangunan di belakangku sudah siap memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku dan si tukang listrik siap menikmati payudaraku yang terjuntai ke bawah. Permainan pun dimulai, si tukang bangunan mulai menggenjot di belakangku, aku merasakan setiap gesekannya sangatlah nikmat karena batangnya yang besar itu. Sementara mulutku menikmati batangnya si Wahyu yang sedari sudah tak sabar ingin kucoba. Dan tukang listrik itu sangat menikmati payudaraku. "Aaahhh... ahhhh..." Wahyu dan tukang bangunan mengerang keenakan. "Mmmhhhh... nyam-nyam..." si tukang listrik menikmati setiap jengkal payudaraku. Dan aku, aku sampai tidak bisa berkata apa-apa saking enaknya. Tiba-tiba genjotannya tukang bangunan makin cepat, aku rasa dia sudah mau keluar tapi aku masih belum mau keluar, dan kemudian... "Crooot... croott..." diikuti erangan keenakan dari si tukang bangunan. "Aaahhh...!" kemudian dia mencabut batangnya dari lubangku, aku melepas emutanku pada batangnya Wahyu dan dengan sedikit berteriak kepada tukang listrik, "Ayo cepat gantiin dia!" Si tukang listrik langsung menggantikan posisinya tukang bangunan, dan si tukang bangunan tergeletak di samping, dan batangnya sekarang sudah terlihat layu. Kemudian tak lama Wahyu pun orgasme, tapi aku terus menyedot-nyedot batangnya. Ternyata sodokannya tukang listrik lebih mantap dari tukang bangunan, tak lama kemudian aku orgasme yang kedua. Melihat itu bukannya berhenti, dia terus menggenjotnya sampai akhirnya dia pun orgasme. Wahyu yang sudah mencapai orgasme tidak mau kalah dengan kedua tukang itu, dia langsung menyodokkan batangnya ke dalam lubang kemaluanku dan memaksaku untuk melayani nafsunya itu. Dia masih terus menggenjot padahal aku sudah sangat capai dan hampir mencapai orgasme lagi. Kedua tukang itu sekarang menonton kami sambil berteriak-teriak, "Ayo Yu... terus... terus!" aku benar-benar capai. Dan secara tiba-tiba mereka bertiga menyerangku dan mulai menjilati, mengulum, menggigit seluruh tubuhku, aku tak tahan lagi dan akhirnya orgasme lagi dan begitu juga Wahyu. Dan mereka bertiga langsung menjilati kemaluanku yang sudah banyak cairan baik itu sperma dan cairan dari kemaluanku. Kemudian secara serentak mereka main kasar kepada tubuhku, si tukang bangunan duduk di perutku dan meremas-remas payudaraku, si tukang listrik menggigit-gigit kemaluanku dan memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Dan Wahyu lagi-lagi mita agar batangnya dikocok olehku. Mereka memaksaku, tapi aku sangat menyukai gerakan brutal ini sampai akhirnya aku orgasme. Benar-benar pengalaman yang memuaskan. Mereka bertiga sudah akan memulai lagi tetapi dengan sangat terpaksa aku memberhentikannya, "Jangan sekarang lagi donk! aku dah capek ngelayanin kalian bertiga. Besok kita main lagi yah." Akhirnya mereka setuju dan masing-masing mengenakan pakaiannya lagi dan pamit pulang sambil mencium kemaluanku. Aduh, aku benar-benar puas dan aku menunggu besok datang, tapi sekarang aku mau tidur dulu buat persiapan besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1152795209997734078?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1152795209997734078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1152795209997734078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/para-tukang.html' title='Para Tukang'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-5685239609116641730</id><published>2007-11-05T11:42:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T12:04:04.092-08:00</updated><title type='text'>Oh Dewi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenalkan, namaku Pratama. Aku adalah seorang mahasiwa tingkat 3 di sebuah perguruan negeri tinggi di Kota Bandung. Postur tubuhku biasa saja, tinggi 173 cm dengan berat 62 kg, namun karena aku ramah, lumayan pintar, serta lumayan kaya maka aku cukup terkenal di kalangan adik maupun kakak kelas jurusanku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku tergesa – gesa memarkir Honda Accordku di parkiran kampus. Setengah berlari aku menuju ke gedung kuliah yang berada sekitar 400 m dari parkiran tersebut, sambil mataku melirik ke jam tangan Albaku yang telah menunjukkan pukul 8.06. Shit..! Kalau saja tadi malam aku tidak nekat menonton pertandingan bola tim favoritku (Chelsea) sampai pukul 2 larut malam pasti aku tidak akan terlambat seperti ini.&lt;br /&gt;“Kalau saja pagi ini bukan Pak Noval yang mengajar, tentu saja aku masih berjalan santai menuju ruang kuliah. Ya, Pak Noel yang berusia sekitar 40 tahunan memang sangat keras dalam urusan disiplin, terlambat sepuluh menit saja pastilah pintu ruangan kuliah akan dikuncinya. Kesempatan “titip absen” pun nyaris tidak ada karena ia hampir selalu mengecek daftar peserta hadir. Parahnya lagi, kehadiran minimal 90% adalah salah satu prasyarat untuk dapat lulus dari mata kuliah ajarannya.”&lt;br /&gt;Tersentak dari lamunanku, ternyata tanpa sadar aku sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitanku terhenti sampai disini. Ruanganku berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi kutunggu tak kunjung terbuka.&lt;br /&gt;Mendadak, dari belakang terdengar suara merdu menyapaku. “Hai Pratama..!” Akupun menoleh, ternyata yang menyapaku adalah adik angkatanku yang bernama Dewi. “Hai juga” jawabku sambil lalu karena masih dalam keadaan panik. “Kerah baju kamu terlipat tuh” kata Dewi. Sadar, aku lalu membenarkan posisi kerah kemeja putihku serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeansku. “Udah, udah rapi kok. Hmm, pasti kamu buru – buru ya?” kata Dewi lagi. “Iya nih, biasa Pak Noel” jawabku. “Mmh” Dewi hanya menggumam.&lt;br /&gt;Setelah pintu lift terbuka akupun masuk ke dalam lift. Ternyata Dewi juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mataku iseng memandangi tubuh Dewi. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Tubuh putih mulusnya setinggi 167 cm itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memperlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. Sepertinya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin 34D. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak merupakan merk Kenzo Intense memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hmm pikirku, pantas saja Dewi sangat diincar oleh seluruh cowo di jurusanku, karena selain ia masih single tubuhnya juga sangat proporsional. Lebih daripada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang. Namun jujur diriku hanya menganggap Dewi sebagai teman belaka. Mungkin hal itu dikarenakan aku baru saja putus dengan pacarku dengan cara yang kurang baik, sehingga aku masih trauma untuk mencari pacar baru.&lt;br /&gt;Tiba – tiba pintu lift membuka di lantai 4. Dewi turun sambil menyunggingkan senyumnya kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup aku sempat melihat Dewi masuk ke sebuah ruang studio di lantai 4 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiwa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong. Aku juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, abisnya sofa disana empuk dan enak sih. Hehehe…&lt;br /&gt;Setelah itu lift pun tertutup dan membawaku ke lantai 6, tempat ruang kuliahku berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliahku seharusnya berada, aku tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi “kuliah Pak Noel ditunda sampai jam 12. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemen”&lt;br /&gt;Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan aku malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, aku tiba – tiba saja teringat akan Dewi. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 4 sambil berharap kalau Dewi masih ada disana.&lt;br /&gt;Sesampainya di lantai 4 ruang studio, aku tidak tahu apa Dewi masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. Akupun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Dewi yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arahku, tersenyum dan bertanya “Hai Pratama, ngga jadi kuliah?” “Kuliahnya diundur” jawabku singkat. Iapun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 4X5 meter itu kosong, hanya ada suaraku, suara Dewi, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar aku mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan aja dengan Dewi. Maklum, namanya juga cowo, huehehe…&lt;br /&gt;Penasaran, aku segera mendekati Dewi. “Hi Dewi, lagi ngapain sendirian disini?” “Oh, ini lagi ngerjain tugas. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.” “Eh, kebetulan ada Pratama, udah pernah ngambil kuliah ini kan?” Tanya Dewi sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya. Aku mengangguk singkat. “Bisa ajarin Dewi ngga caranya, Dewi dari tadi gak ketemu cara ngerjainnya nih?” pinta Dewi. Akupun segera mengambil tempat duduk disebelahnya, sambil mengajarinya cara pengerjaan tugas tersebut. Daripada aku bengong, pikirku. Mulanya saat kuajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.&lt;br /&gt;“Wah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya Pratama, udah ngerepotin kamu.” Kata Dewi ramah. Iapun menutup laptop Toshibanya dan mengemasnya. “Apa sih yang ngga buat cewe tercantik di jurusan ini” kataku sekedar iseng menggoda. Dewi pun malu bercampur gemas mendengar perkataanku, dan secara tiba – tiba ia berdiri sambil berusaha menggelitiki pinggangku. Aku yang refleksnya memang sudah terlatih dari olahraga karate yang kutekuni selama ini pun dapat menghindar, dan secara tidak sengaja tubuhnya malah kehilangan keseimbangan serta pahanya mendarat menduduki pahaku yang masih duduk. Secara tidak sengaja tangan kanannya yang tadinya ingin menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku pun bangun. “Iih,Pratama kok itunya tegang sih?” kata Dewi sambil membenarkan posisi tangannya. “Sori ya” kataku lirih. Kami pun jadi salah tingkah, selama beberapa saat kami hanya saling bertatapan mata sambil ia tetap duduk di pangkuanku.&lt;br /&gt;Melihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, serta matanya yang bulat indah membuatku benar – benar menyadari kecantikannya. Ia pun hanya terus menatap dan tersenyum kearahku. Entah siapa yang memulai, tiba – tiba kami sudah saling berciuman mulut. Ternyata ia seorang pencium yang hebat, aku yang sudah berpengalamanpun dibuatnya kewalahan. Harum tubuhnya makin membuatku horny dan membuatku ingin menyetubuhinya.&lt;br /&gt;Seolah mengetahui keinginanku, Dewi pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas pahaku dengan posisi berhadapan, daerah vaginanya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan penisku yang juga masih berada didalam celanaku dengan nikmatnya. Bagian dadanya pun seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sambil tanganku melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dadaku yang bidang. “mmhh.. mmmhh..” hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.&lt;br /&gt;Puas berciuman, akupun mengangkat tubuh Dewi sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas – remas gundukan payudaranya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tanganku. “Aaah,Pratama…” Erangannya yang manja makin membuatku bergairah. Kubuka kaos serta branya sehingga Dewi pun sekarang telanjang dada. Akupun terbelalak melihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang. “Pratama…” katanya sambil menekan kepalaku kearah payudaranya. Akupun tidak menyia – nyiakan kesempatan baik itu. Tangankupun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum putting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Dewi menggelinjang. “Aaahh… SShhh…” aku mendongak keatas dan melihat Dewi sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan “pekerjaanku” di dadanya.&lt;br /&gt;Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu. Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan vaginanya yang begitu gemuk dari pandanganku. Akupun mendekatkan hidungku ke arah vaginanya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Dewi sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya Dewi.&lt;br /&gt;Akupun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Dewi memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg – degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman pertamaku. Dengan ragu – ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut. “Mmhhh… Ooggghh…” Dewi mengerang menikmati jilatanku. Ternyata rasa cairan kewanitaan Dewi gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.&lt;br /&gt;“Buka aja celana dalamku” kata Dewi. Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Dewi benar – benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar – benar pemandangan yang indah. Vaginanya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap vaginanya, menjilati bibir vaginanya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Dewi terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini. “Emmh, please don’t stop” kata Dewi dengan mata terpejam. "OOuucchh..." Rintih Dewi di telingaku sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya."Ssshhh...Ahhh", balasku merasakan nikmatnya vagina Dewi yang makin basah. Sambil terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati vaginanya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian, “Uuuhhh.. Dewi mau ke… lu… ar…” seiring erangannya vaginanya pun tiba – tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia – nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis. “Slruuppp…” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Dewi terdengar terengah – engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.&lt;br /&gt;“Mmhh,Pratama… makasih ya kamu udah bikin Dewi keluar.” “kamu malah belum buka baju sama sekali, curang” kata Dewi. “Gantian sini.” Setelah berkata lalu Dewi mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Iapun kaget melihat batang penisku yang berukuran cukup “wah.” Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Dewi yang lentik. “Pratama, punya kamu gede banget…” setelah berkata maka Dewi langsung mengulum kepala penisku. Rasanya sungguh nikmat sekali. “mmh Dewi kamu nikmat banget…” kataku. Iapun menjelajahi seluruh penjuru penisku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah penisku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku. “aah… uuhh… ” hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung penisku dan berusaha memasukkan penisku sepanjang – panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang penisku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan penisku sebanyak 5 – 6 kali.&lt;br /&gt;Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing penisku memasuki liang kemaluannya. “Pratama sayang, aku masukin ya..” kata Dewi bergairah. Lalu iapun menduduki penisku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama – lama seluruh batang penisku terbenam ke dalam liang vaginanya. Aah, jadi ini yang mereka katakana kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Iapun terus menaik – turunkan vaginanya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang. “Pak.. pak… pak.. sruut.. srutt..” bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.&lt;br /&gt;“Dewi, ganti posisi dong” kataku. Lalu Dewi berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang vaginanya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan penisku dari belakang. “aahh, pelan – pelan sayang” kata Dewi. Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang – guncang dengan indahnya. “Aaahhkk...Pratama...Ooucchhhkgg..Ermmmhhh" suara Dewi yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan penisku. “Ooohh...yeahh ! fu*k me like that...uuhh...i’m your bitch now !” erang Dewi liar.&lt;br /&gt;"Aduhh.. aahh.. gila Dewi.. enak banget!" ceracauku sambil merem-melek. "Oohh.. terus Pratama.. kocok terus" Dewi terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. "Yak.. dikit lagi.. aahh..Pratama.. udah mau" Dewi mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks. "Dewi.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh" geramku dengan mempercepat gerakan.&lt;br /&gt;"Enak nggak Pratama?" tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku. "Gila.. enak banget Dewi.. terusin sayang, yang kencang.." Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas – remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.&lt;br /&gt;“uuhh.. sshh.. Dewi, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?” tanyaku. “uuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barengan” kata Dewi. Makin lama goyangan penisku makin dalam dan makin cepat.. "Masukin yang dalem dooo...ngg...", pintanya. Akupun menambah kedalaman tusukan penisku, sampai pada beberapa saat kemudian. “aahh…Pratama.. kita keluarin sekarang…” Dewi berkata sambil tiba – tiba cekikan vaginanya pada penisku terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung sperma pada penisku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang vaginanya. Rasa hangat memenuhi penisku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Dewi dengan eratnya dari belakang.&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Aku menyodorkan penisku ke wajah Dewi dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang penisku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.&lt;br /&gt;"Dewi.. mau keluar nih.." kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Dewi. "Bentar, tahan dulu Pratama.."jawabnya sambil melepaskan kocokannya. "Loh kok ngga dilanjutin?" tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku, Dewi mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.&lt;br /&gt;Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Penisku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Dewi pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri. “Gila Dewi, kamu ternyata liar banget..” Dewi hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal.&lt;br /&gt;Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. "Enak nggak Pratama?" tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku. "Gila.. Bukan enak lagi.. Tapi enak banget Sayang.. Terus kocok yang kencang.." Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu. "Ahh.. ohh.." desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, “aah… Dewi aku mau keluar lagi…” setelah berkata begitu akupun menyemprotkan beberapa tetes spermaku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Dewi. Iapun lalu menciumku sehingga aku merasakan spermaku sendiri.&lt;br /&gt;Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Dewi ke kostannya menggunakan mobilku. Dialam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan – kapan. Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kostanku yang berada di daerah Dago. Soal kuliahnya Pak Noel, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Dewi.&lt;br /&gt;FYI: cerita ini hanyalah fiktif belaka, segala kesamaan yang terjadi, baik tokoh maupun alur ceritanya murni merupakan kebetulan belaka.&lt;br /&gt;Eh, gimana menurut kalian? Kasih comment dong? Moderator juga kasih comment yah, please? Kayaknya prolognya kepanjangan sih. Kalau menurut kalian bagus aku akan bikin lagi sekuelnya. Janji. Sori juga kalau ternyata menurut kalian jelek, maklum postingan perdana nich. Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-5685239609116641730?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5685239609116641730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5685239609116641730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/oh-dewi.html' title='Oh Dewi'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-5427463933029007833</id><published>2007-11-05T11:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T12:04:39.678-08:00</updated><title type='text'>Tante Mirna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;N&lt;/span&gt;amaku Rendi, saat kejadian ini usiaku baru 17 tahun. Kisah ini berawal 2tahun lalu, karena kepindahan orangtuaku ke Bandung . Aku yang masih SMU juga harus ikut pindah ke Bandung . Sebagai warga baru seperti biasanya kami sekeluarga memperkenalkan diri dulu kepada tetangga-tetangga didaerah rumahku yang baru.&lt;br /&gt;Ada satu tetangga yang membuat aku sangat tertarik, selain ramah dan baik aku juga terangsang dengan wajahnya yang cantik meskipun dari segi body tante Mirna ini kurang menarik. Tante Mirna berkulit putih, berwajah cantik dengan rambut sebahu dan berumur 35 tahun. Tante Mirna baru mempunyai anak satu, dan masih TK.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perkenalan itu ibu dan ayahku terbilang dekat dengan om dan tante Mirna ( mirdad adalah nama suaminya ). Karena kedua orangtuaku bekerja aku, sering sekali aku dikirimkan makanan-makanan dari tante Mirna, dan kupikir ini kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, didaerahku hujan lebat. Tiba-tiba tante Mirna datang dengan keadaan basah kuyup, memberitahukan bahwa rumahnya bocor dan aku disuruhnya melihat dan membetulkan genteng rumahnya. Aku yang sedang dalam gairah tinggi melihat ini adalah kesempatan besar. Aku masuk ke dalam rumah tante Mirna, dan baru saja masuk aku langsung memeluk tante Mirna. Tante Mirna berontak tapi aku dengan kuat terus memeluknya dari belakang, kudorong tante Mirna ke sofa dan kulucuti pakaiannya satu persatu. " Rendi, kamu mau apa jangan macam-macam Rendi!"bentak tante Mirna, tapi aku yang sudah nafsu terus saja melucuti pakaian tante yang basah. Dengan cepat aku melucuti pakaian tante, dan terpampang jelas tubuhnya yang indah. Kuhisap langsung memeknya yang merah dan minta disuntik dengan segera." Rendi, mmmmhhhhh, geli Rendi. Jangan diteruskan Rendi, mmmmmhhhh" keluhnya dan aku masih tetap saja kujilati memek tante Mirna. 5 menit aku jilati memek tante Mirna, setelah itu kupaksa tante Mirna melayani kontolku dengan mulutnya sampai tante Mirna muntah-muntah karena sepertinya memang baru sekali ini saja. Dan 5 menit berikutnya aku paksa kembali tante Mirna melayani kontolku dengan memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ah, tante memeknya keset banget sih. Kan susah masukinnya !", Kontolku baru masuk seperempat.&lt;br /&gt;" Rendi jangan Rendi, mmmmmmhhhhhhhhhhhhh ."&lt;br /&gt;" Pokoknya tante harus melayani saya sampai sore "&lt;br /&gt;" Jangan Rendi, aduhhhh sakit Rendi" kontolku sudah tenggelam di kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;kupercepat tempo sodokanku, dan tante Mirna menggeliat dengan keringatnya yang menetes.&lt;br /&gt;" Ayo tante, mmhhhhhh"&lt;br /&gt;"Mmmmmmmmmhhhhhhhhh hhhhh, reeeeeeiiii, reeeeeeeeeeeei" dihempaskannya tubuhku, kontolku mengayun saja setelah lepas dari memek tante Mirna. Tante Mirna bangun dan berdiri dalam keadaan bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rendi kamu harus tanggung jawab, tante gak terima kalo kamu yang main diatas"&lt;br /&gt;Dipegangnya kontolku, dimasukkannya lagi ke dalam memeknya. Tante Mirna merem melek menahan kenikmatan kontolku yang lumayan besar.&lt;br /&gt;" Rendi kontol kamu ueeenak banget sih, tante genjot yah! "&lt;br /&gt;" Iya tante, yang cepet ya tante "&lt;br /&gt;Tante Mirna terus menggenjot kontolku, dan sekarang aku yang merem melek.&lt;br /&gt;" uhhh. Rendi sayang tante mau keluar "&lt;br /&gt;" keluarin aja tante "&lt;br /&gt;" gantian dong sayang, tante capek nih "&lt;br /&gt;" tante nunging yah, biar sama-sama enak". Tante Mirna menurut yang aku bilang.&lt;br /&gt;Kucari lubang anus tante Mirna, karena aku belum sama sekali merasa mau keluar. Kucoba tusukkan kontolku ke anusnya dengan pelan,&lt;br /&gt;" Rendi jangan disitu sayang, tante belum pernah sayang"&lt;br /&gt;" tenang aja tante dijamin enak deh!"&lt;br /&gt;" Rendi sakit Rendi, ahhhhhhhhhhhhhhhhhh hh. sakit Rendi udah Rendi" jerit tante Mirna setelah kontolku sudah masuk setengah anus tante Mirna.&lt;br /&gt;" enakkan tan, kontolku"&lt;br /&gt;" heeh enak banget, tapi jangan cepet2 yah Rendi "&lt;br /&gt;lima menitsudah kusodok lubang anus tante Mirna, tiba-tiba terdengar suara mobil jemputan anak tante mirna sudah kembali dari sekolahnya. Aku yang belum keluar mempercepat sodokanku sedang tante Mirna sudah 2 kali.&lt;br /&gt;"sayang udahan dulu yah!,dona udah pulang tuh!". tante Mirna melepaskan kontolku yang masih tegang.&lt;br /&gt;"tan, saya belum keluarnih"&lt;br /&gt;"masak sih Rendi,kuat amat sih,. Ya udah tunggu tante dikamar nanti tante nyusul."&lt;br /&gt;" gak mau ah" kutarik lagi tante mirsa dan sekarang memeknya yang kujadikan sasaran keberanganku.&lt;br /&gt;" ahhhhhhhhhhhh. terus sayang.terus. jangan dilepasin dulu ya".&lt;br /&gt;tiba-tiba donna anak tante mirsa membuka pintu.&lt;br /&gt;"mama, eh mama lagi ngapain sama om Rendi".donna yang ketawa melihatku dengan mamanya dalam keadaan ngentot.&lt;br /&gt;"dona kekamar dulu ya, ganti baju dulu ya.mama lagi main dulu sama om Rendi"&lt;br /&gt;"iya sana dona masuk dulu, ntar om Rendi beliin coklat deh"&lt;br /&gt;donna yang belum tahu apa-apa langsung lari kekamar dengan senangnya karena aku janji belikan cokelat.&lt;br /&gt;"terusin lagi dong Rendi, tanggung nih"&lt;br /&gt;kuteruskan lagi permainanku, sekitar sepuluh menit kemudian aku merasakan ada yang mau keluar dari kontolku.&lt;br /&gt;"tante, Rendi mau keluar nih. mo bareng gak?"&lt;br /&gt;"mmmmmmmmhhhhhhhhhh hhhhhh, terusin aja sayang kontol kamu enak banget sih, "ante juga mau keluar nih. mmmmmmmmmmhhhhhhhhh hhh"&lt;br /&gt;"tante Mirna mmmmmmmmhhhhhhhhhhh hhh enak banget tante"&lt;br /&gt;tak lama kemudian dikontolku terasa ada rasa hangat yang luar biasa.&lt;br /&gt;"tante juga keluar Rendi, kontol kamu enak banget ya!"&lt;br /&gt;"memek tante juga luar biasa"&lt;br /&gt;aku memeluk tante Mirna dengan erat sambil tiduran disebelahnya tanpa melepas kontolku didalam memek tante Mirna.&lt;br /&gt;"Rendi kamu udah merawanin 2lubang tante.kontol kamu tuh yang baru pertama kali ngerasain pantat sama mulu tante.ternyata kamu hebat banget deh"&lt;br /&gt;"tante, kapan-kapan boleh minta lagi ya!"&lt;br /&gt;"diatur ajalah,yang penting waktunya enak"&lt;br /&gt;"makasih ya tante"&lt;br /&gt;aku dan tante Mirna berciuman sebelum pulang. dan keesokan paginya kami melakukan lagi, dan terus melakukan setelah dona dan om Mirna berangkat.kadang kalo ortuku mudik atau menengok kakakku yang kuliah dijakarta, tante Mirna datang kerumahku walaupun om Mirna ada dirumah. dengan alasan mengantar makanan, kami sempat melakukan walau kilat saja, tapi aku puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini terus kulakukan sampai pada saat tante Mirna hamil, dan menurutnya itu adalah benihku. aku sempat melihat anak pertamaku, sebelum aku harus kuliah di jakarta menyusul kakakku disana. tapi kalo aku pulang ke Bandung, aku masih melakukannya dengan tante mirsa. mungkin aku jatuh cinta pada memek tante mirsa, dan sepertinya aku mengidap odipus complex. Karena di jakarta pun aku juga sering melakukannuya dengan tante-tante sebaya tante Mirna walaupun tak seenak memek tante Mirna tak apalah untuk selingan aja kok.&lt;br /&gt;tapi tetap saja kontolku buat memek tante Mirna. love u tante Mirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-5427463933029007833?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5427463933029007833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5427463933029007833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/tante-mirna.html' title='Tante Mirna'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-6797983849724612253</id><published>2007-11-01T12:00:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T12:22:14.009-07:00</updated><title type='text'>Antara Jogja Jakarta</title><content type='html'>Sebuah kisah nyata yang terjadi pada pertengahan tahun 2001, diawal musim kemarau yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat kisah ini terjadi aku masih berusia 19 tahun. Pada pertengahan tahun 2001 aku menadapat telpon dari keluarga agar segera datang ke Jakarta Jawa Barat, dikarenakan adanya acara arisan keluarga besarku. Sebenarnya aku kurang begitu tertarik dengan acara arisan keluarga yang terasa amat menjemukan, karena aku lebih tertarik pada world IT, yang memang pada tahun itu demam internet di Jogja benar-benar mencapai puncaknya dengan munculnya banyak warung internet laksana jamur di musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, aku segera memesan tiket bus malam jurusan jakarta yaitu bus “SA”, karena aku sudah mengenal salah satu stafnya sehingga mudah bagiku untuk mendapatkan tempat duduk yang kuinginkan. Maka keesokan harinya aku berangkat dari terminal Umbulharjo yang kini sudah rata dengan tanah. Ternyata penumpang sore itu teramat sepi hanya beberapa orang saja, praktis kami bebas meilih tempat duduk sesuai yang kami inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam 17:00 tibalah bis di pool pemberhentian di kantor pusat mereka di Kutoarjo Jawa Tengah. Disini kami cukup lama berhenti karena ada beberapa penumpang baru. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan para penumpang baru itu karena mereka semua para rombongan dari beberapa keluarga. Tanpa sengaja perhatianku terarah pada seorang gadis yang langsing tinggi badan 160 an rambut sepunggung kult sawo matang. Ternyata dia berangkat bersama kakaknya yang telah bersuami. Gadis itu duduk di bangku tengah kalo tidak salah seat 11-12 dia duduk sendiri sementara kakaknya duduk di seat 7-8 tepat didepannya. Dikarenakan para penumpang baru banyak para lanjut usia maka munculnya jiwa sosialku untuk memberikan tempat dudukku kepada mereka, kemudian aku pindah agak kebelakang pada seat 15-16 tepat di belakang gadis yang barusan naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam 17:30 bis mulai berangkat kembali meneruskan perjalanan menuju arah matahari terbenam. Hingga akhirnya kota demi kota terlewati jembatan demi jembatan terlalui. Tanpa disadri aku terserang kantuk hingga akhirnya tertidur tapi agak sulit bagiku untuk tidur mengingat jalur selatan Jawa Tengah yang sempit sehinggga rem mendadak sering terjadi hingga membangunkanku. Saat itu pikiranku mulai ngeres dan mulai membayangkan yang tidak tidak. Yang selalu muncul hanyalah bayangan gadis yang duduk di depanku tapi masih masih bisa kutahan karena para penumpang juga masih banyak yang ngobrol ngalor-ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 00:30 saat itu perjalanan sudah mulai memasuki wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat. Saat itulah pikiran kotor dan keinginan untuk berbuat yang “kuinginginkan”. Mulai lah aku menarah tangankan di sandaran tempat gadis itu duduk. Perbuatan iseng itu kulanjutkan dengan mulai menyentuh rambutnya dan membiarkan kepalanya menempel ditanganku. Aku mulai melihat kiri kanan untuk mengamankan situasi, kemudian aku melihat melalui celah antara bangku untuk melihat apakah gadis itu benar-benar tidur. Aku tertarik pada tonjolan pada dadanya, aku memperkirakan dia memakai bra 34A (cuma perkiraan) karena cupnya tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku semakin berani menaruh tanganku di belakang kepalanya agar aku bisa mencuri kesempatan. Tapi berkali-kali dia merasa terganggu dengan tanganku hingga sering memperingatkanku dengan berkata”Mas! Tolong tangannya”. Berkali kali dia memperingatkanku untuk tidak mencoba mengganggunya. Tapi perbuatan itu terus kuulangi mungkin karena sudah jenuh memperingatkanku dia akhirnya cuek saja. Saat inilah ibarat pepatah Dikasih hati minta jantung mulai berlaku. Dengan perlahan aku mencoba mlewatkan tanganku melaui celah antara bangku untuk memegang dadanya yang masih terbungkus. Ahhhh dalam pikiranku hmmm… benar-benar hangat. Saat itu gairah mulai bergejolak dan menyebabkan berbuat lebih nekat kuulangi terus kadang aku mencoba meremasnya perlahan. Tapi aku selalu waspada kalau-kalau dia terbangun. Aku makin gelap mata terus menyentuh dan sesekali meremas dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia terbangun aku dengan cepat menarik tanganku, tapi aku yakin dia pasti mengetahui kalo aku memegang dadanya berkali-kali. Kemudian dia mengambil jaket untuk dijadikan selimut sekaligus tameng untuk menutupi tubuhnya dari tanganku yang kreatif. Aku selalu mengawasi keadaannya dari belakang, ketika jaket penutupnya mulai bergeser aku memulai aksiku berkali-kali hingga “batang kejantanan”ku mulai mengeras. Ketika aku mencoba mengulangi untuk menyentuh dadanya tiba-tiba dia terbangun dengan cepat dan menangkap basah aku, dan berkata “Mas!!!”. Dengan wajah ketus dia memandangiku seolah penuh kebencian. Aku benar-benar sudah habis aku sangat khawatir kalau-kalau dia melapor pada awak bus atau pada kakaknya. Kemudian aku berpura-pura tidur tapi ternyata dia tidak melporkan ku. Aku semakin merasa curiga dan semakin yakin bahwa selama 1/2 jam aku mencoba bergerilya dia sengaja membiarkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat aku mengambil inisiatif untuk duduk di sebelahnya dengan alasan untuk meminta maaf. Kemudian aku berkata “Mbak.! Saya minta maaf atas perbuatan saya tadi, saya benar-benar khilaf”. Dia menjawab “Awas! Jangan coba mengulanginya lagi”. Aku menjadi tenang kemudian aku berusaha memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Walaupun dengan nada yang sedikit ketus akhirnya dia memperkenalkan diri dan kami akhirnya berkenalan ternyata dia bernama Erni berusia 23 tahun, alumni sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi swasta di Jakarta, dia mengatakan kalau dia bekerja di Cikampek. Dan ternyata dia naik bus untuk tujuan Cikampek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu waktu itu jam menunjukkan pukul 02:00 dinihari dan perjalanan sudah berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Aku semakin berfikir taktis bahwa sebentar lagi Cikampek akan menyambut. Aku mulai bertanya “Mbak Erni tadi kenapa kok waktu saya pegang dadanya diam aja? Pura-pura nggak terasa ya?” dia menjawab “Lah orang tidur kan nggak terasa”. Aku kembali barkata “Ah.. yang bener tapi tadi kenapa pake acara ditutupi jaket segala?” Tanpa henti aku berkata lagi “ Udah jujur aja mbak Erni suka kan digituin?”. Akhirnya dia mengaku “Ihh perempaun mana yang nggak suka kalau dipegang cowok. Lesbi kali yang nggak suka”. Dia meneruskan “Kamu sih pegang-pegang dada cewek sembarangan maen nylonong aja, emangnya maling?”. Kemudian aku langsung mengambil tindakan dengan memegang tangannya, dan berkata “Tangan mbak dingin banget sih”, lalu dia menjawab “Iya nih ACnya dingin banget”. Stelah beberapa menit pegangan tangan maka aku beranikan menuntun tangannya untuk memegang “rudal”ku yang amat keras yang masih terbungkus celana. Beberapa kali dia menolak bahkan sempat memelototi aku. Sampai pada usaha terkahir Pucuk dicinta Ulampun Tiba, aku merasa kaget dia mencoba memasukkan tangannya kedalam celanaku aku dengan cepat melepas jaketku dan menutupinya menggunakan jaket. Aku merasa kelojotan tangannya yang halus mengocok-ngocok batang lunak itu dengan perlahan tapi terasa kadang sampai meringis kenikmatan. Kemudian dia menyandarkan kepalanya dipunda kananku. Tapi aku langsung mencium bibir nya kulumat tanpa ampun tapi tetap menjaga agar tidak bersuara. Saat kulumat bibirnya dia bersuara pelan “mmmmmmfffffffffff” menahan nafas. Tangan kananku mulai mencoba memeluknya kemudian tanganku masuk ke dadanya aku langsung meremasnya perlahan dan memelintir puting susunya. Tangannya semakin cepat mengocok-ngocok penisku sampai aku hampir tak mampu menahan suara. Kemudian dia berbisik “Jangan dada melulu donk”. Dengan cepat tanganku ku masukkan ke celananya dan ahhhhhhh aku menemukan semak belukar kemudian menurui bukit dan menemukan danau kenikmatan. Dengan perlahan aku menggesekkan jariku kemudian mencoba memasukkan jari tengahku kedalam liang nan hangat. Aku semakin nekat dengan agak memaksa aku menaikkan sweaternya dan mengeluarkan payudara dari bungkusnya seperti bayi sehat yang haus akan ASI aku hisap putingnya kuat kuat hingga dia mendesah pelan “sssshhh”. Sepertinya gadis 23 tahun itu tak kalah agresif tangannnya semakin cepat mengocok penisku tanpa ampun. Dia berbisik “Aku keluar” tanpa aku memperdulikannya, aku terus menghisap dan menjilati putingnya diselingi gigitan kecil gigi seriku bergantian kiri dan kanan. Memang saat itu aku merasa ada ciran deras yang keluar dari vaginanya itu, cairan hangat dan kental khas aroma kewanitaan. Kemudian dia berbisik “Nanti kalau mau keluar bilangnya biar aku telen semua seperma kamu”. Aku menjawab “Iya, sebentar lagi keluar”. Tiba-tiba kocokannya semakin cepat aku berkata “Hampir keluar say”. Dengan cepat dia mengocok diselingi kuluman nikmat. Dan akhirnya “Sssshhhhhhhhhhhh hmmmfffffff” sambil menahan suaraku. Nafsu angkara itu tertumpahkan dalam bentuk cairan hangat dan kental. Dia menghisapnya dengan kuat dia memaksa agar semua cairan keluar dan menjilati ujungnya. Erni benar-benar menelan seluruh cairan yang keluar dari batang kejantananku. Kemudian aku mengambil Aqua kemasan 600 ml untuk segera diminum oleh Erni manisku. Kami hanya tersenyum kemudian dia mencium pipiku dengan mesra sembari memberikan kartu namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bus berhenti di Cikampek pada jam 03:45, Erni beserta keluarganya turun di Cikampek. Pada saat akan meninggalkan bangku di berbisik “Jangan pernah lupakan Erni Apriliani”. Dia menyebutkan nama yang sama dengan yang tertera pada kartu namanya. Aku hanya tersenyum tanpa bisa berbicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah enam tahun yang lalu kenanangan ini tersimpan tapi aku tak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Erni Apriliani. Mudah-mudahan mbak Erni baca cerita ini.&lt;br /&gt;Masih adakah Erni-Erni yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-6797983849724612253?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6797983849724612253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6797983849724612253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/11/antara-jogja-jakarta.html' title='Antara Jogja Jakarta'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1644848835822117412</id><published>2007-09-07T11:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T11:33:48.115-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Cinta Pertama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;erita ini merupakan pengalaman pribadi yang sangat berkesan sekali bagi saya. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Awalnya bermula pada pertengahan masa-masa kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi ternama di Jakarta. Bukan apa, selama ini entah kenapa selalu timbul rasa penasaran dalam diri saya untuk ingin mengungkapkan semua yang pernah terjadi pada diri saya. Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman sekerja dan menyarankan untuk menceritakan kembali pengalaman saya ini. Terus terang saya baru tahu ada site semacam ini di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah nama saya Fandik tetapi teman-teman biasa memanggil saya andik saja.Saya mengenal sex bisa dikatakan belum terlalu lama juga. Baru mulai semester 3 semasa duduk dibangku kuliah dulu (saat itu usia saya baru 20 tahun). Kali pertama keperjakaan saya terenggut oleh Mbak Dewita (salah seorang karyawati XX di kampus yang sempat menjadi kekasih saya selama kurang lebih 2 tahun). Semenjak itu sex bagi saya seolah sudah menjadi salah satu kebutuhan utama sehari-hari. Saya seolah terjebak dengan keindahan fantasi kenikmatan surgawi yang Mbak Dewita berikan dan ajarkan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan saya dengan Mbak Dewita bisa dibilang lumayan lama juga, dan malahan sampai beberapa kali membuahkan kehamilan. Meski begitu Mbak Dewita selalu saja menggugurkannya. Hal ini terjadi berulang sampai lima kali. Gila memang, tetapi entah kenapa Mbak Dewita justru sangat menikmati hasil perbuatan saya selama hampir kurang lebih 2 tahun hubungan asmara kami itu berlangsung. Saya tidak tahu apakah itu termasuk suatu penyimpangan perilaku atau bukan. Yang jelas setiap kali terjadi kehamilan dengan bangga ia memberitahukannya kepada saya dan mengatakan bahwa saya adalah pria paling hebat yang pernah dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiripun Mbak Dewita adalah segala-galanya. Meski secara fisik ia lebih tua hampir 5 tahun dibanding usiaku, namun itu tidak menjadi beban dan halangan bagi saya untuk mengasihi dan menyayanginya sebagai layaknya seorang kekasih. Kuakui saya bukanlah pria pertama dalam kehidupan cintanya, tetapi itu bukan masalah karena saya sangat mencintainya. Memang meski secara resmi kami belum menikah namun untuk masalah sex kami sudah melakukannya sebulan semenjak pertama kali saling berkenalan. Bercinta dengannya seakan tak pernah bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sex menurutnya adalah suatu keindahan yang setiap saat harus bisa dinikmati. Ibarat nasi, 2 atau 3 hari saja rutinitas intim itu tertunda pasti keesokan harinya Mbak Dewita langsung uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Kalau sudah demikian hanya ada satu obat paling manjur untuk mengatasinya. Meredamnya dengan buaian-buaian kenikmatan surgawi. Menurutnya saya adalah pria yang paling berharga dan paling menggairahkan dalam hidupnya. Saat itu sudah begitu besar keyakinan dan perasaan cinta saya terhadapnya dan kukira begitu pula sebaliknya. Dan tak pernah terlintas sekalipun di benak saya hubungan indah ini akan berakhir begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika, kebetulan saya ada suatu keperluan mendadak yang sangat penting dan harus ke Bandung selama hampir 2 minggu. Mbak Dewita melepas kepergianku dengan berat hati. Ia tak akan sanggup bila terlalu lama berpisah denganku. Saya sendiri sangat memaklumi perasaannya. Bagaimanapun selama ini tiada hari tanpa kami lewati bersama-sama. Saya ingin mengajaknya turut serta namun itu berarti ia harus bolos kerja. Aku tak menginginkan itu jika ia sampai kena teguran lagipula saat itu saya tak meragukan kesetiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataannya tanpa pernah kuduga sama sekali Mbak Dewita melakukan kesalahan besar dan membuat geger karena tertangkap basah sedang melakukan hubungan intim dengan salah seorang dosen senior. Hanya sehari sebelum kedatanganku pulang. Fatalnya mereka melakukannya justru disalah satu ruang kantor ketika pegawai yang lain sedang mengikuti rapat rutin mingguan. Memalukannya lagi kejadian tersebut sempat menjadi tontonan gratis beberapa orang mahasiswa yang kebetulan mengetahui kejadian mesum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya sangat kecewa, malu dan sakit hati dengan perbuatannya tersebut. Saya benar-benar tidak menyangka Mbak Dewita tega menghianati saya dan berselingkuh dengan orang lain. Saya merasa benar-benar telah tertipu dengan perasaan saya sendiri. Padahal saya sangat menyayangi Mbak Dewita sebagaimana layaknya seorang kekasih bahkan calon istri. Saya tidak pernah menghianati cinta saya kepadanya, karenanya ini benar-benar sangat menusuk perasaan. Akhirnya karena terlanjur malu mereka berdua menikah hanya kurang dari 1 minggu semenjak kejadian memalukan tersebut. Mbak Dewita setengah mati berusaha meminta maaf kepadaku atas segala perbuatannya. Dia mengaku khilaf dan meminta pengertianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan berat hati apapun alasannya saya berusaha memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Saya berusaha untuk tak menemuinya lagi. Hal ini terasa terlalu sangat menyakitkan. Namun anehnya, hanya 2 hari menjelang pernikahannya entah kenapa aku merasa begitu cemburu dan ingin sekali berjumpa dengannya. Seolah tahu akan perasaan dan keinginanku, Mbak Dewita ternyata memang telah menunggu kedatanganku. Tidak perlu saya ceritakan detilnya, yang jelas saat itu kembali terulang kemesraan yang biasa kami lakukan sebelum kejadian tak mengenakkan tersebut. Bahkan saking rindunya saya sampai menyebadaninya berulang-ulang kali tanpa henti selama beberapa jam. Apalagi bila melihat kemolekan dan kemulusan kulit tubuhnya yang tergeletak pasrah telanjang bulat diatas ranjang begitu mempesona penglihatanku. Membuat gairah birahiku terus bergelora seakan tak pernah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan demi kenikmatan kami raih dan entah sudah berapa kali kami berdua saling menyemburkan cairan kenikmatan. Rintihan dan erangan kepuasan berulang kali terdengar lembut dari mulut mungilnya yang indah. Kedua bibir merahnya selalu digigitnya gemas setiap kali kuberhasil memberinya seteguk demi seteguk anggur kenikmatan. Seakan pengantin baru hampir sepanjang siang sampai sore kami berdua menikmati indahnya surga dunia meskipun hanya sesaat itu saja. Kusadari sepenuhnya bahwa kemungkinan ini adalah terakhir kalinya kami dapat tidur bersama. Satu yang tak bisa kulupakan hingga detik ini dan sampai kapanpun juga, hasil perbuatan kami tersebut ternyata kembali membuahkan kehamilan. Hanya saja kali ini Mbak Dewita sama sekali tidak menggugurkannya sebagai bukti rasa kasihnya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung suaminya tidak pernah curiga dengan kehadiran anak laki-laki pertama mereka yang mukanya sangat mirip sekali denganku. Saat ini usianya hampir menginjak 4,5 tahun. Hampir 3 minggu kemudian setelah pernikahan mereka kami mulai jarang bertemu apalagi bertatap muka. Di kampus pun Mbak Dewita seakan berusaha menghindar bila melihat kedatanganku. Aku berusaha mengerti atas semua sikapnya karena bagaimanapun juga ia sekarang telah menjadi milik orang lain. Aib yang ia alami dulu seolah menjadi trauma yang memalukan baginya. Hari-hari yang biasanya selalu indah ceria seakan berubah dan berbalik 180 derajat. Saya sering melamun dan dilanda rasa cemburu yang berlebihan. Ingin marah tetapi entah kepada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya saya bukanlah orang pendendam, sehingga sedikitpun tidak ada keinginanku untuk membalas semua perbuatannya. Hanya saja rutinitas sex yang biasanya saya lakukan hampir setiap hari bersama Mbak Dewita seakan terhenti total. Hal ini ternyata sangat mengganggu pikiran dan baru saya sadari setelah sekitar 3 minggu kebiasaan rutin tersebut terhenti. Bagaimanapun saya adalah laki-laki normal yang sebelumnya sudah terbiasa melakukan rutinitas sexual. Saya kira pembaca pasti mengerti apa yang saya maksudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenyataannya, pada mulanya saya sering merasa pusing tanpa sebab, sering sampai tidak bisa tidur dan yang paling menyiksa bila alat kelelakian saya hampir setiap saat sering tegang sendiri. Kalo sudah begitu bisa sehari semalam saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya sendiri bukanlah pria yang senang bermasturbasi atau onani. Sejak dulu bisa dikatakan hanya sekali atau dua kali saja saya melakukannya sebelum mengenal Mbak Dewita. Setelah itu paling sering justru Mbak Dewita sendiri yang melakukannya bila ia sudah tak sanggup lagi melayaniku atau kalau kebetulan dia sedang kepingin melakukan oral sex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum geli dan mengiyakan permintaannya yang sedikit diluar kebiasaan. Karena terus terang saya lebih senang mengeluarkan air mani saya didalam liang vaginanya. Mungkin karena saat itu saya merasa hanya Mbak Dewita saja satu-satunya wanita didalam hidup ini yang paling kucintai, saya mengira hanya Mbak Dewita sajalah yang memiliki (maaf) liang vagina paling nikmat di dunia. Lucu memang. Dan setiap kali bahkan sampai kapanpun saya akan selalu teringat atas segala keindahan dan pesona sexual yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercinta dan bersetubuh dengannya membuatku benar-benar merasa sangat berharga dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Saya merasa bangga dan bahagia bisa melihatnya merintih merasakan kenikmatan yang kuberikan dan membuatnya orgasme hingga berkali-kali. Mbak Dewita sangat menyukai perlakuanku setiap kali aku memuasinya. Mungkin saja dia termasuk golongan wanita yang hiperaktif, karena apapun bentuk kenikmatan yang sedang dirasakannya ketika orgasme selalu diekspresikan seketika itu juga. Menjerit, memekik, menggeliat bahkan kadang sampai menendang-nendang. Bila sedang mencapai puncak Mbak Dewita seakan seperti terkencing-kencing dan begitu hebat tubuhnya menggeliat sambil menyemprotkan cairan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya nggak pernah habis pikir bila Mbak Dewita sedang berada di puncak gejolak birahinya. Bila sedang orgasme cairan yang disemburkannya relatif sangat banyak untuk ukuran wanita seperti dia. Mungkin jauh lebih banyak dibanding semburan air mani pria manapun juga. Dan uniknya Mbak Dewita sanggup melakukannya berkali-kali. Bila sedang terangsang paling tidak saya harus mengulang menyetubuhinya maksimal sebanyak 7-8 kali dalam setiap permainan. Mbak Dewita selalu memuntahkan cairan orgasmenya sampai menyembur keluar dari liang vaginanya. Persis seperti air mancur kecil. Waktu itu saya tidak tahu apa setiap wanita memang begitu adanya bila sedang orgasme. Bila sudah demikian dengan sabar terpaksa saya harus mencabut keluar batang penis saya dari jepitan liang vaginanya agar cairan kewanitaannya bisa tumpah keluar. Kalau tidak, rasanya seperti sedang berada di dalam kolam renang air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan manja Mbak Dewita mencium bibir saya mesra lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluan dan selangkangannya yang basah. "Mmm ..cupp .. kau hebat sekali andik .. mm ..sebentar sayang .. aku ke kamar mandi dulu yaa .. cupp ..", bisiknya penuh kemesraan setelah orgasme pertamanya selesai. Ia tertawa kecil melihat alat kelelakianku yang basah berlendir terkena semburannya. Sementara diatas sprei juga tampak mulai basah tersiram cairan orgasmenya yang luar biasa banyaknya. "Oooh .. kau luar biasa sekali Dewita .. benar-benar membuatku terangsang ..", ujarku takjub. "O yaa .. mm ..sabar sayang .. tunggu saja giliranmu ..mm ..cupp .. aku juga menginginkan semburanmu andik ..hh .. aku ingin benih kita benar-benar menyatu sayang ..mm ..", bisiknya genit. Dua menit kemudian ia kembali lagi keatas ranjang dan menyuruhku langsung menyetubuhinya seperti semula. Demikian berulang-ulang saya selalu melakukannya sampai sebanyak 4-5 kali dan begitu pula ia selalu membersihkan diri ke kamar mandi setiap kali selesai orgasme. Selebihnya biasanya Mbak Dewita hanya bisa terbaring lemas kelelahan diatas kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang sangat sensitif dan mudah sekali orgasme. Setiap kali alat vitalku menekan kedalam dan merangsang dinding vaginanya, paling tidak selama kurang lebih 2-3 menit Mbak Dewita sudah mencapai klimak dan cairan orgasmenya langsung menyemprot keluar mengguyur batang kelelakianku. Karena itu, setiap kali menyetubuhinya harus saya lakukan secara perlahan-lahan. Jangan sampai penis saya menggesek liang vaginanya terlalu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menjelang sore ketika ia kembali mencapai klimak, .. kucabut keluar alat kejantananku yang liat dan panjang dari dalam jepitan liang vaginanya. Mbak Dewita sontak menggeliat dan mengejan sambil mengangkat pinggulnya keatas. Aku segera bergeser sedikit ke sisi kanan tubuhnya. Dan .. Pyuurr .. untuk kelima kalinya cairan orgasmenya menyemprot keluar dari sela-sela celah vaginanya membasahi selangkangannya sendiri dan sebagian sprei tempat tidur. "Fuuhh .. kau keluar lagi Dewita .. nikmat ya sayang ..". "Aaahh ..andik ..nngghh ..uuwwhh ..oohh ..", pekiknya keras setengah tertahan sebelum akhirnya pinggulnya terhempas kembali keatas ranjang.. Sejenak kuusap seluruh batang kejantananku yang basah kuyub dengan selimut, lalu dengan bernafsu kuarahkan kembali kepala penisku yang semakin mengkilat ke liang vagina Mbak Dewita yang mulai menutup rapat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaww ..uuhh .. andik ..", rintihnya nikmat sambil memelukku lagi. Aku kembali mengayuh naik turun menggoyang tubuhnya. Memberikannya kenikmatan. Mbak Dewita hanya menatapku pasrah melihatku kembali menyetubuhinya seakan ingin membuat dirinya orgasme berulang-ulang kali tanpa henti. " Su ..sudah andik .. a ..aku lemas sekali .. aku bisa keluar lagi ..oohh .. ja ..jangan .. jangan sekarang andik .. ooww .. ooww ..uuhh .. yaahh .. ", rintihnya lemas menahan nikmat ketika hanya dalam 2 menit cairan orgasmenya yang panas kembali menyembur dan seolah mendorong kepala penisku keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kali kembali kucabut batang kelelakianku dari jepitan rapat liang vaginanya. Dan .. pyuur .. cairan orgasme Mbak Dewita langsung tumpah keluar membasahi bibir kemaluan dan selangkangannya lagi. Sebagian besar langsung meresap kedalam sprei tempat tidurnya yang semakin basah lembab berair. "Wooww .. kau luar biasa sekali Dewita .. mm .. kau cepat sekali keluar sayang ..", ujarku takjub. "Nngg ..hh ..su ..sudah andik .. aku lemas sekali .. oohh .. ayo dong andik sekarang giliranmu .. beri aku semburanmu sayang ..", rintihnya lemas. "Mmm .. sebentar lagi sayang .. kau menggairahkan sekali Dewita .. hh ..aku ingin melihatmu orgasme sekali lagi ..", ujarku gemas sambil kubenamkan kembali batang penisku yang besar dan panjang ke dalam liang vaginanya. "Nngghh .. ja ..jangan andik ..a..aaku lemas sekali ..aaww ..", rintihnya kecil ketika batang kelelakianku kembali menembus dan membelah liang vaginanya sampai menekan peranakannya. " Ooohh Dewita .. ahh .. nikmat sekali sayang ..", erangku keenakan merasakan gesekan lembut dinding vaginanya yang basah dan rapat. " A.. ahh ..andik .. a..aku bisa pingsan sayang .. nngghh .. ja ..jangan teruskan andik ..aaww .. oohh .. duh gusti .. uuhh .. ooww .. ooww yaahh ..", pekiknya nikmat ketika begitu singkat ia kembali orgasme entah untuk kesekian kalinya. "Wooww .. Dewitai .. kau luar biasa sekali sayang .. mm .. oohh .. vaginamu mudah sekali terangsang sayang..", ujarku gemas melihatnya kembali mereguk anggur kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan cairan kewanitaannya yang menyembur hebat berusaha mendorong batang kelelakianku keluar. " Aahh .. A..andik .. su ..sudah ..sudah sayang .. aku sudah lemas sekali ..", rintihnya semakin lemah. Kupandangi wajah cantiknya yang berkeringat. Terlihat rona-rona kenikmatan yang amat sangat terbayang di wajahnya. Bibir merahnya yang mungil sedikit megap-megap mengatur napas. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Kukecup lembut bibirnya yang hangat dan mengajaknya bercumbu untuk sesaat. "andik .. kenapa kau belum juga keluar sayang .. oohh ..berapa lama lagi aku harus menunggumu sayang .. a ..aku sudah lemas sekali andik ..", bisiknya masih kelelahan. "Fuuhh .. nanti saja sayang .. kita istirahat dulu ..", ujarku penuh kasih sayang. Aku jadi tak tega melihatnya. "andik .. jangan begitu sayang .. lakukanlah .. aku juga ingin melihatmu puas ..ayo dong sayang .. jangan bersikap begitu ..", bisiknya mesra. "Tapi kau masih letih Dewita .. kau bisa keluar lagi nanti ..", ujarku khawatir. "Hehh .. lakukanlah andik .. aku tak peduli sayang .. atau ..atau aku akan meng-onani alat vitalmu ..", ujarnya nakal. "Wooww ..kau nakal sekali Dewita .. tadi kau minta berhenti .. mm ternyata kau masih kurang puas juga sayang .. mm cupp ..ok .. kau ingin melihatku puas juga sayang ..", bisikku penuh gairah. Mbak Dewita tersenyum gemas lalu mencubit pinggulku mesra. "He-eh .. andik .. kau tahu aku sangat menyukainya sayang .. semburan hangatmu yang mm ..", bisiknya lembut penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurang lebih 3 menit aku kembali menggoyang pinggul turun naik menyetubuhinya. Dinding vaginanya yang hangat dan lembut seakan meremat-remat hebat pertanda Mbak Dewita akan segera orgasme kembali. "andik ..ooh ..andik ..duh gusti .. aku mau keluar lagi .. ooh .. oohh ja ..jangan terlalu cepat sayang .. a..a ..aku.. ooww ..oww ..uuww ..", pekiknya kuat menahan rasa nikmat. " Keluarkanlah Dewita .. yaahh .. aku ingin merasakan semburanmu ..sshh .." "A..andik .. sekaraang ..sekarang .. aakkhh .. oowwhgk ", teriaknya tertahan. Secepat kilat kucabut batang kelelakianku dari jepitan dinding vaginanya yang rapat lalu kugeser tubuhku kebawah sehingga mukaku kini persis berada diatas selangkangannya. Jemari tangan kananku secepat kilat meraih dan memlintir daging clitorisnya. Dan .. Pyuurr .. Kembali Mbak Dewita memuntahkan keluar cairan orgasmenya yang bening. Begitu kuat semprotannya hingga sebagian besar sampai mengenai dan menyiram mukaku. Dengan cepat mulutku menangkap cairan kenikmatannya dan langsung kutelan nikmat. Terasa hangat dan encer. Mmm .. tiada yang lebih nikmat dan indah kecuali merasakan seutuhnya air surgawinya. Kerongkonganku yang tadinya agak kering kini sedikit terasa lebih segar dan basah. Kukecup dan kukulum gemas pentil daging clitorisnya yang kemerahan. Sementara ujung lidahku menggapai masuk kedalam liang kemaluannya sembari menyedot sisa-sisa cairan orgasmenya yang masih merembes keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Mbak Dewita benar-benar lemas tak berdaya. Napasnya semakin megap-megap karena nikmat luar biasa yang dirasakannya. Selangkangannya benar-benar basah kuyub oleh cairan orgasme yang berulangkali ia semburkan. "Mmm .. aku menyukai rasanya sayang .. aah .. kau menikmatinya Dewitaku sayang ..", ujarku puas melihatnya tak berdaya. "A..andik .. a..a..aku su..sudah tak kuat lagi sayang .. oohh ..a..aku seperti terkuras andik ..", rintihnya lemas. " Aku tahu sayang .. sekarang tidurlah .. kau kelihatan capek sekali ..", ujarku mesra. "Ka ..kau bagaimana sa..sayang ..", bisiknya setengah bingung melihatku masih belum terpuaskan. " Sudahlah Dewita .. tidak apa-apa ..tidurlah ..", kataku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk mesra tubuh telanjangnya yang basah berkeringat dan menina bobokkannya. Kubelai dan kuremas lembut kedua buah payudaranya secara bergantian. " Oohh ..andik ..aku akan memuasimu setelah ini sayang .. mmhh ..hh ..hh..", rintihnya perlahan sambil mengatur napas. " Sudahlah Dewita .. tidurlah dulu .. nanti setelah segar kau boleh memuasi aku ..Ok ..!", bisikku penuh kasih sayang. Dewita mencium bibirku sampai lama sekali sebelum akhirnya kemudian ia jatuh terlelap saking lelahnya. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit pucat, namun tampak rona kepuasan yang tak terhingga terbayang disitu. Mulutnya yang indah merekah terlihat tersenyum. Senyum kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1644848835822117412?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1644848835822117412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1644848835822117412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/cinta-pertama.html' title='Cinta Pertama'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-8354982957864380871</id><published>2007-09-07T11:21:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T11:23:38.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tante2'/><title type='text'>Tante Linda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;D&lt;/span&gt;isini saya akan mengulas sedikit mengenai pengalaman pribadi saya sendiri, dan hal ini masih menghantui saya sampai cerita ini saya muat. Okey deh, saya perkenalkan diri dulu. Nama saya Rojach, atau biasa dipanggil Jach, tinggi badan 180 cm dengan kulit putih bersih, maklum peranakan atau istilahnya indo. Latar belakang keluarga saya adalah dari keluarga miskin, dimana saya sebagai anak sulung yang dapat dikatakan lain dari adik-adik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ayah saya asli orang Indonesia dan ibu juga, tapi dari cerita yang saya dapatkan dari kelurga, bahwa ibu saya pernah kerja di USA atau di Houston sebagai pembantu rumah tangga. Waktu itu ada pamilik yang tinggal di Huston memerlukan seorang pembantu untuk mengurusi anaknya. Pendek cerita ibu saya sudah 2 tahun di Huston mendapat masalah, dimana dia pernah diperkosa sama orang Bule di sana, dan karena sudah trauma dengan kejadian yang menimpanya, maka dia minta pulang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Indonesia dia langsung mendapatkan jodoh, yaitu ayah saya sekarang, dan ternyata ibu saya telah hamil dengan orang Bule yang pernah memperkosanya. Itulah pendek cerita mengenai latar belakang saya, kenapa saya jadi keturunan indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okey sorry terlalu panjang pendahuluannya, kita langsung saja ke ceritanya. Kejadian ini bermula dimana saya memiliki pacar yang sangat cemburu dan sayang sama saya, maka saya dianjurkan mengontrak rumah di rumah tantenya yang tentunya berdekatan dengan rumahnya. Saya bekerja di salah satu perusahaan Asing yang berkecimpung di Akuntan Public yang terkenal dan ternama, maka saya mendapatkan uang yang secukupnya untuk membiayai adik saya 5 orang yang sedang kuliah di Jakarta. Dan untung saja 3 orang masuk UI dan 2 orang masuk IPB, maka dengan mudah saya bayar uang semesterannya. Sedangkan saya sendiri hanya membutuhkan uang makan dan ongkos, dimana saya tinggal di kawasan Bogor yang terkenal dengan hujannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun saya mengontrak di rumah yang sampai sekarang juga masih saya tempati, terjadilah kejadian ini. Dimana waktu itu kelima adik saya pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan saya yang kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka tinggallah saya seorang diri di Jakarta. Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Boyke atau suami Tante Linda ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia adalah pegawai swasta dan sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di perminyakan di lepas pantai. Jadi waktu itu Om Boyke ke lapangan dan tinggallah Tante Linda sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda telah menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak hampir sudah 8 tahun, dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah, Tante Linda apa Om Boyke. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di Bogor begitu derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas. Secara otomatis saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante Linda memanggil, "Jach... Jach... Jach... tolong dong..!"&lt;br /&gt;Saya menyahut panggilannya, "Ada apaan Tante..?"&lt;br /&gt;"Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!"&lt;br /&gt;Lalu saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara supaya hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante Linda.Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi ruang makan.&lt;br /&gt;Terus Tante Linda menawarkan saya minum kopi, "Nih.., biar hangat..!"&lt;br /&gt;Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.&lt;br /&gt;Saya jawab, "Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah.." sambil saya melangkah ke rumah samping.&lt;br /&gt;Saya mengontrak rumah petak Tante Linda persis di samping rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama saya kembali ke rumah Tante Linda dengan mengenakan celana pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti baju tadi, Tante Linda juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur yang seksi dan sangat menggiurkan. Tapi saya berusaha membuang pikiran kotor dari otak saya. Tante Linda menawarkan saya duduk sambil melangkah ke dapur mengambilkan kopi kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante Linda sudah kembali dengan secngkir kopi di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Tante Linda meletakkan gelas ke meja persis di depan saya, tidak sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan, dan dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap pada diri saya. Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya berusaha secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang melanda diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda memulai pembicaraan, "Giman Jach..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante."&lt;br /&gt;"Ah... nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya kan ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa salahnya menolong orang yang memerlukan pertolongan kita." kata saya mencoba memberikan penjelasan.&lt;br /&gt;"Omong-omong Jach, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,"&lt;br /&gt;"Rupanya Tante Linda tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana."&lt;br /&gt;"Oh... jadi kamu sendiri dong di rumah..?"&lt;br /&gt;"Iya Tante.." jawab saya dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus saya tanya, "Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?"&lt;br /&gt;"Itu dia Jach, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya baru lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di rumah, jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah anaknya di Bandung." jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah jam 23.00 wib malam, tapi rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante Linda sudah mulai menguap, tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan Film di televisi pada saat itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam Sabtu enak siarannya, biasanya juga tidak. Tante Linda tidak kedengaran lagi suaranya, dan rupanya dia sudah ketiduran di sofa dengan kondisi pada saat itu dia tepat satu sofa dengan saya persis di samping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setengah jam lebih kurang Tante Linda ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.&lt;br /&gt;"Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Linda sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?" kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat. Dimana Tante Linda dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan agak selonjoran sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan terlihat warna celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan mata. Hal ini membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya tetap berusaha menenangkan pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dari pada saya semakin lama disini semaking tidak terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante Linda biar saya permisi pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk membangunkan Tante Linda untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang pundaknya.&lt;br /&gt;"Tan... Tan..."&lt;br /&gt;Dengan bermalas-malas Tante Linda mulai terbangun. Karena saya dengan posisi duduk persis di sampingnya, otomatis Tante Linda menyandar ke bahu saya. Dengan perasaan yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Dengan usaha sekali lagi saya bangunkan Tante Linda.&lt;br /&gt;"Tan... Tan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Linda bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.&lt;br /&gt;"Aduh gimana ini..?" gumam saya dalam hati, "Gimana nantinya ini..?"&lt;br /&gt;Entah setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya sudah berani membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan bahunya, dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang dengan sedikit menyenggol buah dadanya. Aduh.., adik saya langsung lancang depan. Dengan tegangan tinggi, nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit keberanian yang tinggi, saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium sejenak bau harum mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya tempelkan dengan gemetaran bibir saya, tapi anehnya Tante Linda tidak bereaksi apa-apa, entah menolak atau menerima. Dengan sedikit keberanian lagi, saya julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan sedikit mendesah, Tante Linda mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi entah kenapa bukannya saya ketakutan malah keluar pujian.&lt;br /&gt;"Tante Linda cantik udah ngantuk ya..? Mmuahhh..!" saya kecup bibirnya dengan lembut.&lt;br /&gt;Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.&lt;br /&gt;"Ahk... ahk..!" dengan sedikit tergesa-gesa Tante Linda sudah menarik celana saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi kepala penis saya.&lt;br /&gt;"Ahkk... ah..!" nikmatnya tidak tergambarkan, "Ahkkk..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke atas. Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Linda sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya ciumi gunung vaginanya, terus mencari klistorisnya.&lt;br /&gt;"Akh... akh... hus..!" desahnya.&lt;br /&gt;Tante Linda sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benang pun yang lengket di badan kami. Tanpa saya perintah, Tante Linda merenggangkan pahanya lebar-lebar, dan langsung saya ambil posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya. Dengan sedikit gemetaran, saya arahkan batang kemaluan saya dengan mengelus-elus di bibir vaginanya.&lt;br /&gt;"Akh... husss... ahk..!" sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.&lt;br /&gt;"Akh... akh..!" dengan sedikit dorongan, "Bless... sss..!" masuk semuanya batang kejantanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya diamkan semenit, secara langsung Tante Linda menggoyang-goyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah lagi, saya maju-mundurkan batang kemaluan saya.&lt;br /&gt;"Akh... uh... terus Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin Tante..? Akh... blesset... plup... kcok... ckock... plup... blesset.. akh.. aduh Tante mau keluar nih..!"&lt;br /&gt;"Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!"&lt;br /&gt;Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis saya sudah mulai terasa gatal, dan Tante Linda teriak, "Akh..!"&lt;br /&gt;Bersamaan kami meledak, "Crot... crot... crot..!" begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.&lt;br /&gt;Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Linda kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana Tante Linda langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis saya belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung Tante Linda mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir vaginanya.&lt;br /&gt;"Akh... husss..!" seperti kepedasan Tante Linda dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Blesset... crup... crup... clup... cloppp..!" suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Linda orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.&lt;br /&gt;"Crot.., crot..!" meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak lepas-lepasnya Tante Linda masih menggoyang pantatnya dengan teriakan kencang, "Akh..!"&lt;br /&gt;Kemudian Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa kenikmatan dengan batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya dengan posisi miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas, seakan-akan Tante Linda tidak mau melepaskan penis saya dari dalam vaginanya. Begitulah malam itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 5 pagi saya ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan tertidur akibat kelelahan satu malam kerja berat. Begitulah kami melakukan hampir setiap malam sampai Om itu pulang dari kerjanya. Dan sepulangnya adik saya dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi dengan leluasa bercinta. Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam dua hari itu pun kami lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan dapurnya yang ada jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di rumah sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 bulan kemudian Tante Linda hamil dan sangat senang. Semua keluarganya memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi entah kenapa, Tante Linda tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-8354982957864380871?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8354982957864380871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8354982957864380871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/tante-linda.html' title='Tante Linda'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1926010749332562926</id><published>2007-09-07T11:16:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T11:17:30.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Sopirku</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;isahku ini adalah dari kejadiannya sudah cukup lama, waktu aku masih kelas tiga SMU, umurku juga masih 18 tahun ketika itu. Sejak aku menyerahkan tubuhku pada Maman, sopirku, dia sering memintaku melakukannya lagi setiap kali ada kesempatan, bahkan terkadang aku dipaksanya melayani nafsunya yang besar itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika di mobil dengannya tidak jarang dia suruh aku mengoralnya, kalaupun tidak, minimal dia mengelus-elus paha mulusku atau meremas dadaku. Pernah malah ketika kedua orang tuaku keluar kota dia ajak aku tidur bersamanya di kamarku. Memang di depan orang tuaku dia bersikap padaku sebagaimana sopir terhadap majikannya, namun begitu jauh dari mereka keadaan menjadi berbalik akulah yang harus melayaninya. Mulanya sih aku memang agak kesal karena sikapnya yang agak kelewatan itu, tapi di lain pihak aku justru menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya dua minggu sebelum ebtanas, aku sedang belajar sambil selonjoran bersandar di ujung ranjangku. Ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.47, suasananya hening sekali pas untuk menghafal. Tiba-tiba konsentrasiku terputus oleh suara ketukan di pintu. Kupikir itu Mamaku yang ingin menengokku, tapi ketika pintu kubuka, jreenngg.. Aku tersentak kaget, si Maman ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih, ngapain sih Bang malam-malam gini, kalau keliatan Papa Mama kan gawat tahu"&lt;br /&gt;"Anu Non, nggak bisa tidur nih.. Mikirin Non terus sih, bisa nggak Non sekarang.. Sudah tiga hari nih?" katanya dengan mata menatapi tubuhku yang terbungkus gaun tidur pink.&lt;br /&gt;"Aahh.. Sudah ah Bang, saya kan harus belajar sudah mau ujian, nggak mau sekarang ah!" omelku sambil menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum pintu tertutup dia menahannya dengan kaki, lalu menyelinap masuk dan baru menutup pintu itu dan menguncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang saja Non, semua sudah tidur dari tadi kok, tinggal kita duaan saja" katanya menyeringai.&lt;br /&gt;"Jangan ngelunjak Bang.. Sana cepet keluar!" hardikku dengan telunjuk mengarah ke pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya menuruti perintahku dia malah melangkah mendekatiku, tatapan matanya tajam seolah menelanjangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang Maman.. Saya bilang keluar.. Jangan maksa!" bentakku lagi.&lt;br /&gt;"Ayolah Non, cuma sebentar saja kok.. Abang sudah kebelet nih, lagian masa Non nggak capek belakangan ini belajar melulu sih" ucapnya sambil terus mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus mundur selangkah demi selangkah menghindarinya, jantungku semakin berdebar-debar seperti mau diperkosa saja rasanya. Akhirnya kakiku terpojok oleh tepi ranjangku hingga aku jatuh terduduk di sana. Kesempatan ini tidak disia-siakan sopirku, dia langsung menerkam dan menindih tubuhku. Aku menjerit tertahan dan meronta-ronta dalam himpitannya. Namun sepertinya reaksiku malah membuatnya semakin bernafsu, dia tertawa-tawa sambil menggerayangi tubuhku. Aku menggeleng kepalaku kesana kemari saat dia hendak menciumku dan menggunakan tanganku untuk menahan laju wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh.. Jangan Bang.. Widya nggak mau!" mohonku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang, sebenarnya aku bisa saja berteriak minta tolong, tapi kenapa tidak kulakukan, mungkin aku mulai menikmatinya karena perlakuan seperti ini bukanlah pertama kalinya bagiku, selain itu aku juga tidak ingin ortuku mengetahui skandal-skandalku. Breett.. Gaun tidurku robek sedikit di bagian leher karena masih memberontak waktu dia memaksa membukanya. Dia telah berhasil memegangi kedua lenganku dan direntangkannya ke atas kepalaku. Aku sudah benar-benar terkunci, hanya bisa menggelengkan kepalaku, itupun dengan mudah diatasinya, bibirnya yang tebal itu sekarang menempel di bibirku, aku bisa merasakan kumis pendek yang kasar menggesek sekitar bibirku juga deru nafasnya pada wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecapaian dan kalah tenaga membuat rontaanku melemah, mau tidak mau aku harus mengikuti nafsunya. Dia merangsangku dengan mengulum bibirku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, lidahnya terus mendorong-dorong memaksa ingin masuk ke mulutku. Mulutku pun pelan-pelan mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk dan bermain di dalamnya, lidahku secara refleks beradu karena dia selalu menyentil-nyentil lidahku seakan mengajaknya ikut menari. Suara desahan tertahan, deru nafas dan kecipak ludah terdengar jelas olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku yang terpejam terbuka ketika kurasakan tangan kasarnya mengelusi paha mulusku, dan terus mengelus menuju pangkal paha. Jarinya menekan-nekan liang vaginaku dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar. Birahiku naik dengan cepatnya, terpancar dari nafasku yang makin tak teratur dan vaginaku yang mulai becek. Tangannya sudah menyusup ke balik celana dalamku, jari-jarinya mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitorisku, benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jarinya membuatku menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohh.. Non Widya jadi tambah cantik saja kalau lagi konak gini!" ucapnya sambil menatapi wajahku yang merona merah dengan matanya yang sayu karena sudah terangsang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia tarik keluar tangannya dari celana dalamku, jari-jarinya belepotan cairan bening dari vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Non cepet banget basahnya ya, lihat nih becek gini" katanya memperlihatkan jarinya yang basah di depan wajahku yang lalu dijilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan tangan yang satunya dia sibakkan gaun tidurku sehingga payudaraku yang tidak memakai bra terbuka tanpa terhalang apapun. Matanya melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudaraku yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan serta kulitnya yang putih mulus. Teman-teman cowokku bilang, bahwa bentuk dan ukuran payudaraku ideal untuk orang Asia, kencang dan tegak seperti punya artis bokep Jepang, bukan seperti punya bule yang terkadang oversize dan turun ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nnngghh.. Bang" desahku dengan mendongak ke belakang merasakan mulutnya memagut payudaraku yang menggemaskan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya menjilat, mengisap, dan menggigit pelan putingnya. Sesekali aku bergidik keenakan kalau kumis pendeknya menggesek putingku yang sensitif. Tangan lainnya turut bekerja pada payudaraku yang sebelah dengan melakukan pijatan atau memainkan putingnya sehingga kurasakan kedua benda sensitif itu semakin mengeras. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan meremasi rambutnya yang sedang menyusu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menyusu dariku, mulutnya perlahan-lahan turun mencium dan menjilati perutku yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil tangannya menurunkan celana dalamku. Sambil memeloroti dia mengelusi paha mulusku. Cd itu akhirnya lepas melalui kaki kananku yang dia angkat, setelah itu dia mengulum sejenak jempol kakiku dan juga menjilati kakiku. Darahku semakin bergolak oleh permainannya yang erotis itu. Selanjutnya dia mengangkat kedua kakiku ke bahunya, badanku setengah terangkat dengan selangkangan menghadap ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasrah saja mengikuti posisi yang dia inginkan, pokoknya aku ingin menuntaskan birahiku ini. Tanpa membuang waktu lagi dia melumat kemaluanku dengan rakusnya, lidahnya menyapu seluruh pelosok vaginaku dari bibirnya, klitorisnya, hingga ke dinding di dalamnya, anusku pun tidak luput dari jilatannya. Lidahnya disentil-sentilkan pada klitorisku memberikan sensasi yang luar biasa pada daerah itu. Aku benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mataku merem-melek dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vaginaku mengirimkan rangsangan ini ke seluruh tubuh yang membuatku serasa menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Aahh.. Bang.. Nngghh.. Terus!" erangku lebih panjang di puncak kenikmatan, aku meremasi payudaraku sendiri sebagai ekspresi rasa nikmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman terus menyedot cairan yang keluar dari sana dengan lahapnya. Tubuhku jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah pahaku semakin erat mengapit kepalanya. Setelah puas menyantap hidangan pembuka berupa cairan cintaku, barulah dia turunkan kakiku. Aku sempat beristirahat dengan menunggunya membuka baju, tapi itu tidak lama. Setelah dia membuka baju, dia buka juga dasterku yang sudah tersingkap, kami berdua kini telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membentangkan kedua pahaku dan mengambil posisi berlutut di antaranya. Bibir vaginaku jadi ikut terbuka memancarkan warna merah merekah diantara bulu-bulu hitamnya, siap untuk menyambut yang akan memasukinya. Namun Maman tidak langsung mencoblosnya, terlebih dulu dia gesek-gesekkan penisnya yang besar itu pada bibirnya untuk memancing birahiku agar naik lagi. Karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos, aku meraih batang itu, keras sekali benda itu waktu kugenggam, panjang dan berurat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakkhh..!" erangku lirih sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penisnya melesak masuk ke dalamku&lt;br /&gt;"Aauuhh..!" aku menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan kerasnya hingga penis itu tertancap seluruhnya pada vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja kamar Papa Mamaku di lantai dasar dan letaknya cukup jauh dari kamarku, kalau tidak tentu suara-suara aneh di kamarku pasti terdengar oleh mereka, bagaimanapun sopirku ini termasuk nekad berani melakukannya di saat dan tempat seperti ini, tapi justru disinilah sensasinya ngeseks di tempat yang 'berbahaya'. Dengan gerakan perlahan dia menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal-gerinjal itu. Aku ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginaku mengimbangi sodokannya. Responku membuatnya semakin menggila, penisnya semakin lama menyodok semakin kasar saja, kedua gunungku jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan selama menggenjotku otot-otot tubuhnya mengeras, tubuhnya yang hitam kekar bercucuran keringat, sungguh macho sekali, pria sejati yang memberiku kenikmatan sejati. Suara desahanku bercampur baur dengan erangan jantannya dan derit ranjang. Butir-butir keringat nampak di sejukur tubuhku seperti embun, walaupun ruangan ini ber-ac tapi aku merasa panas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uugghh.. Non Widya.. Sayang.. Kamu emang uenak tenan.. Oohh.. Non cewek paling cantik yang pernah abang entotin" Maman memgumam tak karuan di tengah aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menurunkan tubuhnya hingga menindihku, kusambut dengan pelukan erat, kedua tungkaiku kulingkarkan di pinggangnya. Dia mendekatkan mulutnya ke leher jenjangku dan memagutnya. Sementara di bawah sana penisnya makin gencar mengaduk-aduk vaginaku, diselingi gerakan berputar yang membuatku serasa diaduk-aduk. Tubuh kami sudah berlumuran keringat yang saling bercampur, akupun semakin erat memeluknya. Aku merintih makin tak karuan menyambut klimaks yang sudah mendekat bagaikan ombak besar yang akan menghantam pesisir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu sudah di ambang klimaks, dia menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa melepaskan penisnya, dia bangkit mendudukkan dirinya, maka otomatis aku sekarang diatas pangkuannya. Dengan posisi ini penisnya menancap lebih dalam pada vaginaku, semakin terasa pula otot dan uratnya yang seperti akar beringin itu menggesek dinding kemaluanku. Kembali aku menggoyangkan badanku, kini dengan gerakan naik-turun. Dia merem-melek keenakan dengan perlakuanku, mulutnya sibuk melumat payudaraku kiri dan kanan secara bergantian membuat kedua benda itu penuh bekas gigitan dan air liur. Tangannya terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, mengelusi punggung, pantat, dan paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian aku kembali mendekati orgasme, maka kupercepat goyanganku dan mempererat pelukanku. Hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuhku mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vaginaku. Saat itu dia gigit putingku dengan cukup keras sehingga gelinjangku makin tak karuan oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyanganku pun makin mereda, tubuhku seperti mati rasa dan roboh ke belakang tapi ditopang dengan lengannya yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membiarkanku berbaring mengumpulkan tenaga sebentar, diambilnya tempat minum di atas meja kecil sebelah ranjangku dan disodorkan ke mulutku. Beberapa teguk air membuatku lebih enakan dan tenagaku mulai pulih berangsur-angsur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah segar lagi kan Non? Kita terusin lagi yuk!" sahut Maman senyum-senyum sambil mulai menggerayangi tubuhku kembali.&lt;br /&gt;"Habis ini sudahan yah, takut ketahuan nih," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tubuhku dibalikkan dalam posisi menungging, kemudian dia mulai menciumi pantatku. Lidahnya menelusuri vagina dan anusku memberiku sensasi geli. Kemudian aku merasa dia meludahi bagian duburku, ya ketika kulihat ke belakang dia memang sedang membuang ludahnya beberapa kali ke daerah itu, lalu digosok-gosokkan dengan jarinya. Oh.. Jangan-jangan dia mau main sodomi, aku sudah lemas dulu membayangkan rasa sakitnya ditusuk benda sebesar itu pada daerah situ padahal dia belum juga menusuk. Pertama kali aku melakukan anal sex dengan temanku yang penisnya tidak sebesar Maman saja sudah sakit banget, apalagi yang sebesar ini, aduh bisa mampus gua pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja yang kutakutkan, setelah melicinkan daerah itu dia bangkit dengan tangan kanan membimbing penisnya dan tangan kiri membuka anusku. Aku meronta ingin menolak tapi segera dipegangi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Bang.. Jangan disitu, sakit!" mohonku setengah meronta.&lt;br /&gt;"Tenang Non, nikmati saja dulu, ntar juga enak kok" katanya dengan santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merintih sambil menggigit guling menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada duburku yang lebih sempit dari vaginaku. Air mataku saja sampai meleleh keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuhh.. Sudah dong Bang.. Widya nggak tahan" rintihku yang tidak dihiraukannya.&lt;br /&gt;"Uuhh.. Sempit banget nih" dia mengomentariku dengan wajah meringis menahan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjerit kecil saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Tangannya meraih kedua payudaraku dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringat dan air mataku bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu, aku menangis bukan karena sedih, juga bukan karena benci, tapi karena rasa sakit bercampur nikmat. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur dan payudara, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir atau bantal untuk meredam jeritanku agar tidak keluar sampai ke bawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ada sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuhku yang kuekspresikan dengan erangan panjang, ya aku mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuhku menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. Maman sendiri menyusulku tak lama kemudian, dia menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu dia mencabut penisnya dariku dan membalikkan tubuhku. Spermanya muncrat dengan derasnya dan berceceran di sekujur dada dan perutku, hangat dan kental dengan baunya yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami tergolek lemas bersebelahan. Aku memejamkan mata dan mengatur nafas sambil merenungkan dalam-dalam kegilaan yang baru saja kami lakukan, sebuah hubungan terlarang antara seorang gadis dari keluarga kaya dan terpelajar yang cantik dan terawat dengan sopirnya sendiri yang kasar dan berbeda kelas sosial. Hari-hari berikutnya aku jadi semakin kecanduan seks, terutama seks liar seperti ini, dimana tubuhku dipakai orang-orang kasar seperti Maman, dari situlah aku merasakan sensasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku pernah ingin berhenti, tetapi aku tidak bisa meredam libidoku yang tinggi, jadi ya kujalani saja apa adanya. Untuk mengimbanginya aku rutin merawat diriku sendiri dengan fitness, olahraga, mandi susu, sauna, juga mengecek jadwal suburku secara teratur. Dua bulan ke depan Maman terus memperlakukanku seperti budak seksnya sampai akhirnya dia mengundurkan diri untuk menemani istrinya yang menjadi TKW di Timur Tengah. Lega juga aku bisa lepas dari cengkeramannya, tapi terkadang aku merasa rindu akan keperkasaannya, dan hal inilah yang mendorongku untuk mencoba berbagai jenis penis hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1926010749332562926?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1926010749332562926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1926010749332562926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/sopirku.html' title='Sopirku'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-8587627416861474769</id><published>2007-09-07T11:02:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T11:13:10.949-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Bekas Murid</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;amaku Asmiranti, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandito, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandito seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandito ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandito memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar suara langkahnya mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu Asmi..?" Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandito sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu Asmi..?" Suara Sandito terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan Sandito mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tangan Sandito sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandito mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan Sandito mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandito menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandito mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sanditowaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandito!! Ngapain kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandito menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandito mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandito makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu... " Sandito melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua," Ujarku lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan... Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya," jawab Sandito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah kamu... Ya sudah terserah kamu sajalah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sandito melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandito terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kamar mandi, Sandito persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Body Ibu bagus banget.. " dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu hebat...," desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apanya yang hebat..?" Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandito yang panjang seleher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu" Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu karena Ibu teratur olahraga" jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandito minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!" Cegahku sambil menciumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito tersenyum lebar. "Sudah enggak sabar ya ?" godanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San," Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandito pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandito yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan suamiku, Sandito nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandito, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak 'bercinta' sama Ibu...," dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandito, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandito semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu..., terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandito memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh...," sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandito mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saann, penismu enaaak...!!!," kataku setengah menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh..., toloongg.., gustii...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh, penismu..., oohh, aarrghh..., penismuu..., oohh...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandito sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!" aku menjerit-jerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget 'bercinta' sama Ibu!" Sandito menyodok-nyodok semakin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sodok terus, Saann!!!... Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teruuss..., arrgghh..., sshh..., ohh..., sodok terus penismuuu...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, ah, uuugghhh... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enaaak..., penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandito, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandito mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuturuti permintaan Sandito. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandito mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandito dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandito segera menunduk, dikecupnya pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar," kataku terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?" jawabnya lembut di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandito mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oorrgghh..., aahh..., ennaak..., penismu enak bangeett... Ssann!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandito pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandito. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Sandito menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandito langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandito memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghhh...!!!" aku menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hampir keluar!" Sandito bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandito. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus, Sayang..., teruuusss...!"desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohhh, enak sekali..., aku keenakan..., enak 'bercinta' sama Ibu!" Erang Sandito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan...!" Balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah hampir keluar, Buu..., vagina Ibu enak bangeet... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss..., yaah, aku juga mau keluarr!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann..., aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan 'bercinta' sama kamu..., yaahh..., teruss..., aarrgghh..., ssshhh..., uughhh..., aarrrghh!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandito menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohhh...!!!" dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandito memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak banget," bisik Sandito beberapa saat kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm..." Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandito bergerak-gerak di dalam vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi penis kamu..., gede, keras, dalemmm..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandito menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandito lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandito karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandito mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bisa enggak puas-puas 'bercinta' sama Ibu... Ibu juga suka kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandito sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandito kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-8587627416861474769?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8587627416861474769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8587627416861474769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/bekas-murid.html' title='Bekas Murid'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-3417641017852482757</id><published>2007-09-07T10:55:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T10:57:18.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tante2'/><title type='text'>Tante Nuning</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;arangkali aku ditakdirkan untuk selalu mempunyai skandal sex. Setelah berusaha setia selama 3 tahun menikah, ternyata akhirnya aku berselingkuh, bahkan dengan pembantu. Rasanya memang lebih nikmat kalau hubungan itu menyerempet-nyerempet bahaya. Semakin berisiko, semakin besar sensasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku menikah, pengalaman seksualku cukup banyak, sebagian besar pasti berisiko tinggi seperti itu. Antara lain: dengan dosen, dengan teman adikku, dengan pacar teman, dengan adik pacar, dan masih banyak lagi. Semua itu mungkin dipengaruhi oleh pengalaman pertamaku, perjakaku direnggut oleh perempuan yang masih terhitung tanteku sendiri, sepupu jauh ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terjadi ketika aku berumur 17 tahun, kelas 2 SMU. Sudah lama sekali, tapi kesannya yang mendalam membuat aku tidak akan pernah bisa lupa. Aku bahkan bisa mengingatnya dengan detil, dan kenangan itu selalu membuat aku terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memanggilnya Tante Nuning. Orangnya baik, supel dan enak diajak ngobrol. Wajahnya sih relatif, tapi menurutku lumayan manis. Yang jelas, kulitnya putih mulus dan body-nya mantap. Waktu itu umurnya sekitar 25 sampai 30 tahun, punya satu anak laki-laki yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Tante Nuning tinggal di Surabaya. Dia sendiri tinggal di Jakarta selama satu tahun untuk mengikuti suatu pendidikan. Selama di Jakarta, dia tinggal di rumah kami. Kebetulan rumah kami cukup besar, dan ada satu kamar kosong yang memang disediakan untuk tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Tante Nuning itu bukan type perempuan yang nakal. Setahuku dia termasuk perempuan baik-baik, dan rumah tangganya pun kelihatan rukun-rukun saja. Tapi yang jelas dia kesepian selama tinggal di Jakarta. Dia butuh sex. Kebetulan di sini boleh dibilang cuma aku cowok yang dekat dengan dia. Jadi, kukira wajar kalau akhirnya affair itu terjadi. Lagipula, kukira Tante Nuning memang termasuk perempuan yang besar nafsu sex -nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa yang pertama, kami seperti ketagihan. Kami ML kapan saja, setiap ada kesempatan. Di kamar, di dapur, di kamar mandi, di hotel, di mana saja. Demi menyalurkan nafsuku yang seakan tak pernah surut pada Tante Nuning, aku bahkan jadi sering bolos ataupun kabur dari sekolah, dan tanteku yang manis dan sexy itu selalu siap meladeniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, tahun itu aku tidak naik kelas. Semua orang kaget, hanya Tante Nuning yang maklum. Dia bilang, walaupun aku tidak naik kelas, tapi aku “lulus” sebagai laki-laki. Harus kuakui, Tante Nuning adalah guruku yang terbaik dalam hal yang satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya affair itu tidak berlanjut sampai ketahuan orang. Begitu Tante Nuning kembali ke Surabaya, boleh dibilang hubungan kami berakhir, walaupun di awal-awal sesekali kami masih melakukannya (kalau Tante Nuning datang ke Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa, Tante Nuning mengikuti pendidikan apa di Jakarta. Dia kursus sore hari dan pulangnya sudah agak malam, sekitar jam 8. Oleh karena itu, aku mendapat tugas menjemput naik motor. Awalnya sebel juga jadi “tukang ojek” begitu. Untung cuma 2 kali seminggu. Tapi, lama-lama aku malah senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami cepat sekali menjadi akrab. Tante Nuning tidak canggung-canggung lagi memeluk pinggangku bila kami berboncengan naik motor. Sesekali aku dapat merasakan tonjolan buah dadanya yang menekan empuk punggungku. Itu makanya aku jadi senang. Waktu itu terus terang aku belum punya pacar, jadi bersentuhan dengan perempuan adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku berulang tahun yang ke 17. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, orang tua dan adikku memberi selamat. Cuma Tante Nuning yang tidak. Aku jadi sebel. Apakah aku betul-betul cuma dianggap sebagai “tukang ojek” selama ini? Tapi ternyata dia memilih cara lain. Ketika aku sedang membereskan tas sekolahku di dalam kamar, Tante Nuning masuk. Kukira dia mau memberi ucapan selamat, tapi ternyata tidak juga. Dia bilang, seharusnya sweet seventeen dirayakan secara khusus. “Nggak ada uang,” jawabku asal-asalan. Tante Nuning mengusap pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti sore kita rayain berdua,” katanya, suaranya pelan sekali. “Tante mau kasih kado spesial buat kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi deg-degan. Di sekolah, pikiranku ngelantur tidak karuan, ulanganku jadi jeblok banget. Aku penasaran, apa betul Tante Nuning mau memberi kado spesial. Entah kenapa, aku mulai membayangkan yang bukan-bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak sabar, ketika jam istirahat aku ke telepon umum di seberang jalan. (Waktu itu belum ada HP). Di rumah cuma ada Tante Nuning dan si Mbok. Aku hampir-hampir tidak bisa ngomong waktu denger suara Tante Nuning yang merdu. Dengan lugu, akhirnya aku berterus terang bahwa aku penasaran. Kata Tante Nuning,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini kamu baik sekali sama Tante. Jadi, kamu boleh minta apa pun yang kamu mau.” “Kalau Tante sendiri mau kasih apa?” tanyaku. “Ya nanti dong!” “Nggak sabaran nih!” “Pulang aja sekarang kalau nggak sabar. Bisa kabur, kan?” “Tapi nanti aku ada ulangan!” “Ya udah, terserah kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi tambah penasaran. Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Entah bagaimana, feeling-ku mengatakan bahwa Tante Nuning “naksir” aku. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pulang saat itu juga. Kukebut motorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Nuning tersenyum ketika membukakan pintu. “Si Mbok baruuuuu aja ke pasar!” katanya tanpa kutanya, seperti memberi isyarat bahwa situasi rumah benar-benar aman untuk kami. Aku jadi tambah deg-degan. Pikiran jorokku bertambah. Lebih-lebih saat itu Tante Nuning mengenakan daster yang potongannya rada sexy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadonya mana?” tanyaku tidak sabar. “Nanti dulu dong!” jawab Tante Nuning. Lalu aku disuruh menunggu di ruang duduk keluarga, sementara dia masuk ke kamar. Aku duduk di sofa sambil membuka sepatu. Tidak lama, Tante Nuning keluar kamar, tapi aku tidak melihat dia membawa kado. Sambil memandangi dia berjalan ke arahku, aku berpikir, “Ngapain dia tadi masuk kamar?” Aku menemukan jawabannya beberapa saat kemudian, ketika kelihatan olehku kedua puting susunya membayang di balik daster. Rupanya di kamar tadi dia cuma membuka BH. Lalu, mana kadonya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merem dong!” kata Tante Nuning sambil duduk di sebelahku. Aku menurut, kupejamkan mataku. Jantungku semakin bergemuruh. Kurasakan kelelakianku mulai bangkit, anuku mulai mengeras. Lebih-lebih ketika kurasakan nafas Tante Nuning dekat sekali dengan mukaku. Aku ingin membuka mata, tetapi takut. Maka aku terus memejamkan mata rapat-rapat, sampai kurasakan Tante Nuning mengecup pipiku. Lembut sekali. Kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kadonya?” tanyaku memberanikan diri beberapa saat kemudian. Tante Nuning tersenyum. “Itu kado spesial dari Tante,” katanya lembut. “Tapi kalau kamu mau yang lain, kamu boleh minta. Apapun yang kamu mau….” “Aa…aa…aku… tidak berani…” jawabku terbata-bata. “Padahal kamu kepingin sesuatu?” dia mendesak sambil merapatkan body-nya. Aku semakin deg-degan. Tonjolan toketnya yang montok menekan lembut lenganku. Aku tidak berani membalas tatapan matanya. “Bilang dong…” suara Tante Nuning semakin lembut. Wajahnya semakin dekat, aku jadi semakin tidak berani mengangkat wajah. Sampai tiba-tiba kulihat tangannya merayap… meraba selangkanganku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut, bercampur malu karena ketahuan saat itu aku sudah “ngaceng”. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Tante Nuning waktu itu, karena aku tetap belum berani melihat wajahnya, tetapi yang jelas dia malah memijit-mijit tonjolan batang kemaluanku yang tentu saja jadi semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante... aku..." Aku semakin tidak enak hati, sementara nafsuku semakin tinggi. "Vaaan, kamu udah gede sekarang….,” bisik Tante Nuning. “Udah 17 tahun, udah dewasa…” “Maksud Tante, aku boleh….” “Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata begitu, Tante Nuning menerkam mulutku dengan bibirnya. Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Nuning yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendesak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Nuning. Nampaknya Tante Nuning tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Nuning merayap turun ke bawah, menyusuri leher dan dadaku. Kemeja seragamku entah kapan dibukanya, tahu-tahu sudah teronggok di lantai. Beberapa cupangan yang meNuninggalkan warna merah menghiasi leher dan dadaku. Lalu dengan liar Tante Nuning membawaku turun ke karpet, dibukanya celana panjang abu-abuku, demikian pula celana dalamku dilucutinya dengan gerakan tergesa-gesa. Aku menjadi telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohhh…. Ivaaan…., Tante nggak nyangka, punyamu bagus juga….” seru bergairah Tante Nuning sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, sesekali dibarengi dengan menyedot-nyedot. Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-erang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot daster Tante Nuning, sehingga dia tinggal mengenakan celana dalam saja. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Bulat, montok, masih sangat kencang walaupun dia sudah beranak satu. Nafsuku jadi semakin tidak terkendali. Tanpa malu-malu, aku merintih-rintih sembari mengatakan bahwa aku merasa enak luar biasa. Sampai akhirnya kulihat Tante Nuning menurunkan celana dalamnya sendiri. Dia bugil di hadapanku! Aku sempat berpikir waras, kami tidak boleh melakukan semua ini! Tapi waktu itu Tante Nuning sudah menduduki kedua pahaku yang mengangkang. Kemaluannya yang berbulu rimbun tepat menempel di batang kemaluanku. Aku menelentang pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A..a..aku… tttakut, Tante…,” kataku ketika kurasakan Tante Nuning mulai menyusup-nyusupkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya yang basah. Tante Nuning tidak peduli, kurasakan ujung batang penisku sudah masuk. Tapi bagaimanapun Tante Nuning mengalami kesulitan karena aku masih setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Nuning menciumi mukaku. Bibirku dilumatnya kembali, lalu lidahnya menjulur-julur menjilat-jilat. Sementara itu, tangan kanannya terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku ke dalam lubang surgawi miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Irvan, please..,” desahnya di telingaku. “Kamu udah gede, kamu udah boleh, Van…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, nafsuku kembali berkobar. Batang kemaluanku yang tadinya mulai agak kendor karena aku ketakutan, kini kembali menegang keras. Tante Nuning kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Pinggulnya bergerak-gerak sementara tangan kirinya terus menuntun batang kemaluanku memasuki vaginanya. Uhhh, nikmat luar biasa. Aku menggigit bibir. Sleeeppp… terasa batang kemaluanku melesak semakin dalam. Inci demi inci, sampai akhirnya masuk semua. Tante Nuning merintih pelan menyebut namaku, “Irrrvvvaaaannnn…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanteku yang manis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Nikmatnya sungguh tidak terkatakan. Batang penisku serasa disedot dan dipelintir-pelintir. Aku belum pernah merasakan surga dunia senikmat itu, maka aku tidak tahan. Baru beberapa goyangan, tanpa dapat kucegah sedetikpun, aku “muncrat”. Air maniku menyembur-nyembur entar berapa kali, menyirami vagina Tante Nuning yang kurasakan berkedut-kedut. Itulah untuk pertama kalinya aku mencapai orgasme yang sesungguhnya, setelah sekian lama aku hanya dapat merasakannya dengan “ngocok” di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu bagaimana perasaan Tante Nuning waktu itu. Aku juga belum mengerti bahwa waktu itu dia sangat kecewa karena birahinya tidak mencapai puncak. Yang jelas, kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Perasaanku tidak karuan. Menyesal, takut, malu, campur aduk jadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tante Nuning menangis sesenggukan. Aku jadi semakin tidak enak hati. Dengan sok gentle, aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang. Aku meminta maaf dan berusaha membujuk. Tapi kata Tante Nuning, dia justru malu telah menjerumuskan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku nggak nyesel kok, Tante…,” kataku. Tante Nuning memalingkan mukanya menatapku. “Betul?” tanyanya. Aku mengangguk. Entah kenapa, tahu-tahu “anu”ku berdiri lagi. Kulihat muka Tante Nuning memerah, dia pasti dapat merasakan karena batang penisku yang menegang itu menempel rapat pada pantatnya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan kami berpelukan. Entah siapa yang memulai, kami lalu berciuman bibir. Nafsuku berkobar-kobar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Nuning mengajakku masuk ke kamar. Dengan tubuh bugil, kami berangkulan menuju kamar Tante Nuning di belakang. Tiba di sana, Tante Nuning rebah duluan di atas ranjang. Aku menyusul. Dua-tiga kali Tante Nuning masih bertanya lagi, apakah betul aku tidak menyesal dan tidak menganggapnya sebagai perempuan murahan. Lalu kami berciuman bibir, lama dan penuh nafsu. Kurasakan batang kemaluanku sudah luar biasa keras, aku siap untuk meniduri tanteku sekali lagi. Tapi kata Tante Nuning, kali ini aku harus sabar. Aku harus bisa membuat Tante Nuning mencapai puncak kenikmatan seperti yang tadi kualami. Maka, dia mengajariku segala macam teknik merangsang birahi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari berciuman. Dia mengajariku cara-cara memainkan mulut dan lidah. Setelah kuikuti, ternyata memang lebih enak. Lalu dia menyuruhku menciumi lehernya. Aku berhasil membuat sebuah cupangan, tapi Tante Nuning lekas-lekas mengingatkan bahwa cupangan di leher akan mudah ketahuan orang. Maka, dia minta aku mencupang toketnya. Tanpa diminta pun, aku akan dengan senang hati melakukan itu. Toketnya itu luar biasa bagus. Putih, besar, bulat, kencang dan padat. Aku mencium dan meremas-remas seperti tanpa rasa puas. Dan aku jadi tambah bernafsu karena perbuatanku itu membuat Tante Nuning menggelepar-gelepar keenakan. Dia bahkan jadi seperti tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata jorok, di tengah-tengah desahan dan rintihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya sudah sangat tidak sabar, ingin segera memasukkan senjataku lagi ke dalam lubang surgawi Tante Nuning. Tapi Tante Nuning belum memberi isyarat untuk itu. Dia malah memintaku mencumbui selangkangannya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini, Sayang..., ciumin ini Tante …," pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membuang waktu lagi, aku terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Nuning yang merekah minta diterkam. Benar-benat lezat. Vagina Tante Nuning mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagian liang vaginanya yang telah dibanjiri lendir. Berulangkali kugelitik kelentitnya dengan ujung lidah sambil kukenyot dalam-dalam. Rambut kemaluan Tante Nuning lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Nuning yang menggairahkan ini. Tante Nuning hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Nuning terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menarik-narik daging kelentitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohhhhh, Irrrvvvaaannn..., enak banget, Sayaaang… Teruuss…., teruuuuussssss….. Please…, yaaaahhhhhh "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, aku merayap lembut menuju perut Tante Nuning, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya yang kini mengeras dan membengkak. Kembali kubuat beberapa cupangan di buah dadanya. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Nuning secara bergantian, kiri dan kanan. Aku kini benar-benar tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Tanpa menunggu komando dari Tante Nuning, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Tante Nuning masih sempat mengubah posisi. Seperti yang pertama, kembali dia berada di atas. Ternyata itu memang disengaja oleh Tante Nuning karena posisi begitu lebih menguntungkan aku. Aku jadi lebih tahan, sebaliknya Tante Nuning akan cepat mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Tante Nuning langsung menggenjot cepat karena rupanya dia sudah sangat keenakan dan hampir mencapai puncak. Aku menelentang saja sembari meremas-remas toket montoknya yang bergelantungan terkontal-kantil. Sesekali aku mengangkat pantat mengikuti komando Tante Nuning. Tidak begitu lama, Tante Nuning mengajakku segera membalik posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooouhkk.. yeaaah... ayoo.. ayooo... genjot Vaaannn..!" teriak Tante Nuning saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar vaginanya. Dalam posisi di atas, gerakanku lebih leluasa. Aku semakin meNuningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku. Tante Nuning hanya berpegangan pada kedua tanganku yang terus meremas-remas sepasang buah dadanya. Kedua kakinya mengangkang lebar, pinggulnya terangkat-angkat seirama dengan hunjaman batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Blesep... sleeep... blesep..!" suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut. Tante Nuning mendesah, mengerang, dan merintih-rintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaarghh…, enak sekali, Irrvaaannnn….., Tante suka kontol kamuhhh… Terus, Sayaaang…, teruuuussssss….., ssssshhhhhh….., aaaaarrggghhhhh….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat, kusodok-sodokkan batang penisku semakin kuat dan cepat. Itulah nikmat bersetubuh yang pertama kali kurasakan. Aku masih belum bisa bertahan lama saking enaknya. Hanya beberapa menit, puncak klimaks itu kucapai dengan sangat sempurna, "Creeet... crooot... creeet..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat hampir bersamaan, tubuh Tante Nuning mengejang, pinggulnya terangkat tinggi-tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooorrrrgghh.. sssssshhhhh... aaarrrgghhhh..," seru Tante Nuning menggelepar-gelepar ketika menggapai puncak kenikmatannya. "Tanteeehhh.……." “Oooohhhh, Ivaann…. Teken terus, Vaan, Tante masih enak…, teken terus, yaahhh…” “Irvan kayak mimpi, Tante….,” bisikku polos. “Hm-mm, Tante juga, mimpi di surga… Peluk Tante, Sayang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagina Tante Nuning, aku jatuh tertidur. Tante Nuning juga. Kami baru terbangun ketika si Mbok pulang dari pasar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-3417641017852482757?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3417641017852482757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3417641017852482757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/tante-nuning.html' title='Tante Nuning'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-4575811458110782142</id><published>2007-09-07T10:44:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T11:01:41.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Suami Sementara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;erima kasih atas berbagai macam tanggapan yang saya terima dari cerita pertama saya. Tapi saya tekankan bahwa saya mengirimkan cerita bukan karena maniak atau mencari kenikmatan yang lain. Karena selama saya berhubungan dengan Santika, saya tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki lain. Selain itu cerita yang saya buat bukanlah fiktif atau rekayasa, melainkan cerita nyata yang saya alami. Berikut merupakan kisah lain saya dengan Santika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu Santika menjadi" suami"ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Santika benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Santika selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu sekitar jam setengah 10-an. Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Santika meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Santika padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuk.. Nggak dikunci," panggilku dengan suara halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Santika masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana putih sependek paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam ibu... Sudah siap..?" Godanya sambil medekatiku.&lt;br /&gt;"Sudah sayang..." Jawabku sambil berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Santika menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?"&lt;br /&gt;"Memangnya lewat mana..?" Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Santika berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari sini bu.." Bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Santika masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Santika lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang," Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tangan Santika menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Santika dan menyedotnya dengan keras air liur Santika, kulilitkan lidahku menyambut lidah Santika dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan "push up bra style". Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Santika lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana "mini high cut style".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santika tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Santika mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku. Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Santika memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman Santika dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas tautan dengan bibir hangatku, Santika lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saan... Saann... Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santika lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Santika, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Lalu Santika menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Santika mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Santika dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Santika menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas. Lalu Santika merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Santika semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santika segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah. Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Santika dan menekannya kebawah sambil mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssaann.. Aarghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Santika yang mancung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann.." Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.&lt;br /&gt;"Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santika segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Santika dalam rongga mulutku yang indah. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Santikapun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa aku cukup beristirahat Santika mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Santika yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya. Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Santika, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Santika yang berambut, Kubelai dada Santika yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Santika mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, Santikapun mengerang dan mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Santika ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Santika sampai akhirnya kekemaluan Santika yang sudah membesar dan mengeras. Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Santika yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit Santika yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Santika dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Santika memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya," Santika mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Santika yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan keadaan Santika yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Santika dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Santika menghadap kekakinya. Dan kumasukkan kontol Santika yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santika berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol Santika yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Santikapun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan"&lt;br /&gt;"Ibu pandai... Ibu liaarr... Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Santika memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Santika menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Santika yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buu... Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!"&lt;br /&gt;"Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya... Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Santika jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan. Segera kusambar bibir Santika, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Santika. Kudekap badan Santika yang sama mengejang, basah badan Santika dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Santika membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya.." Bisiknya lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-4575811458110782142?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4575811458110782142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4575811458110782142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/t-erima-kasih-atas-berbagai-macam.html' title='Suami Sementara'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-8100605920858164501</id><published>2007-09-07T10:33:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T10:36:23.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Silvi Kakak Evi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:lucida grande;font-size:180%;"  &gt;S&lt;/span&gt;etelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel. Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme. Sejak kuliah di Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda. Hanya saja aku dapat previlege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Evi pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi. Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda dengan Evi mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Evi akan hilang kemarahannya kalau kucumu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru pulang kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.&lt;br /&gt;"Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki." Rayuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vi, ingat film yang dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan penisku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi". Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan terlihat dari belahan bathropenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang sekali untuk dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar dari Evi, karena aku belum pernah menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Evi sedang ke Yogya, dia sedang Praktek kerja selama 2 bulan" Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.&lt;br /&gt;"Jadi selama ini kamu suka make love ya sama Evi, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku"&lt;br /&gt;"Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi" Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 hingga 8,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang kamu bilang tadi?" Tanya Silvi memancingku.&lt;br /&gt;"Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih" Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur. Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.&lt;br /&gt;"Kamu sudah lama make love dengan Evi, Ren?" Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.&lt;br /&gt;"Tubuh Mbak harum sekali", kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat Silvi semakin hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payudaranya yang putih dan tegak menantang berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hh" Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak Ren" Ucapnya sambil mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir vagina Silvi sudah basah ketika kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh, terus Ren", Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.&lt;br /&gt;"Ohh Ren enak sekali Ren", desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh Ren", Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh Ren, enak Ren", racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus Ren", desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh Ren, aku keluar Ren", aku pun merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besar juga punya kamu Ren, panjang lagi" Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Evi, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh Rendra.. Begitu sayang, enak sekali sayang" Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.." desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren.." begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak dari Evi adiknya. Lebih sempit sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar, desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak aku mau keluar Mbak" Kataku.&lt;br /&gt;"Di dalam aja Ren biar enak" desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.&lt;br /&gt;"Ahh" Desahku saat aku memuntahkan semua cairanku kedalam lubang rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Silvi menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga keringatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya" Kata Silvi.&lt;br /&gt;"Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit, legit dan harum lagi." Ucapku.&lt;br /&gt;"Memang vagina Evi enggak" senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Evi" jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.&lt;br /&gt;"Penis kamu masih keras Ren?" tanya Silvi sambil memutar pinggulnya.&lt;br /&gt;"Masih, Mbak masih mau lagi?" tanyaku&lt;br /&gt;"Mau tapi Mbak diatas ya" Kata Silvi.&lt;br /&gt;"Cabut dulu Ren"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi tidak ada kucumbu saja kakaknya dulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-8100605920858164501?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8100605920858164501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8100605920858164501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/silvi-kakak-evi.html' title='Silvi Kakak Evi'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1459529535737591936</id><published>2007-09-07T09:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T10:29:17.663-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3 in 1'/><title type='text'>Fanti &amp; Elina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ama saya Antoni, saya ini laki-laki yang dilahirkan dengan libido yang sangat tinggi, umurku 30 tahun, Karena libido ini juga, saya belum pernah menikah, ga tau kenapa???? Saya ga pernah puas dengan pelayanan pacar pacar, bahkan sampe skrg. Saya selalu mencari kepuasan di luar. Buat saya gampang cari ceweq atau tante model apapun, walaupun hanya modalnya dg senyum, wajahku kata teman teman ku cute..., postur tubuhku atheltis karena dulu saya sering fithness, tinggi 178cm dan berat 75kg. Saya selalu melanglang buana cari kenikmatan dunia... Tapi entah kenapa sejak sekolah dulu banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarku. Mungkin karena otakku yang cerdas dan kepandaianku bergaul atau karena aku memang memiliki daya tarik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di suatu daerah strategis di Jakarta Barat. Saya seorang wiraswasta. Saya membuka sebuah bengkel di wilayah perkantoran di Jakarta Selatan. Sekarang usaha itu sudah saya serahkan ke adik, sementara saya melanglang ke Jawa Timur tepatnya ke kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah saya ini berawal kurang lebih 2 tahun yg lalu. Dengan kepandaianku mengelola saat itu saya telah memiliki banyak pelanggan di bengkel Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yg bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Fanti, usianya 47 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Saya sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya sedang nunggu Taxi mau pulang, saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya nunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Fanti di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya "Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak? tanpa basa - basi. Saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita ngobrol2 di dalam mobil. Singkat kata Mbak Fanti mengajakku ke discothique, waktu itu malam minggu.&lt;br /&gt;Sesampainya di discothique. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua," kata Mbak Fanti. Untuk "ON", saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Fanti. Takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Fanti. Ternyata Mbak Fanti suka triping...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Fanti segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Fanti terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping.&lt;br /&gt;Saat saya berdiri dan melihat Mbak Fanti "ON" berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Fanti menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku... Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Fanti yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Tanganku akhirnya dapat mmerasakan halus dari payudara Mbak Fanti , jari-jari ku mencari- cari puting payudara Mbak Fanti dengan menyusup ke dalam Bh Mbak Fanti. Saya remas dada Mbak Fanti dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Fanti berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mbak Fanti hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Fanti dari gerakan tubuhnya Mbak Fanti memang kelihatan ingin sekali di puasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang. "Kamu sudah on berat ya?" katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00.&lt;br /&gt;Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Fanti kelihatannya sudah mulai "Droop"...&lt;br /&gt;"Sayang saya sudah lelah," keluh Mbak Fanti.&lt;br /&gt;"Ah, masa lelah, sayang," ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.&lt;br /&gt;"Sayang..., kita pulang, yuk..," katanya. "Saya ingin istirahat".&lt;br /&gt;"Pulang ke mana?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Ke mana aja", jawabnya. Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.&lt;br /&gt;"Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini,'' ujarnya.&lt;br /&gt;"Kalau begitu, kita ke sana,"&lt;br /&gt;"Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel, Sesampainya kami dikamar Mbak Fanti langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Fanti menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membukan resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, "Woww.. besar dan kencang sekali... buat Fanti ya..." kemudian Mbak Fanti mengulum penisku yang menegang sejak tadi. "Ooogghh... ssshhh... enak sekali Mbak", ucapku. Dia mengeluarkan kontol saya yang sudah setengah tegang dan langsung di isapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Fanti dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin kontol saya, Mbak Fanti melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya.. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap memeknya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran memek Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooh... ssshhhh... aaaahhhh...!" desah Mbak Fanti. "Sayang...," dengusku sambil terus mencumbunya. Aku menarik tanganku dari memek Mbak Fanti. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya... berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya angan ku tercapai... saya ciumin, saya gigit pinggiran payudaranya, saya lumat putingnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooh... sshhhh... terrruuuusss... saaayyyy...!" desah Mbak Fanti lagi. Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya. "Ooooohh... sayang...!'' Mbak Fanti merintih nikmat. Mbak Fanti bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk kontolku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Fanti memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati kontolku sementara memeknya disumpalkan ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Mbak Fanti menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya. ''Masukkan kontolmu, cepat sayang," rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaahhhh... ssssttthhhh.... oooooohhhhhh...!" rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan. Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Mbak Fanti sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat memeknya yang sudah becek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku. "Ouuww.. oooh... ssshhhhh.... sayang, sssaaaayyyyaaaa gggaaaakkkk tttaaaahhhaaannnn.... cepet maaassssuuuuukkkiiinnn!" katanya memelas-melas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin Mbak Fanti memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Fanti sampai meneteskan air mata menahan orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, Kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemertaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras, "Acchhh... ssshhhh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan di antara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Mbak Fanti merobah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan2 ke memeknya. "Uppss... ooohhh... rasanya nikmat sekali penisku didalam memeknya. Mbak Fanti terus bergoyang naik turun.&lt;br /&gt;"Aaahhhhh... ena..aakkk..."erangku. Mbak Fanti terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas "Ssshhhh... Aaahhh...tttrruuusss... sshhhh..." erangnya. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang&lt;br /&gt;"Sssshhhttt... aaaahhhhhhh..." otot vaginanya berkontraksi meremas2 penisku&lt;br /&gt;"Oggghhh... terus sayang... nikmat sayang... oogghhh... oogghhhh... yeeaahh... nikmat sayang... terus sayangg... saya mau keluar nich dan sekitar 2 menit Mbak Fanti udah mengeluarkan cairan nikmat dari dalam memeknya.&lt;br /&gt;"Oooogghhhh... saya udah keluar sayang..." erang Mbak Fanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk. "San... San!" suara perempuan.&lt;br /&gt;Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Fanti. "Teruskan, sayang...! Itu temanku, biarkan saja," kata Mbak Fanti.&lt;br /&gt;"Saaaannn...!" pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan. "Masuk aja, Lin..., engga dikunci, kok,'' ujar Mbak Fanti.&lt;br /&gt;"Huusss..!!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?" sergahku.&lt;br /&gt;"Engga apa-apa, cuek aja.." kata Mbak Fanti enteng sambil tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, rupanya lagi pada asyik nih," kata  Erlina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar. Saya masih dalam posisi jongkok dan kontolku masih di dalam memek Mbak Fanti, dan hanya menyeringai melihat kedatangan  Erlina.&lt;br /&gt;"Mana cowokmu tadi?" tanya Mbak Fanti.&lt;br /&gt;"Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain. Habis ngewe, kami pisah,"sahut  Erlina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Fanti menarik tanganku yang tersampir di pahanya. "Ayo sayang goyangin kontolmu sayang, jangan kalah sama  Erlina yang baru habis ngewe," desak Mbak Fanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Fanti. Kontolku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang memek Mbak Fanti yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket.. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat. "Sssshhhh... Yang dalam... ceeepaaattt... aaaahhhhh...sssttthhhh..., eeeennnaaakkkk... sayyyyang... genjoooootttt..." pinta Mbak Fanti. Aku pompakan kontolku dengan penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara  Erlina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri di sana. Mungkin berendam di bath tab. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Fanti cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Fanti beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara nagaku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam memek Mbak Fanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. capek, sayang..!" rintih Mbak Fanti. "Istirahat dulu.. yah..?"&lt;br /&gt;"Sabar, donk, say. Aku sangat menikmati hangat nya memekmu," rayuku.&lt;br /&gt;Mbak Fanti lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi nagaku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Fanti yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas kontolku dari memek Mbak Fanti. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Fanti dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja  Erlina sedang berendam di bath tab dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtab. Aku menghampirinya dengan kontol yang masih tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata  Erlina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bath tab, menghadap ke arahnya.&lt;br /&gt;"Mana Fanti?" tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan kontolku yang ngaceng.&lt;br /&gt;"Dia tidur... jangan berisik," kataku sambil naik ke dalam bath tab dan langsung menindih tubuh  Erlina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.&lt;br /&gt;"Lin kamu diatas yah... " Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya kontolku sambil diarahkan kememeknya, kulihat memeknya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan memeknya. "Aaawww... enak banget memek kamu Lin..." "Enak kan mana sama punya Fanti...???" Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya kontolku mau patah ketika diputar didalam memeknya dengan berputar makin lama makin cepat.&lt;br /&gt;"Aaahhh... Lin... enak banget aaahhhh..." Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap. "Ton... saya maaaauuu keeellluuuuaaaarrr..." "Rasanya mentok... aaaahhhh..." Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.&lt;br /&gt;"Ah...Ah...Eh.." suaranya setiap kali aku menyodok memeknya.&lt;br /&gt;Kugenjot memeknya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat memeknya,&lt;br /&gt;"Lin maaauuuu kkeeeelllluuuaaarrrrr... aaaahhhh... sshhhhh... aahhhhhhh..." Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa memeknya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Fanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Fanti tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan  Erlina yang lagi bersetubuh. "Gitu yah, engga puas dengan aku kamu ngewe in  Erlina," hardik Mbak Fanti dengan nada manja, pura-pura marah.&lt;br /&gt;Eh, malah Mbak Fanti kini ikut naik ke dalam bath tab. "San, ayo gantian, aku udah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa," kata  Erlina.&lt;br /&gt;"Ayo sayang, sekarang aku akan membuat kontolmu muntah," kata Mbak Fanti.&lt;br /&gt;Segera Mbak Fanti hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton  Erlina yang duduk di ujung bath tab sambil membasuh memeknya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Fanti. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang memeknya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala kontolku ke lubang memeknya secara perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuuuh... say pelan-pelan, agak sedikit pedih say... pelan-pelan, ssshhhttt... say nikmat juga rasanya". Kutekan kontolnku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil nahan sakit...&lt;br /&gt;"Teruuusss..., pelan-pelan aja yaaa sayyy... Aaahhhh... eennnaaakkk saayyyy... sambil mainkan itilnya say... aduuuuuuuhhhhh nikamatnya... oooohhhh..." Terdengar suara kecrooooott, kecrooot bila kutarik dan kumasukan kontolku di lubang memeknya, karena suara air kali ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Fanti semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecraaat, kecrooooot semakin keras. Tak lama kemudian. "Aaaaduuuuh say aku nggak tahan lagi ingin keluar... kamu hampir keluar blum say... aduuuuuh saaayyyy... eeeennnnaaakkk teeerrruuussss... yyyyaaaannngggg ccceeeeepppaaaatttt saaayyyy.... sssshhhhh....aaaaahhhh... ".&lt;br /&gt;"Aduuuuh Sayang... terrrrusss... aaaahhhh... eeennnaaakkkk say..., nikmat sekali... rasanya ingin keluar say, aduuuuuuh... nikmatnya, teruuuusssss... yang cccceeepppaaatttt... sssaaaayyyy... aduh saya nggak tahan ingin keluar... creeett... creeettttttt... creetttttt... Kulihat Mbak Fanti terkulai lemas dan memeknya kursakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Fanti akan orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!" Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Fanti. Aku masih terus menggenjot memeknya. Wajah Mbak Fanti terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme.&lt;br /&gt;Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.&lt;br /&gt;"Sayang, saya mau keluar nich..."&lt;br /&gt;"Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Fanti juga mo keluar." Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Fanti. "Ooogghhh... saya sampai nih... aaaahhhhh.... Crroootttt....crrootttt....croottt... air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Mbak Fanti dan Mbak Fanti pun menikmatinya.&lt;br /&gt;"Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang," kata Mbak Fanti sambil memeluk dan menciumi bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan air mani kami. "Lin... emut kontolku sayang" kataku lalu mencabut kontolku dari memeknya Mbak Fanti. serr...serr..serrrr...seerr...  Erlina melumat ½ kontolku hingga air mani ku habis keluar. "Mmmmhhh... aaaahhh... enak sekali pejuhmu" katanya sambil mengocok ngocok kontolku mencari sisa air maniku.&lt;br /&gt;"Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, udah mulai menggeliat!" kataku, menggoda.&lt;br /&gt;"Hhhaaah...!!!?" teriak Mbak Fanti dan  Erlina terkesiap bersamaan kompak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya segera keluar dari bed tab mendekati  Erlina dan menyuruhnya membelakangi, Dari belakang saya mengarahkan kontolku ke memeknya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Fanti. Sleeeepp... blesss.... aku langsung memasukkan kontolku terburu buru karena sempit waktu membuat kesakitan  Erlina. "Aduuh pelan pelan dong Say..,  Erlina sakit nih" katanya agak merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih"kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.&lt;br /&gt;"Shhhh...ahhhh...shhhh..."kata  Erlina setengah merintih kenikmatan&lt;br /&gt;"Liiinnn... Memekmu sempiitt... nikmat Liiinnn..." teriak ku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleeep...bleess...cplok..cplok...cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga saya ketagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama sama sampai hampir bersamaan.&lt;br /&gt;"Shhh... ahhh... say  Erlina sampai nih"katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.&lt;br /&gt;"Iya  Erlina sayang saya juga sampai nih, didalam yah say..." kataku lalu menghunjamkan kontolku dalam dalam dimemek  Erlina.&lt;br /&gt;Seerr...serr..serr...croot...croot...croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kontolku dari memek  Erlina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontolku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan  Erlina.&lt;br /&gt;"Uuughhhhh... say enaak banget...sssstttthhhh..."katanya.&lt;br /&gt;Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah petualangan seksku dengan cewek cewek cantik yang membuatku ketagihan.&lt;br /&gt;Dan kegiatan kami ini terus berlanjut sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1459529535737591936?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1459529535737591936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1459529535737591936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/fanti-elina.html' title='Fanti &amp; Elina'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-6480444872539596537</id><published>2007-09-07T08:18:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T08:21:03.310-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Pengalaman Pertama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ada awalnya aku tidak pernah menyangka akan ML untuk pertama kali pada bulan pertamaku tinggal di Bali. Waktu itu aku baru masuk kuliah dan dapat tempat kost di daerah Denpasar. Lingkungan kostku juga cukup enak dan tenang, apalagi aku tinggal sendiri di kostku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada 4 kamar yang terisi pada saat itu. Satu keluarga muda, mungkin baru berumur 30-an, Seorang pria setengah baya, dan 2 wanita muda yang cantik dan seksi, umurnya sekitar 22-27 (mereka tinggal satu kamar) dan aku. Kebetulan mereka berdua tinggal di sebelah kamarku. Sebut saja mereka Evi dan Silvi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi yang lebih muda selalu ada di rumah sore hari, jadi aku sering mengobrol dengannya. Seminggu setelah aku tinggal di tempat kost itu barulah mulai petualangan seksku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu seperti biasa aku pulang kuliah dan tiba di tempat kostku. Tidak sengaja aku melihat ke dalam kamar Evi, Evi sedang tidur siang. Mungkin karena udara di temat kostku cukup panas dia tidak menutup jendela dan hanya mengunakan kaos tipis dan celana pendek, dan saat itu kaosnya sedikit tersingkap dan terlihat payudaranya (Evi tidur tanpa menggunakan bra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga darahku terasa naik dan penisku mengeras. Jujur saja, aku belum pernah melihat pemandangan seindah itu. Tapi saat itu aku cuma bisa mengagumi dengan melihatnya saja. Setelah puas akupun masuk ke kamarku dan mengkhayal bila aku bisa meraba payudara dan paha mulusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 3 sore aku keluar kamar, kulihat Evi sudah bangun dan sedang duduk di depan kamarnya dan memang seperti biasa kost tempatku itu sedang sepi. Masih dengan pakaian yang tadi, akupun keluar dan mengobrol dengan Evi dan sekali lagi aku cuma bisa memandangnya. Kamar kost Evi isinya cukup lengkap, TV, VCD dan bahkan kulkas. Dengan dalih mau nonton TV aku ajak Evi untuk ngobrol di dalam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ngobrol, mataku sekali-kali melirik ke badannya dan mangagumi tubuhnya. Penisku mengeras melihat itu dan akupun semakin gelisah. Melihat aku gelisah Evi tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Re?, Gak enak yah duduk dibawah?", Tanya Evi sambil senyum.&lt;br /&gt;"Ah gak kok cuma kesemutan" jawabku sekenanya sambil melirik ke arahnya.&lt;br /&gt;"Panas ya udaranya. Lihat, bajuku aja sampe basah sama keringat", katanya sambil menarik-narik bajunya.&lt;br /&gt;"Aku mandi dulu yah, kamu mau ikut gak mandi bareng aku?", sambil tertawa dan menyubit pinggangku.&lt;br /&gt;"Bener nih", tantangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi cuma tertawa dan berlalu ke kamar mandi. Kamar kost kami masing-masing ada kamar mandinya dan juga ada di belakangku. Entah kenapa tiba-tiba VCD-nya menyala sendiri (ternyata remotenya kedudukan olehku) dan ternyata ada film di VCD-nya, dan itu film porno. Aku tonton film itu dan tanpa sepengetahuanku ternyata Evi sudah selesai mandi dan telah berdiri di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo nonton BF ya", katanya tiba-tiba membuatku kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh dan oh god, Evi cuma menggunakan handuk saja. Tingginya yang 165 cm berkulit putih hanya menggunakan handuk sebatas dada dengan payudaranya yabg sedikit terlihat dan bawahnya beberapa centi saja dari lekuk pantatnya yang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh sorry vi, gak sengaja. VCD nya nyala sendiri" kataku sambil mematikan VCD.&lt;br /&gt;"Kok dimatiin, abis ini adegannya seru loh..?" katanya sambil duduk di sebelahku dan menyalakan VCD lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku yang sudah sejak siang tadi sudah menegang jadi semakin tegang sekarang apalagi noton VCD itu ditemani seorang Evi yang cantik di sebelahku dengan hanya menggunakan handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh kan adegannya seru" katanya. Saat itu di VCD tampak sang bintang wanita sedang merintih karena vaginanya dijilati.&lt;br /&gt;"Kalo dijilat gitu rasanya enak gak?" tanyaku.&lt;br /&gt;Evi tersenyum saja menjawabnya, "Dah, liat dulu aja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku semakin gelisah dan penisku semakin menegang. Evi tampak menikmati film itu dan nafasnya pun semakin berat mungkin karena gairahya yang mulai timbul sama dengan gairahku yang sudah timbul sejak siang tadi. Pelan-pelan aku mencium aroma wangi dari tubuh Evi yang segar setelah ia mandi. Dan aku pun mencium lehernya. Evi pun melengos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Ren?, Kamu mau cium aku ya?"&lt;br /&gt;"Aku dah gak kuat Vi, boleh yah aku cium Vi?"&lt;br /&gt;"Kamu dah konak ya dari tadi", katanya sambil meraba penisku dari luar. Saat itu aku pakai celana pendek Hawaii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja dan terus mencium lehernya. Pelan-pelan tanganku menarik handuknya turun sehingga terlihat payudaranya yang putih dan indah. Putingnya yang agak kecoklatan naik ketika kuraba lembut. Akupun segera melumat bibirnya sambil tanganku meraba payudaranya. Evi pun membalas ciumanku dengan hangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhh", terdengar desisnya ketika mulutku meluncur turun dan mulai menciumi payudaranya yang kira-kira berukuran 36B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku pun makin sibuk melepas seluruh handuknya sehingga membuat jariku dapat dengan mudah menyelusup ke liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssshhh terus Ren", desisnya semakin menjadi ketika tanganku mengelus klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutku pun sibuk menciumi-kedua bukit kembarnya. Tangan Evi yang semula di samping perlahan naik ke kepalaku dan meremas rambutku. Genggamannya makin kuat seiring gerakan tanganku di vaginanya yang sudah mulai basah. Pelan-pelan mulutku mulai turun menciumi perutnya dan akhirnya sampai di liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahhh Ren, enak Ren" Evi menggelinjang hebat ketika lidahku menyapu habis klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaginanya yang sudah basah dengan lendirnya semakin basah oleh sapuan lidahku. Tangannya yang sudah bebas bergerak ke penisku dan mengocok penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak Vi" erangku menerima kocokan di penisku. Penisku semakin tegang dan mulai basah.&lt;br /&gt;"Besar juga punyamu Ren" kata Evi di tengah racauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahku pun jadi semakin giat melumat habis klitorisnya. Dan akhirnya kulihat lubang kewanitaannya dan kumasukan lidahku ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ren, kamu nakal Ren" racaunya dan badannya pun menggeliat hebat, kocokannya pun pada penisku semakin cepat membuatku terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 15 menit lidahku mengobok-obok vagina dan lubang kewanitaannya, tubuh Evi pun menegang disertai desahan kepuasannya. Evi orgasme dengan menjepit kepalaku di antara kedua paha putih mulusnya. Kocokan pada penisku pun melemah padahal aku sedang merasakan nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celanaku yang masih terpakai aku lepas dan kuarahkan batang kemaluanku ke mulut Evi. Evi pun menarik penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilati kepala penisku. Tubuhkupun direbahkannya sambil terus mengulum penisku. Makin lama kuluman Evi bertambah cepat membuatku merasakan nikmat yang belum kurasakannya sebelumnya. Sambil menikmati kuluman Evi, aku melihat ke arahnya. Rambut hitamnya yang lebat menutupi sebagian besar wajahnya. Matanya sesekali terpejam dan melirik nakal ke arahku sambil mengulum penisku dengan cepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mengubah posisiku dan kembali menciumi bagian kewanitaannya dan melumat habis kllitorisnya lagi. Evi pun mendesah dan makin cepat mengulum penisku sambil sesekali tangannya memainkan buah zakarku. Cukup lama juga posisi 69 itu kulakukan sebab kenikmatan sama-sama kami rasakan. Hingga akhirnya Evi mengalami orgasme yang kedua kalinya dengan desahan puas yang cukup panjang dan melepas kulumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ren, Masukin penismu dong Ren, jangan buat aku tersiksa" racau Evi di antara desahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mengatur posisiku. Evi yang masih tidur telentang dengan kaki menekuk membuka pahanya sehingga aku dapat melihat vagina indahnya. Kuarahkan batang kemaluanku yang sudah membesar dan menegang ke lubang kewanitaannya. Pelan-pelan kumasukkan kepala penisku, kulihat Evi menggigit bibirnya ketika penisku masuk ke dalam vaginanya yang sempit. Akupun merasakan kenikmatan yang baru kali itu kurasakan ketika seluruh batang kemaluanku tertanam di lubang kemaluannya, terjepit dan seperti dipijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mengerakkan pantatku maju mundur sambil kulihat Evi memejamkan mata dan mendesah. Tak lama Evi pun mengimbagi gerakanku dengan sesekali menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih cepat sedikit Ren, ahhh, enak sekali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mempercepat gerakanku. Evi pun melenguh dan mendesah, dan pinggulnya pun makin cepat bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus Ren", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahannya membuatku semakin bernafsu dan akupun mencium bibirnya, lehernya dan belakang telingnya. Desahan dan nafasnya semakin tak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus Ren, aku sebentar lagi sampai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mempercepat gerakanku dan tak lama Kaki Evi yang melingkar di pinggangku menguat begitu juga pelukannya. Evi telah orgasme lagi. Lenguhannya yang panjang membuatku semakin terangsang. Tetapi Evi mendorong tubuhku karena badannya cukup lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu masih belum keluar ya Ren? Tanya Evi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun menarik penisku sambil dan kembali mengulumnya. Kulumannya kali ini pun cukup lama sambil tanganku memainkan klitorisnya. Setelah agak lama, Evi pun mengatur posisinya dan memeragakan gaya woman on top. Dia duduk di atas perutku sambil menggoyangkan pinggulnya dan sesekali memutarnya. Akupun mencoba bangkit karena aku tak tahan melihat payudaranya yang putih. Aku ingin sekali mencium dan melumat payudara putih dan kenyalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium payudaranya dan perlahan naik ke lehernya dan belakang telinganya. Aku suka sekali mencium belakang telinganya karena Evi selalu mendesah hebat kalau dibegitukan. Seiring dengan desahan dan gerakan tubuhnya yang semakin cepat akupun merasa aku akan mencapai puncak kenikmatanku. Desahan dan gerakannya makin cepat, akhirnya melemah diiringi desahannya yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mencapai puncak kenikmatanku saat itu. Sambil mendesah Evi pun membaringkan tubuhnya ke kasur dengan posisi penisku masih ada di dalamnya. Akupun perlahan mencabut batang kemaluaku yang telah basah oleh cairannya dan cairanku sendiri. Kucium lagi bibirnya sambil kuucapkan terima kasih padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih ya Vi, Ini pengalaman pertamaku, tapi aku puas dengan dirimu".&lt;br /&gt;"Aku juga puas dengan kamu Ren. Kamu hebat Ren".&lt;br /&gt;"Aku juga Vi", kataku sambil mencium bibirnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berdiri dan mengenakan bajuku lagi. Evi pun memperhatikan penisku ketika aku mengenakan baju. Dia duduk dan kembali mengulum penisku. Tapi itu tidak berlangsung lama padahal penisku sudah siap dan tegang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di simpan buat lain kali aja ya Ren", katanya ketika nafasku mulai kembali tidak beraturan.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum, "Masih ada lain kali ya Vi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evi hanya tertawa dan kembali ke kamar mandi. Ternyata 'lain kali' itu adalah keesokan harinya dan berlanjut terus setiap kali ada kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-6480444872539596537?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6480444872539596537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6480444872539596537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/pengalaman.html' title='Pengalaman Pertama'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-4335209659241965025</id><published>2007-09-07T07:42:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T07:46:06.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Berlibur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;allo nama saya Dandy. Saya ingin mencoba berbagi pengalaman saya yang sangat menarik. Karena ini adalah pengalaman saya berkenalan dengan seorang gadis dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamanku ini terbilang langka. Sebab akupun sampai sekarang masih belum percaya akan hal yang telah aku alami itu. Aku adalah seorang remaja berumur 16 tahun. Pada umurku yang segini, tinggi badanku hanya 165cm. Badanku ideal, dan wajahku agak sedikit tampan. Suatu hari ketika aku sedang mangikuti karyawisata di sekolahku yang kebetulan waktu itu sekolahku mengadakan karyawisata ke sebuah pantai di jawa barat. Kami sampai disana pada jam 2 dini hari. Otomatis semua guru dan siswa kelelahan dan lansung tidur. Tapi tidak dengan aku, karena di bis aku sempat tertidur maka aku bisa tertidur ketika waktu manunjukan tepat pukul 4 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya aku terbangun sekitar jam 9. Dan ketika terbangun aku heran kaena teman-teman sekamarku semuanya tidak ada. Waktu itu aku segera keluar kamar dan melihat bis sudah tak ada. Ternyata mereka sudah pergi ketempat tujuan mereka. Ketika aku menanyakan kepada cleaning servis di situ, ternyata benar. Sekitar jam 7 pagi tadi mereka sudah berangkat. Aku sangat kesal akan hal itu, kesal karena tidak ikut dan kesal karena temanku tidak membangunkan aku. Karena masih kesal, aku langsung keluar dan bejalan-jalan di pantai. Karena kebetulan hotel kami menginap berdekatan dengan pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di pantai, aku merasa heran karena pantai ini sangat sepi, tak ada seorangpun ada disini. Tapi aku langsung menarik kesimpulan bahwa pantai ini sepi karena pantai ini bukan pantai pariwisata. Tanaman di pantai ini cukup tinggi dan banyak sekali sampah disini. Mungkin karena itu orang tidak suka dengan pantai ini. Dengan bertelanjang kaki, aku menelusuri pantai ini. Sepanjang pantai aku hanya menemukan sampah plastik dan sampah bekas makanan instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hatiku mulai tenang, tiba-tiba aku melihat sesosok tubuh yang tergeletak di tepi pantai. Aku segera berlari menghampirinya, dan segera menyeretnya ke bawah pohon yang cukup rindang. Ketika kuperhatikan, ternyata dia adalah seorang gadis yang yang sebaya dengan saya dan dia berparas cantik dengan rambut panjang. Gadis itu memakai pakaian renang yang cukup indah. Aku coba memeriksa denyut nadinya dan ternyata denyut nadinya masih bergerak dan suhu tubuhnya pun masih hangat. Saya pikit dia hanya pingsan dan terseret oleh air laut ke sini. Tapi aku masih merasa heran, darimana datangnya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku coba memeriksa sekujur tubuhnya siapa tahu ada identitas tertinggal di sana. Tapi ketika aku memeriksa tubuhnya, langsung timbul pikiran-pikiran ngeres di otakku. Sesekali aku sentuh dadanya yang lumayan besar. Dan aku selalu memperhatikan pada bagian vagina. Tak terasa kemaluanku sudah berdiri tegak. Ketika itu timbullah niatku untuk berbuat cabul terhadap gadis itu. Sedikit demi sedikit aku menyingkirkan celana renangnya yang menutupi vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah terbuka terlihatlah bukit kecil dengan bulu yang sangat terawat. Aku langsung menyentuh mulut vaginanya. Karena tak tahan aku langsung malepas celanaku dan langsung mengocok kemaluanku sambil aku menggesek-gesekkan jariku ke mulut vaginanya itu. Tapi karena aku masih belum merasa puas dengan hanya beronani, aku mencoba untuk menyentuh-nyentuhkan kemaluanku ke mulut vagina itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. ternyata vaginanya hangat sekali.. mmhh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku masih belum merasa puas juga, akhirnya aku langsung melepaskan semua pakaian renangnya. Dan setelah terlepas ternyata tubuh gadis itu lebih indah dari sebelumnya. Tanganku langsung meraih payudaranya yang putih dan meremas-remas payudara itu. Kemaluanku yang terus berdiri, kugesek-gesekkan dengan mulut vaginanya itu. Tak puas dengan itu, aku langsung memainkan puting susunya yang berwarna pink. Dengan tangan kiri masih memegang payudaranya, tangan kananku bergerak menuju vaginanya. Lalu kucoba menusuk-nusukkan jariku kedalam lubang vaginanya yang ternyata masih rapat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jariku berhasil masuk ke dalam lubang vaginanya itu, tiba tiba gadis itu bergerak. Aku langsung menghentikan kegiatanku itu kerena aku sangat terkejut sekali. Dan setelah ku perhatikan ternyata dia masih pingsan. Aku sempat menunggu beberapa saat untuk memastikan dia tak bergerak. Lalu setelah yakin dia tak bergerak, kembali aku memainkan vaginanya dengan jariku. Kucoba untuk menikmati hal itu, aku langsung mendekatkan wajahku ke depan mulut vaginanya itu. Kulihat mulut vaginanya itu sangat merah dengan lubang yang sedikit basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku langsung manciumi mulut vagina itu sambil kedua tanganku membuka lebar mulut vaginanya. Setelah beberapa saat aku menciumi mulut vaginanya, lidahku kujulurkan untuk memainkan klitorisnya. Kurasakan nafas gadis itu menjadi sedikit lebih kasar. Nafasnya menjadi lebih cepat. Dan ketika nafasnya makin cepat, tiba-tiba dari lubang itu keluar cairan putih yang hangat membasahi wajahku.&lt;br /&gt;"Wah.. aku berhasil membuatnya orgasme.. sekarang gilian saya harus orgasme.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung mempersiapkan kemaluanku yang sudah mencapai ukuran maksimal untuk memcoba memasuki lubang vaginanya. Aku langsung mencoba memasukkan kemaluanku ke dalam vagina itu dengan menggesek-gesekan kemaluanku terlebih dahulu, tapi ketika aku akan memasukan kemaluanku ke dalam lubang vaginanya ternyata lubang vaginanya itu terlalu sempit untuk dimasuki. Kemaluanku malah membengkok. Aku pun mencoba membantu kemaluanku dengan tanganku dan akhirnya kemaluanku berhasil masuk. Aku terus mencoba untuk memasukan kemaluanku hingga semua batang kemaluanku masuk kedalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil masuk kedalam lubang vagina itu, kurasakan pijatan pada batang kemaluanku dan hangatnya lubang vagina itu mambuat kemaluanku semakin keras berdiri.&lt;br /&gt;"Aahh.. ternyata vagina itu sangat manyenangkan.. hangat sekali.."&lt;br /&gt;Aku langsung mengangkat pinggul gadis itu sejajar dengan kemaluanku. Lalu dengan perlahan aku gerakan pinggulku ke depan dan kebelakang.&lt;br /&gt;"Aahh.. enak sekali.."&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat aku menggenjot, aku mencoba mempercepat genjotanku hingga akhirnya nafsuku telah sampai pada puncaknya.&lt;br /&gt;"Aahh..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan desahan panjang dari mulutku, aku keluarkan semua maniku dalam tubuh gadis itu. Aku langsung terkulai di pasir pantai. Aku membaringkan tubuhku di samping gadis itu. Aku barbaring sambil memandang ke atas dan sesekali aku memandang wajah gadis itu yang terlelap dengan wajahnya yang lugu. Dan sesekali aku memegang payudaranya yang sangat menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sore menjelang, aku terus memainkan tubuhnya karena aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Beberapa saat aku berpikir untuk menemani gadis ini hingga sadar. Tapi kadang aku merasa takut akan apa yang telah aku lakukan tadi. Tapi setelah berpikir beberapa kali, akhirnya aku memutuskan untuk menemani gadis itu hingga siuman. Ditemani api unggun dan debur ombak, sambil bersandar di pohon aku memeluk gadis itu dari belakang. Dan walaupun begitu pikiran kotorku tak pernah hilang. Sambil aku memeluknya, mencoba untuk menghangatkannya, tanganku tak henti-hentinya memegangi payudaranya yang waktu itu dia masih telanjang karena aku tidak ingat untuk memakaikan pakaian renangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat jam tanganku, dan waktu menunjukan tepat jam 7 malam. Beberapa saat kemudian akhirnya dia siuman. Dia langsung terkejut dan berdiri manjauhiku.&lt;br /&gt;"Hey..! apa yang kamu lakukan. Kenapa aku telanjang!"&lt;br /&gt;"Eeit.. tenanglah. Diam dan dengarkan aku.. aku akan menjelaskan semuanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian akupun menjelaskan semuanya, dari mulai aku menemukan dia sampai dia siuman. Mendengar ceritaku dia sempat meneteskan air mata. Dengan air mata bercucuran, dia menceritakan semuanya. Kami kemudian berkenalan dan namanya Nadila. Dan ternyata dia adalah putri dari seorang jutawan dari kota X. Dia terseret ombak ketika dia sedang berenang di pantai dan dia tak sadarkan diri hingga dia bangun disini.&lt;br /&gt;"Begitulah semuanya berawal.. "&lt;br /&gt;"Oohh jadi begitu.."&lt;br /&gt;"Vid, kamu bisa tolong saya.."&lt;br /&gt;"Iya apa saja!"&lt;br /&gt;"Tolong hangatkan saya.. saya kedinginan dan saya tidak bawa pakaian, pakaian saya basah."&lt;br /&gt;"Eemmhh.. baiklah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mandekatkan tubuhnya yang putih ke tubuh saya. Dia hanya memeluk lututnya di dalam pelukan saya.&lt;br /&gt;"La, kalo kamu cuma begitu kamu akan kedinginan"&lt;br /&gt;"Lalu aku harus gimana?"&lt;br /&gt;"Agar tidak kedinginan kamu harus bergerak."&lt;br /&gt;"Contohnya apa?"&lt;br /&gt;"Eemmhh.. gimana kalo .. kalo kita itu.. eemmhh.. ML"&lt;br /&gt;"Apa..!"&lt;br /&gt;"Mau nggak?"&lt;br /&gt;"Mau sih.. tapi.."&lt;br /&gt;"Sudahlah lakukan aja.." kataku sambil terus memeluk dan menciumnya dengan lembut.&lt;br /&gt;Beberapa saat kamu berciuman dengan tubuh tanpa busana. Sesekali tanpa disengaja kemaluanku yang sedang berdiri menyentuh-nyentuh perutnya. setelah beberapa menit kami berciuman, aku langsung menarik mulutku dari mulutnya. Aku langsung menyuruhnya untuk mengulum kemaluanku yang sudah lama berdiri.&lt;br /&gt;"sekarang kamu kulum penis saya..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara dia langsung menuruti semua apa yang saya katakan. Dia langsung mengulum kemaluanku. Pertama dia masih ragu, tetapi setelah beberapa saat dia mengulum kemaluanku akhirnya dia menikmatinya. Nafasnyapun mulai cepat.&lt;br /&gt;"mmhh.. bagus sekali .. iya terus mmhh.."&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit dia mengulum kemaluanku akhirnya aku sudah mencapai puncak. Aku mengeluarkan maniku kedalam mulutnya dan dia pun langsung mengeluarkan maniku dari mulutnya.&lt;br /&gt;"Kamu jorok banget, kok kencing di mulut saya. Mana asin lagi!"&lt;br /&gt;"Ehh..! kamu kok spermanya dibuang, itu namanya orgasme bukannya kencing. Dan kalo orang lain, spermanya suka di minum. Katanya sih biar awet muda"&lt;br /&gt;"Oohh gitu ya.."&lt;br /&gt;"Iya sekarang giliran saya jilatin vagina kamu..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia langsung merebah di pasir dan membuka selangkangannya lebar-lebar. Kemudian aku memulai dengan menciumi pahanya lalu berpindah ke dadanya lalu ke perutnya lalu aku manciumi mulut vaginanya. Setelah seluruh permukaan mulut vaginanya aku kulum, aku mencoba membuka vaginanya lebar lebar dan langsung menghisap klitorisnya yang terasa lebih keras.&lt;br /&gt;"aahh.. geli sekali..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung memainkan klitorisnya yang tersasa hangat dimulutku. Dia pun mengeluarkan desahan-desahan kecil yang membuatku semakin ingin melumat seluruh vaginanya. Setelah beberapa saat aku melumat vaginanya itu, aku langsung menghentikan kegiatanku itu.&lt;br /&gt;"Eehh.. kenapa berhenti! Lagi enak nih..!"&lt;br /&gt;"Tunggu dulu biar lebih nikmat.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung meraih kemaluanku yang sudah berdiri lagi. Aku langsung mengarahkan kemaluanku kearah vaginanya yang sudah terlihat basah sekali. Dan ketika aku memasukannya ternyata kali ini lebih mudah dari sebelumnya. Diiringi desahan yang sedikit keras, aku tanamkan kemaluanku dalam-dalam.&lt;br /&gt;"Aahh..!! Sakit..!"&lt;br /&gt;Lalu perlahan aku mulai manggenjot pinggulku. Perlahan desahan sakit yang keluar dari mulutnya berubah menjadi desahan nikmat.&lt;br /&gt;"Ahh.. enak.. ayo terus..!"&lt;br /&gt;Ditengah aku sedang menggenjot vaginanya, aku langsung menyuruhnya untuk bangkit.&lt;br /&gt;"Nadila.. kita coba dogy style..!"&lt;br /&gt;"Apa tuh..?"&lt;br /&gt;"Sekarang kamu nungging seperti anjing.."&lt;br /&gt;"Oohh.. baiklah.."&lt;br /&gt;Kemudian dia menungging dan aku langsung menyambut vaginanya dari belakang. Lalu akupun langsung menggenjot kembali pinggulku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. aahh.. enak mmhh.."&lt;br /&gt;Setelah hampir mancapai puncak, aku langsung mempercepat genjotanku yang mambuat timbulnya suara benturan pinggulku dengan pantatnya. Dan dengan diiringi desahan panjang dari mulutnya, terasa cairan hangat membasahi kemaluanku. Aku pun terus mampercepat genjotanku dan akhirnya aku pun mengeluarkan maniku didalam tubuhnya. Dan kamu pun langsung terkulai lemas di pasir pantai. Kami barbaring sambil saling berpelukan. Kamipun tertidur disaksikan oleh cahaya bulan dan deburan ombak. Pagi-pagi sekali kami terbangun dan dia segera memakai pakaian renangnya kembali. Aku langsung mengantarnya pulang ke villanya yang letaknya ternyata tak jauh dari hotel tempat aku menginap. Kami sempat bertukaran no. telepon sebelum kami berpisah.&lt;br /&gt;Setelah sampai di hotel, saya melihat rombongan sekolah saya telah kembali ke hotel dan bersiap untuk pulang.&lt;br /&gt;"kamu dari mana aja Ton! Kok baju kamu kotor begitu.. semalem tidur dimana..!" tanya temanku .&lt;br /&gt;"Aahh enggak, dari pada aku boring di hotel mendingan aku keluar. Gara-gara kalian juga aku nggak ikut.. huh dasar!"&lt;br /&gt;"Pokoknya kamu nyesel banget lah nggak ikut.."&lt;br /&gt;"Eit.. tunggu dulu. Yang nyesel itu pasti kalian bertiga, pake ninggalin segala..!"&lt;br /&gt;"Emangnya kenapa..?"&lt;br /&gt;"Ah ada aja..!"&lt;br /&gt;"Wah.. ni anak bisa aja bikin penasarannya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kamipun pulang dan sesampainya di sana saya langsung menelepon Nadila. Dan ternyata dia sedang ada di kotaku. Kamipun segera menentukan tempat untuk ketemuan. Dan yang pasti setelah kami ketemuan, kami melakukannya lagi. Setelah saat itu kami pacaran hingga sekarang. Untuk menjaga agar hubungan kami tidak rusak karena hamilnya dia, aku memintanya agar meminum pil KB.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-4335209659241965025?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4335209659241965025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4335209659241965025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/berlibur.html' title='Berlibur'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1685665762270355543</id><published>2007-09-07T07:07:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T07:15:45.001-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3 in 1'/><title type='text'>Imel &amp; Mbak Indah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ebut saja namaku Dody, usiaku saat ini 32 tahun, kulit kuning bersih badan agak kurusan sedikit. Ini adalah pengalamanku pribadi semasa aku di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku kuliah dulu di Solo aku punya pacar anak Palembang sebut aja namanya Imelda tapi aku lebih suka memanggilnya Imel, dia sekolah di SMA di Yogya. Anaknya lugu dan baik hati. Tapi dibalik keluguan itu nafsu sexnya besar sekali dan benar-benar hot! Hampir tiap minggu aku ke Yogya dan main ke kost Imel. Kost dia punya aturan yang cukup ketat sebagai kost putri di Yogya, tamu untuk siang hari dibatasi jam 08.00 s/d 13.00 dan lanjut sampai 17.00 s/d 22.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di hari minggu saat aku ke Yogya waktu sudah menunjukan pukul 12.00 berarti aku cuma ada waktu 1 jam di kostnya, walau ketat aturannya tapi teman yang bermain boleh masuk ke kamar dengan catatan pintu tidak boleh ditutup rapat rapat. Waktu satu jam itu aku manfaatkan dengan baik untuk mencumbunya, aku gerayangi sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai kakinya, kami saling bergumul bak berkelahi saja. Kebetulan tempat tidurnya tepat di belakang pintu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 1 siang, terpaksa kami hentikan permainan yang tanggung itu. Dan dengan berat hati kami berbenah ruangan yang sudah seperti kapal pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Dody ke kostnya Agus ya?" tanya dia sambil membetulkan kancing bajunya.&lt;br /&gt;"Iya, mau ikut tah?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Malas.. Panas!" Kami saling pandang seolah tidak terima dengan perpisahaan yang sesaat itu.&lt;br /&gt;"Gimana kalau kita tidur disini saja" bisiknya.&lt;br /&gt;"Terus?"&lt;br /&gt;"Ya, kita kunci aja kamar dari dalam, biar Ibu kost gak tahu! anggap aja Imel lagi tidur kan beres?"&lt;br /&gt;"Ha.. Gila lu!" kataku pendek.&lt;br /&gt;"Mas Dody kan juga capek baru dari Solo, ntar di Kost Mas Agus gak bisa istirahat, paling juga bengong!"&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak, "benar juga.." pikirku.&lt;br /&gt;"Benar nih gak taku ama Ibu kost?"&lt;br /&gt;"Siapa takut.."&lt;br /&gt;"Okelah, tapi ntar aku tak ke kamar mandi sebentar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari kamar mandi kulihat dia udah ganti pakaian tidur dengan lengan terlihat mulus, kuning kecoklat coklatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imel tutup pintunya ya Mas.."&lt;br /&gt;"Hemmm.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaringkan badanku di kasur yang empuk, dan dia di sampingku sambil memelukku seolah tak mau kehilangan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.." tiba tiba aja dia bergumam.&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;"Kurang ajar nih semut gigit paha Imel" ujarnya sambil menyingkap daster bawahnya.&lt;br /&gt;"Wah bener kurang ajar tuh semut gua aja belum pernah gigit paha Imel kok dia udah duluan.."&lt;br /&gt;"Emang mau gigit, tapi abis gigit mesti mati ya.. Hi.. Hi.."&lt;br /&gt;"Tu kan Mas, jadi merah.. Emang kurang ajar semut itu!"&lt;br /&gt;"Sini Mas Dody cium biar sembuh.." jawabku layaknya orang pacaran yang sok pahlawan.&lt;br /&gt;"Gombal.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil iseng aku lihat pahanya yang digit semut itu dan, "Wow.. Mulus juga nih paha" batinku. Aku usap paha itu dengan lembut beberapa kali, dan tiba tiba saja aku cium paha itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iihh geli Mas.." Suara itu membuat ku birahi!&lt;br /&gt;"Geli apa enak?" bisikku, tanganku mulai menggerayangi buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam saja, tanganku mulai kuselipkan dibalik bajunya dan menggerayangi pentilnya yang sudah mulai mengeras. Sementara tangan kiriku mulai menyelinap dibalik celana dalamnya dan kugesek gesek kan pada tempik-nya. Kusingkapkan dasternya keatas sehingga terlihat jelas gundukan tempiknya di balik celana putihnya. Dia diam saja. Sedikit demi sedikit mulai aku tarik celana dalamnya ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo terus kalau berani.." tiba tiba aja dia berkata, aku sempat kaget dengan celetukannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap saja sudah aku telanjangi dia, mulus! Tanpa banyak acara lagi aku juga ikut telanjang, aku gesek gesekkan kontolku ke tempik-nya. Nikmat rasanya, tapi aku tak berpikir yang lain cukup gesek-gesek saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bercanda dia bilang, "Ayo kalau berani dimasukkan Mas".&lt;br /&gt;"Gila kamu.."&lt;br /&gt;"Hi.. Hi.. Takut ya.."&lt;br /&gt;"Emang kenapa takut?"&lt;br /&gt;"Coba aja.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dia cuma bercanda karena selama ini kita pacaran memang sangat berhati hati. Tapi dia terus mengejekku.. Akhirnya tergoda juga aku. Aku masukkan helm kontolku ke tempiknya yang jelas sudah basah kuyup, tapi aku masih ragu. Tapi terasa sangat hangat dan luar biasa.. Aku masukan sedikit lagi dan hampir separuh kontolku sudah masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas jangan.. Ingat ya.. Jangan.." katanya&lt;br /&gt;"Kenapa.. Kamu takut ya.."&lt;br /&gt;"Jangan Mas, keluarkan" pintanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menggesek gesekannya, nikmat rasanya! Tiba tiba saja dia menggeserkan pantatnya ke samping dan mendorong pahaku. Kontolku terlepas, kami saling berpandangan sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai nakal ya?"&lt;br /&gt;"Habis ditantang sih.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencium lembut bibirku, aku balas dengan lembut dan kami saling berpelukkan erat, aku ciumi leher dan telinganya, dia mulai menggeliat aku terus menyerangnya perlahan lahan aku cumbu buah dadanya dan terus aku merayap ke bawah sampai tempik-nya. Bau anyir yang merangsang keluar dari tempik nya, aku jilati tempiknya, dia menggeliat nikmat, matanya terpejam. Aku semakin rakus melahapnya dan aku masukkan lidahku ke dalam tempiknya. Dia menggeliat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ukhh.. Enak Mas", Aku tambah semangat.&lt;br /&gt;"Terus Mas.. Enak.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lepas mulutku dan aku ganti dengan kontolku. Nafsu besar dan nikmat yang aku rasakan membuat ku tak sabar memasukkan kontolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.. Pelan pelan Mas"&lt;br /&gt;"Ya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh kontolku sudah masuk, tapi susah sekali masuk lebih dalam. Aku tarik sedikit masuk lagi, mudur masuk.. Mundur.. Masuk tak terasa hampir masuk semua kontolku ke tempik nya. Aku remas buah dadanya sambil aku ciumi lehernya, dia terlihat merem melek merasakan nikmatnya kontolku. Tiba tiba saja ada yang menarik kontolku dari dalam tempiknya dan nikmat sekali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh.. Enak sekali sayang.."&lt;br /&gt;"Tekan Mas.. Tekan lagi.. Pelan pelan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan kontolku keras dan terasa membesar didalam tempik Imel, aku sodokkan kontolku dengan pelan tapi pasti, dan semakin terasa ada yang menarik narik kontolku di dalam tempik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhh.. Sakit Mas.. Enak Mas.. Terus.. Terus.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erangan itu membuat aku semakin mengencangkan pelukanku terhadap dia, aku peluk dia erat-erat dan dia juga memelukku erat sekali sambil menahan sakit tapi enak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuuhhh.." desis dari mulutnya sambil mengejang sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;"Ehmmhh.." badanku juga terasa mengejang nikmat sekali sperma ku kelar dengan deras memasuki tempiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa hangat kontolku, nikmat dan tak terucapkan dengan kata kata hanya erangan nikmat dari mulut kami berdua. Tiba tiba aku merasakan cairan hangat merampat di pahaku, aku terkejut bukan main. Aku tarik kontolku dari tempik Imel. Mataku terbelalak melihat cairan itu. Darah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mi.."&lt;br /&gt;"Mas.. Apa yang kita lakukan?" Pandangannya juga nampak kaget.&lt;br /&gt;"Maaf Mi.." kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba saja Imel memelukku erat erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imel sayang Mas Dody"&lt;br /&gt;"Mas Dody juga sayang Imel"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rebahkan dia di kasur yang empuk, kami saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imel gak menyesal kok Mas, Imel senang", Ah, lega rasanya mendengar kata kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok.. Tok.. Tiba tiba saja pintu di ketok! Kami kaget bukan main, bingung mau apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mi.. Buka.. Tidur ya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak bergerak cuma saling pandang, pelan pelan kami mengambil baju masing masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu  Mbak Indah"&lt;br /&gt;"Diam aja Mas, pura-pura tidur gak dengar!"&lt;br /&gt;"Mi,  Mbak Indah pinjem hairdryer"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan ini rasanya panas dingin, kami tidak berani memakai baju karena takut berisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klek.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pintu terbuka, ternyata  Mbak Indah punya juga kunci kamar kost Imel yang memang berdampingan. Rasanya dunia mau runtuh saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mi.. Mas.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Indah seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Cepat cepat  Mbak Indah masuk dan mengunci kamar Imel, dan  Mbak Indah siap mengadili kami berdua yang masih telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa apaan ini?" Sambil melirik tempat tidur yang berantakan dan ada noda darah keperawanan Imel.&lt;br /&gt;"Teh.. Maaf kan saya Teh" ucapku pelan.&lt;br /&gt;"Saya yang bersalah Teh, bukan Imel"&lt;br /&gt;"Kenapa Mas Dody lakukan?  Mbak Indah udah percaya sekali ama Mas Dody!" sambil meneteskan buliran air mata kekecewaan.&lt;br /&gt;"Maaf Teh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba saja  Mbak Indah memelukku yang masih telanjang! dan kontolku menyentuh tubuhnya yang lebih kecil dari Imel. Pelukkan erat  Mbak Indah membuat kontolku berdiri lagi, dan aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Celaka nih, tegang lagi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imel pun ikut memeluk kami yang masih berpelukkan, buah dada Imel membuat aku tambah merangsang. Aku beranikan mencium bawah telinga  Mbak Indah yang masih terisak di pelukkanku. Harum juga karena  Mbak Indah memang baru selesai mandi. AKu tambah terangsang dan aku ciumi leher  Mbak Indah, sedikit aku merasakan gerakan  Mbak Indah yang ternyata dia juga terangsang dengan ciumanku ditambah posisi telanjangku dan kontolku yang menempel di sekitar pusar  Mbak Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba kencangkan pelukanku terhadap  Mbak Indah, sementara aku ganti mencium Imel yang juga memeluk  Mbak Indah, Imel menyabut ciumanku dengan lahapnya sementara  Mbak Indah yang ada dalam pelukan kami berdua pada posisi ditengah karena memang Imel memeluk  Mbak Indah dari belakang dan saya dari depan. Tak ayal  Mbak Indah cuma menggeliat diantara kami, tanganku turun kebawah ke arah pantat Imel yang tepat dibelakang  Mbak Indah. Aku tarik pantat Imel ke depan sehingga mendorong tubuh  Mbak Indah lebih merapat ketubuhku dan menjepit kontolku. Aku goyangkan pantat Imel perlahan lahan dengan harapan badan  Mbak Indah juga ikut bergoyang, dan harapanku itu terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan  Mbak Indah bergoyang menggesek gesek kontolku, tangannya bertambah erat memelukku. Tiba tiba saja Mulut  Mbak Indah mulai menyerang leherku, rupanya dia juga gak tahan melihat aku dan Imel semangat berciuman. Tanganku mulai berani meraba buah dada  Mbak Indah dan  Mbak Indah tidak menolak bahkan seolah olah menikmatinya. Mata Imel memandangku dengan sorot tajam seolah melarang aku meraba kakaknya itu tapi aku pura-pura tidak melihat. Perlahan tanganku aku turunkan dan meraba tempik Imel dengan tangan kanan, dan tangan kiriku mulai merayap dibalik celana dalam  Mbak Indah. Aku lihat Imel menikmati tanganku yang sudah meremas tempik nya, dia terlihat memejamkan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesempatan" batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempik  Mbak Indah pun tak lepas dari tangan kiriku dan  Mbak Indah juga menikmatinya.  Mbak Indah sedikit melorotkan badannya dan mencium pentil susuku yang kecil dan dia terus bergerak ke bawah sambil meremas kontolku. Dan sesaat  Mbak Indah sudah sibuk dengan mulutnya menikmati kontolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Indah mendorong badanku hingga aku terjatuh di spring bed, Imel pun mendahului  Mbak Indahnya memegang kontolku seolah dia tak rela kontolku di jamah  Mbak Indahnya. Imel langsung memasukkan kontolku kedalam tempiknya yang sudah basah dan sedikit noda darah masih ada, sementara  Mbak Indah harus puas melahap mulutku. Imel begitu semangat mengenjot kontolku dengan gerakan naik turun sambil mengerang kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ukhh" Imel mengeluh sambil badanya mengejang, rupanya dia sudah keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Indah yang melihat Imel sudah orgasme memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil posisi mengarahkan mulutnya ke kontolku dan tempiknya diarahkan ke mulutku. Posisiku dan posisi  Mbak Indah saling berlawanan, kaki  Mbak Indah menjepit kepalaku sehingga aku dengan jelas melihat tempik  Mbak Indah yang dipenuhi rambut tipis disekelilingnya. Sementara Imel ada disamping kami berdua sambil meremas remas sendiri buah dadanya. Aku jilati tempik  Mbak Indah yang masih wangi karena habis mandi, aku masukan lidahku menyentuh dalam tempiknya dan  Mbak Indah menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak Mas.. Terus.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja aku tidak bisa bernafas karena  Mbak Indah menekankan tempiknya ke wajahku, aku dorong sedikit pantatnya supaya aku bisa bernafas. Aku balikkan badan  Mbak Indah, sehingga saat ini posisiku diatas  Mbak Indah. Aku tidak mau berlama lama melakukan oral sama  Mbak Indah, langsung saja aku masukkan kontolku ke tempik  Mbak Indah yang ternyata juga cukup kecil buat kontolku.  Mbak Indah agak kesakitan tapi tidak protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kontolku bisa masuk hampir semuanya, dan  Mbak Indah merasa kesakitan dan menggeser sedikit pantatnya kesamping tapi tetap aku buru ke samping sambil sedikit menggoyangnya. Kedua kaki  Mbak Indah diangkat menjepit pantatku seolah-olah dia ingin memasukkan kontolku lebih dalam lagi, aku berusaha memasukkan pelan pelan dan agaknya lebih lancar karena tempik  Mbak Indah sudah basah kuyup. Kaki  Mbak Indah menjepitku tambah kencang dan aku juga coba peluk  Mbak Indah lebih kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahhh.."  Mbak Indah melenguh dan nafasnya tersengal-sengal, ternyata dia mengalami puncak kenikmatan, aku rasakan badannya mengejang dan jepitan kakinya membuatku tak bisa bernafas tapi aku biarkan dia menikmati kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit jepitan kaki dan pelukan  Mbak Indah mulai lepas, giliranku sekarang untuk menikmati kenikmatan bersama  Mbak Indah. Aku balikkan badan  Mbak Indah dan aku masukkan kontolku dari belakang dengan gaya anjing aku coblos tempik  Mbak Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuhh" nikmat sekali ternyata dengan gaya ini, aku menikmati sekali gaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontolku keluar masuk ke tempik  Mbak Indah seolah tak ingin berhenti apalagi diiring desahan  Mbak Indah yang pelan tapi sangat membuatku bernafsu. Hampir lima menit kontolku keluar masuk ke tempik  Mbak Indah dan akhirnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahhh.. Nikmat Teh.." badanku kejang.. Nikmat..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku peluk  Mbak Indah dari belakang sambil menikmati orgasmeku. Kontolku terasa membesar saat itu dan aku coba masukkan lebih dalam kontolku ke tempik  Mbak Indah. Tiba tiba saja terdengar suara seperti air tumpah. Crek.. Aku kaget tapi bersamaan suara itu kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya! Aku kaget sekali saat aku rasakan ada air hangat mengalir di antara kontolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan jangan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat cepat aku keluarkan kontolku dari tempik  Mbak Indah, hah.. Benar dugaanku. Darah! Ternyata  Mbak Indah juga masih perawan! berarti dalam 3 jam aku dapat dua perawan! Kakak Adik lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hebat!" dalam batinku. Ternyata aku laki laki paling beruntung dapat perawan 2 sekaligus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusadari aku lihat Imel disampingku meneteskan air Mata dan memejamkan matanya yang sudah sembab! Aku baru sadar ternyata adeganku dengan  Mbak Indah dilihat tanpa sensor oleh Imel! Pacarku! Dan adegan itu aku lakukan dengan kakaknya!  Mbak Indah! Saat itu aku gak tahu harus berbuat apa! Aku hanya memeluk Imel dan  Mbak Indah keluar dari kamar meninggalkan kami tanpa sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari hari berikutnya aku selalu membagi spermaku untuk mereka berdua untuk Imel dan  Mbak Indah, tapi saat itu aku selalu beranggapan Imel pacarku dan  Mbak Indah adalah selingkuhanku! Semua ini aku jalani dari tahun 1994 sampai 1996. Karena sejak tahun 1996 kami putus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Imel dan  Mbak Indah sudah menikah, demikian juga dengan aku. Imel dapat suami orang Magelang dan  Mbak Indah dapat tetangganya di Palembang. Walaupun begitu Aku masih sering melakukan sex by phone dengan Imel paling tidak seminggu sekali dan sex di hotel sebulan sekali. Kami masih bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1685665762270355543?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1685665762270355543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1685665762270355543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/sebut-saja-namaku-dody-usiaku-saat-ini.html' title='Imel &amp; Mbak Indah'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1574892139073576426</id><published>2007-09-07T06:30:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T06:39:59.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3 in 1'/><title type='text'>Montir2 Handal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku,ellye baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama welly datang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah ellye. Pas sekali saat itu welly datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya welly. Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada welly padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah... sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun, siapa tahu masih keburu," kataellye.&lt;br /&gt;"Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil, kamu ikut kita jalan aja," welly memberi saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas... Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!" kataku dengan terburu-buru.&lt;br /&gt;"Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi," katanya.&lt;br /&gt;"Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentar aja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!" desakku.&lt;br /&gt;"Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol," kata seorang pria yang muncul dari samping belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilku ketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama fauzy, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk mengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melambaikan tangan ke arahellye dan welly yang menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak fauzy menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat (sory... Aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku dengan Pak fauzy serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yang satu-satunya wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih banyak kerjaannya ya Mas?" tanyaku iseng-iseng pada montir Jambang di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.&lt;br /&gt;"Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai," jawabnya sambil terus bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari tempat dudukku Pak fauzy sedang berjongkok di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuk tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yang menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalau para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak fauzy,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih lama ya Pak?"&lt;br /&gt;"Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok"&lt;br /&gt;"Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus," tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yang kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui sedang diintip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh... nggak... nggak kok Non," jawabnya terbata-bata.&lt;br /&gt;"Hhoii... Obeng kembang dong," sahut montir yang dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo...?" godaku dengan tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yang masih tertutup CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohhh..." desahku merasakan remasan pada kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak fauzy menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitik membuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!" seru si montir Jambang yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Montir di belakangku melambai dan memanggil si Jambang untuk ikut menikmati tubuhku. Si Jambang pun dengan girang menghampiri kami sambil mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka seluruh pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow... Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatku terpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam dengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok dan celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vagina kaya gini," si Jambang mengomentari vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak fauzy dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang, namun aku tetap lebih suka milik si Jambang karena nampak lebih menggairahkan, milik Pak fauzy juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekeras si Jambang, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat dan bra-ku yang sudah tersingkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki kiriku diangkat ke bahu si Jambang yang berjongkok sambil melumat vaginaku. Teman Pak fauzy yang dipanggil 'zal' itu menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak fauzy sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku menggenggam penis Pak fauzy dan mengocoknya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oookkhh... Jangan terlalu keras," rintihku sambil meringis ketika Pak fauzy dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara si Jambang di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginaku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku sehingga memberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan dan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut zal yang mau melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^;). zal langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak fauzy yang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk zal pun akhirnya mengalah dari Pak fauzy yang lebih senior itu. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil mengocok batangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepala penisnya. Pak fauzy yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liang senggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku mengemut penis si zal, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan 'adik kecil'nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooh... Terus Non, enak banget... Yahhh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si Jambang yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan yang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku dengan penisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis zal dan berkata pada si Jambang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jambang langsung menggantikan zal dan menyodorkan penisnya padaku. Hmm... Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si zal menggosok-gosokkan penisnya yang basah ke wajahku. Sambil dioral, tangan si Jambang yang kasar dan berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak fauzy melepaskan sepatu bersol tinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu di buka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celana pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak fauzy dengan jenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya pernah lihat sebelumnya, ooohh... Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatat masalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini. Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan. Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian dia mendekati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Weleh-weleh... Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malah pada enak-enakan ngentot," katanya "Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnya diservis itu!"&lt;br /&gt;"Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!" kata si Jambang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru si montir yang bernama Johan itu melepaskan celananya dan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yang melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat deh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Johan mengambil posisi di sebelah kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak fauzy dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannya pada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yang semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tanganku semakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Johan dan Bang zal. zal juga menggeram makin keras dan Crot... Crot... Cairan putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali. Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gantian tuh, siapa mau vagina?" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jambang langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia menjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantap semangka. Pak fauzy menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licin diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadap vaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku yang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak fauzy mengelap spermanya yang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Jambang minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang senggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liang itu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap di vaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku, rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu, aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Mataku merem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih penis Pak Johan di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan penis Pak fauzy, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata pelakunya Bang zal yang entah kapan sudah di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Johan memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala penis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak mengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak fauzy dengan tangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi dari jamahan tangan-tangan kasar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Bang zal mau main belakang karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang tak lain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Johan dalam mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang zal dan Pak fauzy jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milik dua orang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh... Aahh... Dikit lagi Bang!" desahku karena sudah akan klimaks lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga kemaluanku bersamaan dengan penis si Jambang yang terasa makin membengkak dan sodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si Jambang. Cairan hangat dan kental menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhku kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu dengan penis masih menancap, sementara dari belakang Bang zal masih getol menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak fauzy mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?" tanyaku heran.&lt;br /&gt;"Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih," jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si Jambang untuk menyiapkan selang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di lantai marmer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah," katanya sambil membantuku melepaskan kaosku yang tergulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si Jambang menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awww... Dingin!" desahku manja merasakan dinginnya air yang menyemprot padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Johan melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku yang masih disemprot si Jambang, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yang lengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit lamanya si Jambang menyirami kami dengan air dingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggerayangiku. Pak Johan mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkan penisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak fauzy merangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang zal berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yang terangkat dengan gemasnya. Si Jambang menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelikitik telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu. Beberapa menit kemudian Pak Johan klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam vaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang zal membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya ke vaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak ke dalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku. Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkan isinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas, ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak fauzy memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yang basah. Setelah Pak fauzy dan Bang zal selesai memasang onderdil yang tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak fauzy yang ternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1574892139073576426?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1574892139073576426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1574892139073576426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/09/montir2-handal.html' title='Montir2 Handal'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-3005256443995433747</id><published>2007-08-31T13:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T04:52:09.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Para Istri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;upriyono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA. Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 42 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atika (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku. Bahkan jika aku dan Supriyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Supriyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atika dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Supriyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Supriyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku mengajak Supriyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Supriyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atika masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Supriyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atika tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir. Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih.." Atika menyuruh suaminya memutar film porno.&lt;br /&gt;Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.&lt;br /&gt;Sebelum beranjak mengambil film, Supriyono basa basi minta ijin istriku "Rin..muter film blue ya.."&lt;br /&gt;"Terserah aja " jawab istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atika sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atika dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atika ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih.." Atika bicara kepada istriku.&lt;br /&gt;"Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq." Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atika, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras. Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Supriyono dan Atika. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhAtikaan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Atika melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Supriyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atika menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Supriyono berdampingan dengan istriku.&lt;br /&gt;Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Atika menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.&lt;br /&gt;"Biar adil dong Mbak.." sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.&lt;br /&gt;Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atika yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atika melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Supriyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Supriyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hAtikau berdesir ketika kulihat tangan Atika lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya. Aku yakin Supriyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku.&lt;br /&gt;Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Supriyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atika sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buahdadanya menggantung diremas remas suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya tersebut membuat tubuh Supriyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau. Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Supriyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Supriyono namun matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atika sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atika ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Supriyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya. Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Supriyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Supriyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Supriyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah orgasme. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku merasa masih tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Supriyono menggengam tangan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atika segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atika menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atika segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Supriyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa orgasme yang ia dapat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalas ciuman Atika dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atika menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku. Tampak Atika sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atika cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atika. Atika melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis. Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atika, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atika mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kurengkuh bokongnya, Atika merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang orgasme. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atika tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Supriyono. Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Supriyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atika segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa orgasme yang kuberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Supriyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Supriyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Supriyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Supriyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya. Kudengar pula desisan Supriyono menambah suasana jadi makin mengairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.&lt;br /&gt;"Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh"&lt;br /&gt;pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Supriyono dengan sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Supriyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atika untuk menambah menjadi tiga pasangan. Hanya saat ini kami belum menemukan pasangan yang bisa diajak main. Pengalaman ini ditulis juga atas persetujuan kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-3005256443995433747?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3005256443995433747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3005256443995433747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/para-istri.html' title='Para Istri'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-5685409677578862896</id><published>2007-08-31T12:06:00.000-07:00</published><updated>2007-08-31T12:15:24.874-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pengalaman tukar Pasangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lho, Memang Papa juga tidak sakit menyaksikan Mama main dengan orang lain?" balasku tak mau kalah.&lt;br /&gt;"Ma, Justru disitulah seninya, ada perasaan sakit hati, cemburu, nafsu, dll"&lt;br /&gt;Istriku terdiam, mungkin mencoba mencerna kata-kataku. Lama kami terdiam dengan pikiran kami masing-masing, akhirnya..&lt;br /&gt;"Baiklah Pa, Mama setuju, tapi harus dengan pasangan yang bersih! Bukan cowok/cewek panggilan!"&lt;br /&gt;Lega rasanya mendengar kalimat yang aku tunggu-tunggu dari mulut istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung mencari-cari pasangan yang mau senang2 dengan kami, email-email dari pengirim cerita cerita seks yang menceritakan tukar pasangan aku kirimin ajakan dan setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan balasan yang cukup banyak. Memang rata-rata peminat tukar pasangan agak susah cocok, ada aja yang jadi kendala, ntar cowoknya ga cocok dengan ceweknya atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun istriku tergolong cantik dan masih muda (19 tahun) namun bodynya agak kurus dengan dada 32A alias kecil mungil, belum pernah melahirkan, sedangkan aku sendiri Manado, berwajah biasa-biasa aja, dengan umur 29thn, 173 cm, 73 kg (Kalau ada pembaca yang berminat silakan kirim email)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama Dengan suami istri manado, Sungguh pasangan yang serasi, yang laki tinggi, ganteng dan atletis sedangkan istrinya putih bersih, semampai, dengan body yang aduhai, meskipun agak minder akhirnya kami lakoni juga,&lt;br /&gt;Bertempat di sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur dengan Paviliun, kami memesan 2 kamar bersebelahan, setelah keadaan aman kami berempat dalam satu kamar. Awal mula rasanya sangat canggung, Namun toh akhirnya kami mulai dengan cumbuan-cumbuan bersama pasangan kami masing-masing, Aku berciuman mesra dengan istriku sementara Ferry dan Erina (sebut saja namanya begitu) asyik berciuman juga, Kami saling pandang melihat langsung pasangan lain bermesraan, gairah didadaku semakin terbakar menyaksikannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan namun pasti pakaian kami sudah bertebaran dilantai, Sambil terus bercumbu aku menyaksikan body Erina yang telah bugil, sungguh indah.. aku tak tahan sendiri aku langsung melangkah kearah Erina dan Ferry pun mengerti dia langsung mencumbu istriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku sedang menciumi seluruh tubuh Erina yang mulus, aku melihat Ferry pun sedang asyik menikmati tubuh istriku, Perasaan gairah, nafsu, cemburu berbaur menjadi satu.. Aku tumpahkan semua hasratku ke tubuh Erina, Jengkal demi jengkal tubuh Erina tidak ada yang luput dari jilatan lidahku dan elusan jari-jariku, buah dadanya yang besar dengan gemas aku remas, putingnya yang kemerahan aku kulum, jilat dan kadang aku gigit pelan, Erina semakin terbakar, jari-jarinya yang lentik menggenggam senjataku, sementara istriku aku lihat sedang asyik mengoral senjata Ferry yang telah keras.. Erinapun tak mau kalah, dengan mahirnya dia menjilati dadaku, perut dan terus turun menjilati senjataku, diselingi dengan kocokan tangannya yang lembut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian lama suasana kian panas, aku balik menyerang Erina, lidahku bermain lama di vagina Erina, klitorisnya yang agak besar aku jilat sampai mengembang, lidahku mencoba menerobos kedalam liang vaginanya, sementara jari jariku terus memilin puting buah dadanya, Erina semakin tak tahan dengan seranganku sementara aku lihatpun istiku masih asyik mencumbu penis Ferry, mulut istriku yang mungil sampai monyong mengulum senjata Ferry yang berukuran lumayan,&lt;br /&gt;Aku semakin terbawa arus, Erina berteriak-teriak tak tahan minta aku segera memasukkan senjataku, namun aku belum puas menikmati keindahan tubuhnya, meskipun lidahku sampai kaku menusuk vagina Erina namun aku terus melumat seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat istriku sudah menerima tusukan senjata Ferry dengan gaya doggy, erangan dan rintihan mereka terdengan jelas ditelingaku.. Akupun segera membopong tubuh Erina dan menidurkannya di kasur.. Dengan gaya konvensional Aku masukkan senjataku ke dalam vagina Erina yang sudah basah.. Lain.. sungguh lain dengan vagina istriku, vagina Erina meskipun sudah punya anak 2 masih terasa mencengkram.. Aku terus menaikturunkan pantatku meraih puncak kepuasan, namun sampai keringatku bercucuran dan berbagai macam gaya sudah aku lakukan, aku belum keluar, ada perasaan ingin menang dihatiku yang membuat aku sekuat mungkin menahan orgasmeku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya memang aku menang, aku lihat Ferry sudah menyemburkan spermanya ke perut istriku.. Aku semakin bergairah melihatnya, Dengan gaya doggy aku terus menggempur Erina yang sudah orgasme 2x, istriku yang melihat aku belum keluar menghampiri aku, tanpa disuruh istriku menjilati ujung dadaku dan kadang disedotnya kencang, Gairahku semakin tak terbendung.. Akhirnya akupun melepaskan orgasmeku di bokong Erina..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan kembali pertempuran. Kali ini permainan menjadi 3 lawan satu dan masing-masing orang mendapatkan jatah, Pertama adalah Erina, Tubuh Erina terlentang pasrah menerima cumbuan kami bertiga, aku mencium bibir Erina yang sensual sementara istriku mencumbui buah dada Erina dan Ferry asyik menjilati vaginanya.. dan efeknya sungguh luar biasa tanpa penetrasi Erina sudah mengalami orgasmenya, giliran kedua adalah istriku, hampir seluruh bagian tubuh istriku tak luput dari belaian dan jilatan, dengan kompak Erina, Ferry dan aku menyerang istriku, kali ini istriku bertahan agak lama, akhirnya karena senjataku sudah menegang kembali aku masukkan senjaku ke dalam vagina istriku, sementara Erina dan Ferry mencumbui buah dada istriku kiri dan kanan, dan tak lebih dari 5 menit istrikupun mengalami orgasme dengan teriakan yang cukup erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku dan Ferry saling berpandangan, aku mempersilahkannya duluan. Karena aku tidak bakat gay, aku biarkan Ferry dicumbu oleh istriku dan istrinya, dengan rakusnya Erina menjilati dada Ferry sementara istriku aku mengkaroke senjata Ferry, kadang bergantian istriku yang menjilati tubuh Ferry sementara Erina mengoral senjata suaminya.. Dan mungkin fisik Ferry yang sedang lemah atau memang kenikmatan yang diterimanya terlalu tinggi, Ferry menyemprotkan cairan kenikmatannya saat Erina sedang mengoralnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliranku.. sambil berciuman dengan Erina, istriku mencumbui dadaku, lidah istriku yang mahir bermain dari leher sampai senjataku, sementara akupun tidak tinggal diam meremas apa saja yang ada didekatku, kadang buahdada Erina, kadang buah dada istriku, kadang pinggul dan pantat Erina kadang pantat istriku, kini ujung dadaku dicumbu keduanya Erina menjilati dada kiriku dan istriku menjilati dada kananku, sungguh kenikmatan yang tiada tara, senjataku semakin membengkak keras, tak sabar akupun meminta Erina diatas, dan dengan lincahnya Erina menuntun senjataku, pinggulnya yang besar bergoyang seirama keluar masuknya senjataku dalam vaginanya,&lt;br /&gt;meskipun kenikmatan yang aku peroleh dobel namun memang untuk orgasme yang kedua aku agak lama, Aku lihat Ferry asyik menonton kami, sementara Erina akhirnya malah orgasme diatas perutku, posisinya diigantikan istriku, istriku yang termasuk lihai bergoyang, mengeluarkan seluruh kemampuannya sementara Erina mencumbu dadaku dan mengelus biji kemaluanku, Aku semakin tak kuat menahan kenikmatan yang datang, akhirnya aku semprotkan spermaku kedalam vagina istriku berbarengan dengan orgasme istriku. Kemudian kami tertidur dalam kelelahan dan kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kedua adalah seorang wanita setengah baya yang hanya ingin menonton kami main, katanya gairahnya hanya bisa terbakar jika menyaksikan suami-istri bersetubuh langsung didepan matanya, Karena dia yang mau membayar semuanya, ajakkannya aku terima, tentunya setelah bicara dengan istriku. Dan sungguh aku dibuat kaget saat bertemu dengannya, wajah dan bodinya bisa aku nilai 9. Tak banyak basa-basi kamipun langsung menuju hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya bergairah banget melihatnya, sayang dia hanya mau menonton, aku dan istriku kini asyik bercumbu, kami saling meremas dan memberikan rangsangan, Perlahan pakaian kami berserakan, aku dan istriku sudah telanjang bulat sementara tante Henny semakin serius memperhatikan kami, aku lihat wajahnya yang putih sedikit memerah, mungkin sudah bergairah menyaksikan percumbuan kami yang semakin panas, istriku sedang mengoral senjataku, Aku hanya bisa terpejam menikmati permainan mulut istriku di senjataku, namun sungguh tidak aku duga, bibirku terasa ada yang melumat, aku membuka mata sedikit, ternyata tante Henny sedang melumat bibirku dan dalam keadaan telanjang bulat.. Aku yang dari tadi memang bergairah melihatnya semakin bergairah, aku balas melumat bibirnya, lidah kami saling mendorong, sementara jari-jariku meremas buah dadanya bergantian, istriku masih asik mengeluarkan senjataku dalam mulutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tante Henny menyodorkan buah dadanya ke mukaku, langsung saja aku cium kedua buah dadanya bergantian, tak puas sampai disitu, mulutku langsung melumat putingnya, tante Henny semakin meracau tak karuan, dan tak tahan sendiri, dia menarik istriku yang sedang ayik mengoral senjataku yang kaku, dan tante Henny menggantikan istriku mengoral senjataku, istriku pun langsung berpindah mencumbu dadaku, kini aku yang berbalik tak tahan, aku tarik tubuh tante Henny yang sedang berjongkok, lalu aku bisikan supaya dia nungging, dan dengan sati sentakan saja, senjataku sudah terbenam seluruhnya ke dalam vagina tante Henny, Oh.. sungguh hangat sekali vagina tante Henny, aku menggerakkan pinggulku mengeluarmasukkan senjataku, dan istriku yang pintar mengambil inisiatif memilin buah dada tante Henny sementara tangan yang satunya menggosok lembut klitoris tante Henny, dan Tak perlu waktu lama, seluruh tubuh tante Henny mengejang dan melepaskan orgasmenya yang pertama, jelekknya tanpa ba bi Bu lagi tante Henny langsung menuju pembaringan dan tidur!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tinggal aku dan istriku yang sedang nanggung melongo!! untunglah kami cepat sadar dan meneruskan permainan menuju puncak kenikmatan, mungkin karena pemanasan sudah cukup, tak lama dengan gaya standar dia diatas aku dibawah kami berbarengan mencapai orgasme. Ketika kami bangun, tante Henny sudah tidak ada di tempat dan hanya meninggalkan amplop berisi uang, Aku jadi tambah bingung??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, kami mencoba mencari pasangan2 lain yang sepaham dengan pikiran kami, lebih baik selingkuh di depan mata kan, dari pada di belakang suami/istri pada main nyeleweng semua??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-5685409677578862896?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5685409677578862896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5685409677578862896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/pengalaman-tukar-pasangan.html' title='Pengalaman tukar Pasangan'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-8759899755134412939</id><published>2007-08-30T14:03:00.000-07:00</published><updated>2007-08-31T04:11:03.749-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inces'/><title type='text'>Adikku Cintya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi Bobby, aku mau main," kata adikku dengan uring-uringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku Cintya yang baru menginjak usia 10 tahun ini memang manja dan sulit diatur apalagi kalau sudah menginginkan sesuatu, akupun sering tidak sabar melayani permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK," kataku pasrah, "Tapi disini nggak ada mainan anak-anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kami memang sedang berkunjung ke rumah nenek, ayah dan ibuku pergi mengunjungi saudara lainnya bersama nenek, sedang aku disuruh mengasuh adikku yang manja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kamu ingin main apa," tanyaku kebingungan karena tidak kutemukan mainan anak-anak disini.&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau kita main rumah-rumahan?" usul adikku.&lt;br /&gt;"Ohhh... jangan yang itu," keluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bayangkan adikku akan main masak-masakan, maka akan berhamburan sampah dimana-mana dan tentunya menjadikan pekerjaan tambahan buat dirinya untuk membersihkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jadi Ayahnya dan aku jadi Ibunya," kata adikku menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul ide nakal dikepala remaja tanggung 13 tahun ini... Bobby pernah dengar tentang permainan 'dokter-dokteran' atau ada yang menyebut 'mainan ibu-bapak'. Dia sendiri belum pernah tahu tentang 'permainan' itu, dia jadi ingin mencobanya. Tapi bagaimana bila Cintya cerita ke ayah atau ibunya? Biasanya orang tuanya nggak akan menanyakan secara detail permasalahan anak-anaknya, kecuali kalau mereka bertengkar. Jadi asal dia bisa menjaga tidak ada pertengkaran, dia yakin Cintya nggak akan menceritakan ke orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku jadi Ayah dan kamu jadi Ibu?" kataku.&lt;br /&gt;"Ya tentu saja, masak kamu akan jadi Ibu?" sahut adikku bingung nggak mengerti arah pertanyaanku.&lt;br /&gt;"Mainan Ibu dan Bapak membuat bayi," usulnya coba-coba memancing sambil memperhatikan reaksi adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri ragu-ragu untuk mempraktekan niatnya untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri belum pernah tahu. Dia yakin bahwa sebagai wanita Cintya sudah pernah dengar tentang bagaimana bayi dilahirkan, dan tentunya sedikit banyak juga pernah punya bayangan tentang bagaimana bayi dibuat. Bobby melihat mata Cintya melotot dan kemudian berputar-putar, menunjukkan bahwa dia berpikir serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK, terserah kamu," kata Cintya dengan suara lirih ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby hampir tidak percaya akan keberuntungannya hari ini. Dia bayangkan bisa jadi mereka tidak bisa mempertahankan 'keperawanannya' lebih lanjut... Tapi... Ok, dia akan memutuskan setelah melihat perkembangan situasi dan kondisinya. Khususnya kesiapan adiknya Cintya. Tapi paling tidak hari ini dia akan berkesempatan melihat tubuh adiknya Cintya telanjang lagi, keadaan yang sudah tidak pernah dia lihat lagi selama 2 tahun ini. Ibunya memang tidak mengijinkan lagi mereka mandi bersama sejak Cintya berusia 9 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sebaiknya masuk ke kamarmu," katanya kepada Cintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintya memandangnya dengan tatapan tanda-tanya, Bobby pun menambahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sebaiknya 'mainan ibu-bapak' diatas ranjang, disini kotor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Cintya pun Cuma mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Bobby segera mengunci pintu setelah mereka berdua masuk kamar. Wajah Bobby pucat ketika tiba-tiba ibunya datang, tapi ternyata ibunya hanya memberikan senyum kepada mereka dan tanpa berhenti terus berjalan menuju dapur. Untung ibunya nggak sempat mendengar pembicaraan mereka yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka di dalam kamar Cintya pun bertanya, "Terus apa yang kita lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Bobby kembali merah, dan cepat-cepat dia kunci pintu kamar, dan dia pun bertanya lagi untuk meyakinkan,"Cintya, kamu yakin kita akan melakukan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis ini jadi agak bingung menebak arah pertanyaan kakaknya, dia pun menjawab, "Kamu kan yang mengusulkan 'mainan ibu-bapak', aku bosan nggak ada mainan lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis cilik ini memang masih terlalu polos untuk memahami pikiran orang dewasa. Kemudian Bobby membuka semua pakaiannya sampai telanjang bulat, dan Cintya pun mengikuti perbuatan itu. Hampir tidak ada perbedaan secara fisik antara tubuhnya dan tubuh Cintya. Dada gadis cilik itupun tampak masih rata seperti dadanya. Hanya Cintya tidak memiliki penis seperti dirinya. Kemaluannya hanya berupa gundukan daging cembung dengan belahan vertikal ditengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmm... Cintya, kamu ingat kata-kata Mama tentang laki-laki memegang 'anumu' yang dibawah itu," bisik Bobby pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintya memandang ke arah batang kemaluan kakaknya yang tampak tegang membengkak, dia pun berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata Mama OK, jika aku menginginkannya pula. Tapi kenapa kau tanyakan? ini kan idemu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby hampir bersorak kegirangan atas keberuntungannya, bahwa adiknya ternyata juga menginginkannya, atau paling tidak menyetujui idenya. Tapi karena dia juga belum berpengalaman tentang sex, Bobby tidak tahu pasti apa yang harus diperbuatnya terlebih dahulu. Akhirnya dia pun dapat ide bagus. Bobby kemudian menceritakan dia pernah baca buku sex-ed bahwa laki-laki akan memasukkan 'anunya' ke dalam lubang 'anu' gadis, kemudian menggerakkannya keluar-masuk sampai si laki-laki orgasme (mengeluarkan cairan putih dari ujung 'anunya') didalam lubang 'anu' si gadis. Dan bilamana beruntung sigadis akan hamil dan mereka akan punya bayi sembilan bulan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh Bobby," seru Cintya dengan suara tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintya hampir tidak percaya bahwa kakaknya benar-benar menginginkan melakukan 'itu' kepadanya. Memang main rumah-rumahan atau 'main ibu-ayah' adalah mainan anak-anak. Tapi melakukan 'ibu-bapak membuat bayi' sepertinya cenderung lebih ke arah permainan orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini caranya ayah membuat bayi di mami," perintah Bobby, seolah-olah seorang guru yang mengajari pelajaran praktek.&lt;br /&gt;"Ayah memasukkan 'alat pembuat bayi-nya' ke lubang bayi Mama, dan kemudian... Oohhh," desah Bobby ketika batang kemaluannya tidak bisa masuk-masuk ke dalam liang kemaluan adikknya. Memang didaerah sekitar vagina Cintya sudah mulai basah sehingga beberapa kali batang kemaluannya terpeleset kesamping. Dan lagi liang vagina itu tersembunyi didalam belahan bibir vaginanya sehingga tidak terlihat sama sekali dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini saya bantu," kata Cintya, gadis ini kemudian berbaring terlentang terus menarik tubuh kakaknya untuk menindih tubuhnya dari atas. Batang penis yang sudah bengkak itu digenggamnya kemudian ujung penis itu diarahkan dan ditempelkan tepat di liang vaginanya yang kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang tekan," perintahnya sambil masih memegangi batang penis itu agar tidak meleset lagi. Gadis itupun mengangkat-angkat pinggulnya untuk membantu agar batang penis itu cepat masuk.&lt;br /&gt;"Cepat masukkan 'alat pembuat bayimu' dan oohhh.. ahh.. aduuuhhh sakkiittt... stop.. stop dulu... Ahhh. Pelan-pelan Kak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Cintya mengerang-erang tiada henti, ada rasa geli-geli nikmat dan sakit pedih bercampur aduk. Tubuhnya sampai menggigil menahan perasaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohhh... Uuuhhh..." desahan Bobby, anak muda ini merasakan sensasi luar biasa di batang penisnya, liang vagina adiknya yang sempit itu seperti menjepit dengan kuat kepala penisnya sehingga menimbulkan rasa geli-geli nikmat dan ngilu yang luar biasa. Dia benar-benar nggak mengira akan seperti ini rasanya hubungan sexual. Meskipun hanya kepala penisnya saja yang bisa masuk, tapi rasanya sudah luar biasa nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya batang kemaluan itu tidak masuk seluruhnya. Hanya bagian kepalanya saja yang bisa masuk, karena terganjal oleh diding keperawanan Cintya. Dan mereka juga tidak lagi berusaha untuk memasukkan lebih lanjut, karena mereka kira hanya seperti itu dalamnya liang vagina Cintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohhh enak sekali dik... Seperti ini caranya ayah membuatkan bayi pada Mama, dan... Uuuhhh... Aaahhh," Bobby pun nggak sanggup lagi berkata-kata, merak berdua cuman bisa mendesah-desah dan merintih, sampai kemudian Bobby merasa batang kemaluannya berdenyut-denyut, seperti mau kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cintya, kamu mau bayi kan? Aku... Aahhh... Aku mau keluar..." kata Bobby terbata-bata.&lt;br /&gt;"Ya.. ya... aahhh... oohhh.. Aku.. aku mau... aahhh," sahut Cintya dengan nafas megap-megap. Cintya memeluk kakaknya erat-erat sambil matanya terpejam. Gadis itu merasa tubuhnya seperti terbang melayang-layang. Sebenarnya sudah sejak tadi gadis cilik ini mengalami orgasme dan bahkan sudah lebih dari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby pun sudah tidak tahan lagi. Dan... sensasi dasyat pun dirasakan oleh Bobby ketika ujung kemaluannya menyemburkan sperma beberapa kali di dalam liang vagina adikknya yang masih perawan itu. Dan bersamaan dengan itu, Cintya pun mengalami hal yang serupa. Denyutan-denyutan batang kemaluan Bobby dan kemudian disusul semprotan sperma pemuda itu membuat vaginanya ikut berkontraksi. Dan untuk kesekian kalinya gadis itu mengalami orgasme lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak yang sebenarnya belum bisa digolongkan remaja itu pun kemudian tertidur saling berpelukan. Batang penis Bobby masih terjepit didalam liang vagina perawan milik adiknya sendiri. Beberapa menit kemudian merekapun tersadar dan saling berpandangan dengan tatapan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhh, Cintya?" bisik Bobby sambil melepaskan pelukannya, sehingga batang kemaluannya yang sudah mengkerut dan mengecil itu terlepas dari liang vagina Cindi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tanda-tanda noda darah disekitar liang vagina gadis cilik itu. Yang ada hanya cairan sperma putih kental milik Bobby yang bercampur dengan lendir bening milik Cintya. Memang hubungan intim itu tidak sampai merusakkan selaput perawan Cintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmm... ?" desah Cintya.&lt;br /&gt;"Kapan kamu terakhir haid?" tanya Bobby.&lt;br /&gt;"Apa itu 'haid'?" tanya Cintya nggak paham.&lt;br /&gt;"Ohhh, ...," keluh Bobby, hati Bobby sangat lega sekali, rupanya sang adik belum mulai haid, sehingga amanlah dia, karena nggak mungkin adiknya bisa hamil.&lt;br /&gt;"Sudahlah lupakan saja, sekarang kamu mandi saja, kita bau keringat," kata Bobby, dia khawatir kalau ibunya mencium bau spermanya yang khas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintya pun segera bangun menuju kamar mandi. Bobby sempat melihat cairan spermanya meleleh membasahi paha Cintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak, kapan-kapan kita 'mainan ibu-bapak' lagi ya, enak sekali lho, kakak pinter banget kalau jadi bapak, Anu... 'alat buat bayi' Kakak gede banget, kalau dimasukan 'lubang bayi' cinta agak sakit, tapi enak sekali," kata Cintya sebelum masuk kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby cuman bengong nggak ngerti mau ngomong apa, "Nanti sajalah, kita lihat keadaan, sekarang kamu mandi cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian ketika ibunya memanggi mereka berdua, jantung Bobby sempat deg-degan, khawatir ibunya menanyai macam-macam dan sehingga Cintya tanpa sengaja bisa membuka rahasia 'permainan ibu-bapak' yang mereka lakukan. Ternyata ibunya cuman menyuruh mereka makan siang tanpa menanyakan aktivitas permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kembali jantung Bobby sempat berdetak kencang ketika sore hari ayahnya tanya kepada Cintya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak manis, bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya ayahnya.&lt;br /&gt;"Baik sekali Yah, kami main berdua sama Bobby, Cintya senang," jawab Cintya lincah.&lt;br /&gt;"Ohh, jadi hari ini kalian nggak bertengkar? Lalu kalian main apa?"&lt;br /&gt;"Bobby baik sekali koq, Bobby sayang sama Cintya, kami mainan ibu-bapak, Bobby pinter deh jadi bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung Bobby seolah-olah berhenti berdetak, dia takut ayahnya mencium hal-hal aneh. Tapi ternyata ayahnya nggak curiga, mungkin dia mengira kami main semacam 'rumah-rumahan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah begitu dong, anak-anak ayah harus saling sayang-menyayangi."&lt;br /&gt;"Iya yah, Bobby sayang sama Cintya dan Cintya juga sayang banget sama Bobby. Kapan-kapan Cintya mau 'mainan ibu-bapak' lagi sama Bobby," jawab Cintya polos seolah-olah tanpa dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tuanyapun tidak menaruh curiga sama sekali. Tapi buat Bobby, peristiwa itu benar-benar membekas dihatinya dan tak pernah terlupakan seumur hidupnya. Itulah saat dia kehilangan keperjakaannya. Dan beberapa tahun kemudian Bobby tahu dan bersyukur bahwa dia tidak sampai merusak selaput perawan adikknya Cintya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-8759899755134412939?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8759899755134412939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8759899755134412939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/tapi-bobby-aku-mau-main-kata-adikku.html' title='Adikku Cintya'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-6361336968842354590</id><published>2007-08-30T13:55:00.000-07:00</published><updated>2007-08-30T13:56:31.810-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tante2'/><title type='text'>Pijat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Yogi. Om Yogi mempunyai istri namanya Tante Sarina. Umur Om Yogi kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Sarina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Yogi adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Sarina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Sarina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Sarina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Yogi pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Sarina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Sarina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Van, Mau tolongin Tante", Katanya.&lt;br /&gt;"Apa yang bisa saya bantu Tante".&lt;br /&gt;"Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa".&lt;br /&gt;"Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian".&lt;br /&gt;"Tante Minta tolong dipijitin", katanya.&lt;br /&gt;"Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala".&lt;br /&gt;"Tante minta kamu memijit ini tante", katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;"Van, kok diem mau nggak?", tanya Tante Sarina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.&lt;br /&gt;"Mau nggak?", katanya sekali lagi.&lt;br /&gt;Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 34B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.&lt;br /&gt;"Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih", katanya.&lt;br /&gt;Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, "Ahh.., ahh". Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, "aahh, Van tolong remas lebih keras". Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.&lt;br /&gt;"Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante", katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.&lt;br /&gt;"Van, hisap yang kuat sayang.., aah", desah Tante Sarina.&lt;br /&gt;Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, "Lebih kuat lagi hisapanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.&lt;br /&gt;"Tadi nikmat sekali", katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, "Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-6361336968842354590?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6361336968842354590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6361336968842354590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/pijat.html' title='Pijat'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-8523540872957788818</id><published>2007-08-30T13:24:00.000-07:00</published><updated>2007-08-30T13:25:57.525-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saudara'/><title type='text'>Lisnina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku menginap dirumah Om Bagus dan Tante Rina di Jakarta. Karena kebetulan juga, tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah terkenal di Manado. Jadi, kalau pas liburan panjang, otomatis aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6 tahun Aku tak pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi kerjaan yang menumpuk. Baru pada tahun 2003 lalu Aku bisa merasakan nikmatnya liburan panjang. Rumah Om Bagus bisa digolongkan pada rumah mewah yang besar. Walaupun begitu, rumahnya sangat nyaman. Itulah sebabnya aku senang sekali bisa liburan ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tiba di rumah Om Bagus pada pukul 22.00. karena kelelahan aku langsung tidur pulas. Besok paginya, aku langsung disambut oleh hangatnya nasi goreng untuk sarapan pagi. Dan yang bikin aku kaget, heran bercampur kagum, ada sosok gadis yang dulunya masih kelas 4 SD, tapi kini sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik jelita. Namanya Lisnina. Kulitnya yang putih, matanya yang jernih, serta tubuhnya yang indah dan seksi, mengusik mataku yang nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hallo Kak..! Sorry, tadi malam Lisnina kecapean jadi tidak menjemput kakak. Silahkan di makan nasi gorengnya, ini Lisnina buat khusus dan spesial buat Kakak." Katanya sembari menebarkan senyumnya yang indah. Aku langsung terpana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini benar Lisnina yang dulu, yang masih ingusan?" Kataku sambil ngeledek.&lt;br /&gt;"Ia, Lisnina siapa lagi! Tapi udah enggak ingusan lagi, khan?" katanya sambil mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah..! Udah lama enggak ketemu, enggak taunya udah gede. Tentu udah punya pacar, ya? sekarang kelas berapa?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pacar? Masih belum dikasih pacaran sama Papa. Katanya masih kecil. Tapi sekarang Lisnina udah naik kelas dua SMA, lho! Khan udah gede?" jawabnya sambil bernada protes terhadap papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang Lisnina udah siap pacaran?" tanyaku.&lt;br /&gt;Lisnina menjawab dengan enteng sambil melahap nasi goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum mau sih..! Eh ngomong-ngomong nasinya dimakan, dong. Sayang, kan! Udah dibuat tapi hanya dipelototin."&lt;br /&gt;Aku langsung mengambil piring dan ber-sarapan pagi dengan gadis cantik itu. Selama sarapan, mataku tak pernah lepas memandangi gadis cantik yang duduk didepanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama dan Papa kemana? koq enggak sarapan bareng?" tanyaku sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke nanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisnina langsung menjawab, "Oh iya, hampir lupa. Tadi Mama nitip surat ini buat kakak. Katanya ada urusan mendadak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisnina langsung menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan tangan. Aku langsung membaca surat itu. Isi surat itu mengatakan bahwa Om Bagus dan Tante Rina ada urusan Kantor di Surabaya selama seminggu. Jadi mereka menitipkan Lisnina kepadaku. Dengan kata lain Aku kebagian jaga rumah dan menjaga Lisnina selama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya kamu udah biasa ditinggal kayak gini, Nin?" tanyaku setelah membaca surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, Kak! seminggu itu cepat. Pernah Lisnina ditinggal sebulan" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke deh! sekarang kakak yang jaga Lisnina selama seminggu. Apapun yang Lisnina Mau bilang saja sama kakak. Oke?" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, deh! sekarang tugas kakak pertama, antarkan Lisnina jalan-jalan ke Mall. Boleh, Kak?" Lisnina memohon kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, boleh sekali. Sekarang aja kita berangkat!" setelah itu kami beres-beres dan langsung menuju Mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Lisnina kelihatan cantik sekali dengan celana Jeans Ketat dan kaos oblong ketat berwarna merah muda. Semua serba ketat. Seakan memamerkan tubuhnya yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang Jalan-jalan pukul 19. 00 malam, Lisnina kecapean. Dia langsung pergi mandi dan bilang mau istirahat alias tidur. Aku yang biasa tidur larut pergi ke ruang TV dan menonton acara TV. Bosan menonton acara TV yang kurang menyenangkan, Aku teringat akan VCD Porno yang Aku bawa dari Manado. Sambil memastikan Lisnina kalau sudah tidur, Aku memutar Film Porno yang Aku bawa itu. Lumayan, bisa menghilangkan ketegangan akibat melihat bodinya Lisnina tadi siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keasyikan nonton, Aku tak menyadari Lisnina udah sekitar 20 menit menyaksikan Aku Menonton Film itu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, "Akh..! Lisnina memekik ketika di layar TV terlihat adegan seorang laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang perempuan. Tentu saja Aku pucat mendengar suara Lisnina dari arah belakang. Langsung aja Aku matikan VCD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nin, kamu udah lama disitu?" tanyaku gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak, tadi Lisnina mau pipis tapi Lisnina dengar ada suara desahan jadi Lisnina kemari" jawabnya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak ndak usah takut, Lisnina enggak apa-apa koq. Kebetulan Lisnina pernah dengar ceRita dari teman kalo Film Porno itu asyik. Dan ternyata benar juga. Cuma tadi Lisnina kaget ada tikus lewat". Jawab Lisnina. Aku langsung lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Lisnina mau nonton juga?" pelan-pelan muncul juga otak terorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mau sekali Kak!" Langsung aja ku ajak Lisnina menonton film itu dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menonton Lisnina terlihat meresapi setiap adegan itu. Perlahan namun pasti Aku dekati Lisnina dan duduk tepat disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iseng-iseng kutanya padanya "Lisnina pernah melakukan adegan begituan?" Lisnina langsung menjawab tapi tetap matanya tertuju pada TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pacaran aja belum apalagi adegan begini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau ndak kakak ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! Lisnina akan rasakan kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu. Dia kelihatannya sangat menikmati adegan itu. Mau ndak?" Tanyaku spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang kakak pandai dalam hal begituan?" tanya Lisnina menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ee..! nantang, nih?" Aku langsung memeluk Lisnina dari samping. Eh, Lisnina diam aja. Terasa sekali nafasnya mulau memburu tanda Dia mulai terangsang dengan Film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak melepaskan dekapanku dan Sayup-sayup terdengar Lisnina mendesah sambil membisikkan, "Kak, ajari Lisnina dong!". Aku seperti disambar petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang benar, nih?" tanyaku memastikan. Mendengar itu Lisnina langsung melumat bibirku dengan lembut. Aku membiarkan Dia memainkan bibirku. Kemudian Lisnina melepas lumatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lisnina serius Kak. Lisnina udah terangsang banget, nih!" Mendengar itu, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung melumat bibir indah milik Lisnina. Lisnina menyambut dengan lumatan yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga menit kemudian entah siapa yag memulai, kami berdua telah melepaskan pakaian kami satu persatu sampai tak ada sehelai benangpun melilit tubuh kami. Ternyata Lisnina lebih cantik jika dilihat dalam kondisi telanjang bulat. Aku mengamati setiap lekuk tubuh Lisnina dengan mataku yang jelalatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sempurna. Lisnina memiliki tubuh yang sempurna untuk gadis seumur dia. Susunya yang montok dan padat berisi, belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Koq Cuma dilihat?" Lamunanku buyar oleh kata-kata Lisnina itu. Merasa tertantang oleh kata-katanya, Aku langsung membaringkan Lisnina di Sofa dan mulai melumat bibirnya kembali sambil tanganku dengan lembutnya meremas-remas susunya Lisnina yang montok itu. Lisnina mulai mendesah-desah tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil tetap meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Kak.. Kak..! Enak se.. ka.. li.. oh..!" desah Lisnina yang membakar gairahku. Jilatanku turun ke perut dan pusar, lalu turun terus sampai ke gundukan kecil milik Lisnina yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Geli sekali, Kak.. Oh.. nikmat..!" desah Lisnina waktu Aku jilat Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat yang aku ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu Lisnina yang montok itu. Tiba-tiba, Lisnina memekik dan melenguh tertahan sambil mengeluarkan cairan vagina yang banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. Kak.. oh..!" Itulah orgasme pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan itu. Rasanya gurih dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana Enak, Nin?" tanyaku sambil mencubit puting susunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, Kak! Nikmat sekali. Rasanya Lisnina terbang ke surga." Jawabnya sambil meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku langsung mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi." Kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kakak mau ajarin Lisnina yang kayak begitu" sambil menunjuk adegan di TV dimana serang perempuan yang sedang menghisap penis laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana, mau?" Tanyaku menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke deh!" Lisnina menjawab dan langsung meraih penisku yang masih tertidur. Lisnina mengocok perlahan penisku itu seperti yang ada di TV. Lalu dengan malu-malu Dia memasukkannya ke mulutnya yang hangat sambil menyedot-nyedot dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian langsung aja penis ku bangun. Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan Air maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang lebih 15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus Lisnina, penisku udah siap tempur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah sekarang pelajaran yang terakhir" Kataku. Lisnina menurut aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. Lisnina juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya yang masih perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali menjilat kelentit Lisnina sampai Vaginanya banjir lagi dengan cairan surga. Lisnina hanya pasrah saja ketika Aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. Sakit, Kak.. oh.. Kak..!" jerit Lisnina ketika kepala penisku menerobos masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya supaya Lisnina tenang. Setelah itu kembali Aku menekan pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Lisnina.. sempit sekali.. Kamu memang masih perawan, oh..!" Lisnina hanya memejamkan mata sambil menahan rasa sakit di vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!&lt;br /&gt;"Akh.. Kak.. sakit..!" Lisnina memekik tertahan ketika Aku berhasil mencoblos keperawanannya dengan penisku. Terus saja Aku tekan sampai mentok, lalu Aku memeluk erat Lisnina dan berusaha menenangkan Dia dengan lumatan-lumatan serta remasan-remasan yang lembut di payudaranya. Setelah tenang, Aku langsung menggenjot Lisnina dengan seluruh kemampuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!" Lisnina mendesah tanpa arti. Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai memburu. Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak tadi keremas-remas terus. Karena masih rapat sekali, penisku terasa seperti di remas-remas oleh vaginanya Lisnina,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. Nin, enak sekali vaginamu ini, oh..!" Aku mendesah nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana, enak? nikmat?" tanyaku sambil terus menggenjot Lisnina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"enak.. sekali, Kak.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, Kak.. oh..!" Desah Lisnina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot Lisnina, tiba-tiba Lisnina mengejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"K.. Kak..! Lisnina udah enggak tahan. Lisnina mau pi.. piss.. oh..!" Kata Lisnina sambil tersengal-sengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar, Nin! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu.." Aku semakin mempercepat gerakan pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dua.., Ti.. nggak.. oh.. yess..!" Aku Menyemburkan Spermaku, croot.. croot.. croott..! Dan bersamaan dengan itu Lisnina juga mengalami orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akh.. oh.. yess..!" Lisnina menyiram kepala penisku dengan cairan orgasmenya. Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami saling berpelukan menikmati indahnya orgasme. Setelah penisku menciut di dalam vagina Lisnina, aku mencabutya. Dan langsung terbaring di samping Lisnina. Kulihat Lisnina masih tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, Aku mengecup dahi Lisnina dan berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thank's Lisnina! Kamu telah memberikan harta berhargamu kepada kakak. Kamu menyesal?" Sambil tersenyum Lisnina menggelengkan kepalanya dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak hebat. Lisnina bisa belajar banyak tentang Sex malam ini. Dan Lisnina Serahkan mahkota Lisnina karena Lisnina percaya kakak menyayangi Lisnina. Kakak tak akan ninggalin Lisnina. Thank's ya Kak! Yang tadi itu nikmat sekali. Rasanya seperti di surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami membenahi diri dan membersihkan darah perawan Lisnina yang berceceran di karpet. Masih memakai BH dan celana dalam, Lisnina minta Aku memandikan Dia seperti yang Aku lakukan sekitar enam tahun yang lalu. Aku menuruti kemauannya. Dan kamipun madi bareng malam itu. Sementara mandi, pikiran ngereskupun muncul lagi ketika melihat payudara Lisnina yang mengkilat kena air dari shower. Langsung aja kupeluk Lisnina dari belakang sambil kuremas payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau lagi nih..!" Kata Lisnina menggoda. Birahiku langsung naik digoda begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi di tempat tidur aja, Kak. Lisnina capek berdiri" kata Lisnina berbisik. Aku langsung menggendong Lisnina ke tempat tidurnya dan menggenjot Lisnina di sana. Kembali kami merasakan nikmatnya surga dunia malam itu. Setelah itu kami kelelahan dan langsung tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, aku bangun dan Lisnina tak ada disampingku. Aku mencari-cari tak tahunya ada di dapur sedang menyiapkan sarapan pagi. Maklum tak ada pembantu. Kulihat Lisnina hanya memakai kaos oblong dan celana dalam saja. Pantatnya yang aduhai, sangat elok dilihat dari belakang. Aku langsung menerjang Lisnina dari belakang sambil mengecup leher putihnya yang indah. Lisnina kaget dan langsung memutar badannya. Aku langsung mengecup bibir sensualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah.. orang ini enggak ada puasnya..!" kata Lisnina Menggoda. Langsung saja kucumbu Lisnina di dapur. Kemudian Dia melorotkan celana dalamku dan mulai menghisap penisku. Wah, ada kemajuan. Hisapannya semakin sempurna dan hebat. Aku pun tak mau kalah. Kuangkat Dia keatas meja dan menarik celana dalamnya dengan gigiku sampai lepas. Tanganku menyusup ke dalam kaos oblongnya. Dan ternyata Lisnina tak memakai BH. Langsung aja kuremas-remas susunya sambil kujilat-jilat kelentitnya. Lisnina minta-minta ampun dengan perlakuanku itu dan memohon supaya Aku menuntaskan kerjaanku dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak.. masukin, Kak.. cepat.. oh.. Lisnina udah enggak tahan, nih!" Mendengar desahan itu, langsung aja kumasukkan penisku kedalam lubang surganya yang telah banjir dengan cairan pelumas. Penisku masuk dengan mulus karena Lisnina sudah tidak perawan lagi kayak tadi malam. Dengan leluasa Aku menggenjot Lisnina di atas meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 15 menit, Lisnina mengalami orgasme dan disusul dengan Aku yang menyemburkan spermaku di dalam vagina Lisnina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh.. enak.. Kak.. akh..!" desah Lisnina. Aku melenguh dengan keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. yes..! Lisnina, kamu memang hebat.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami sarapan dan mandi sama-sama. Lalu kami pergi ke Mall. Jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah setiap harinya kami berdua selama seminggu. Setelah itu Om Bagus dan Tante Rina pulang tanpa curiga sedikitpun kamipun merahasiakan semuanya itu. Kalau ada kesempatan, kami sering melakukkannya di dalam kamarku selama sebulan kami membina hubungan terlarang ini. Sampai Aku harus pulang ke Manado. Lisnina menangis karena kepergianku. Tapi Aku berjanji akan kembali lagi dan memberikan Lisnina Kenikmatan yang tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-8523540872957788818?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8523540872957788818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/8523540872957788818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/lisnina.html' title='Lisnina'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-6371836732584230163</id><published>2007-08-30T13:13:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Ayah Tiriku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah ini dimulai ketika aku merasakan seks-ku yang pertama dengan Papa tiriku ketika aku masih berumur 16 tahun. Pada saat umurku 3 tahun, Papa kandungku telah meninggal hingga ibu menikah lagi dengan Oom Haryo ketika umurku 5 tahun. Jadi, selama 11 tahun aku telah menganggapnya sebagai Papa kandungku, toh aku juga tidak ingat lagi akan kehadiran Papa kandungku. Namun, sejak kejadian ini aku tidak hanya menganggapnya sebagai Papa, tapi sekaligus juga sebagai pemuas nafsu birahiku. Begitupun Papa Haryo yang menganggapku sebagai anak sekaligus budak seks-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memperjelasnya, aku memiliki tubuh yang cukup bagus dengan buah dada berukuran 34B. Kulitku putih bersih dengan rambut panjang sepunggung. Aku beberapa kali menonton dan membuka situs porno karena rasa penasaranku terhadap aktivitas seks yang sangat digemari di kalangan anak laki-laki. Ketika menonton film-film porno itu, ada rasa ingin mencoba karena kulihat betapa nikmatnya wajah sang wanita yang disetubuhi. Aku pun sering membayangkan bahwa yang ada di film itu adalah aku dan pria idamanku, namun ironisnya aku kehilangan keperawanan bukanlah dengan pria idamanku. Beginilah cerita awalnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu Minggu pagi, Ibuku tidak ada di rumah hampir sepanjang hari karena harus menunggui kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, aku tinggal di rumah sendiri. Ketika aku berjalan ke ruang makan untuk makan pagi, aku hanya melihat Papa seorang diri sedang menyantap nasi goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pa, Mama mana? Kok gak ada?" tanyaku sambil mengucek mataku yang masih mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Papaku tidak langsung menjawab, Ia tercengang untuk beberapa saat dan menatapku dengan pandangan tajam. Ketika kusadari, ternyata pada saat itu aku mengenakan daster putih tipis pendek yang tembus pandang hingga memamerkan lekuk tubuhku. Puting susuku terpampang jelas karena aku tidak memakai bra. Kurasakan mukaku memerah dan spontan aku menutupi dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehem.. Nin, Mama pergi sejak jam 4 subuh. Tante Frida mendadak koma," kata Papa segera setelah sadar dari kagetnya.&lt;br /&gt;"Apa?! Tan.. Tante koma?" ujarku terbata-bata.&lt;br /&gt;"Iya, Nin. Papa tahu kamu kaget. Nanti kita jenguk jam 12 ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terisak sedih dan air mataku mulai mengalir. Tante Frida adalah tante favoritku. Ia sangat baik terhadap Ibu dan aku. Ketika aku masih terisak, Papa segera menghampiri dan memeluk diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang Nin, masih ada harapan kok," hiburnya sambil mengelus rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku balas mendekapnya dan mulai menangis tersedu-sedu. Papa mengelus-elus punggungku ketika aku menangis, namun nafas Papaku terdengar berat dan kurasakan penisnya yang membesar menekan perutku. Aku segera melepaskan pelukanku namun Papa menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pa, lepaskan aku!" jeritku ketakutan.&lt;br /&gt;"Tidak bisa, Harnin sayang.. Salahmu sendiri menggoda Papa dengan baju tipismu itu," ujar Papa, kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan gemas.&lt;br /&gt;"Pa, jangan.. Harnin gak mau, Pa!" isakku sambil memberontak, namun tenaga Papa jauh lebih kuat daripadaku, tak ada gunanya aku melawan juga.&lt;br /&gt;"Kamu diam saja, sayang.. Enak kok.. Nanti pasti kamu ketagihan," bisik Papa sambil terengah-engah, setelah itu tangan Papa mulai menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas kembali pantatku dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkali-kali melawan, namun tak berdaya karena perbedaan tenaga kami. Kemudian, Papa mengangkat satu kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. Pa.. Ja.. Jangan," rintihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kurasakan birahiku mulai naik, bahkan lebih daripada ketika aku menonton film porno di kamarku diam-diam. Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang vaginaku yang mulai basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. Melihat reaksiku yang mulai pasrah dan terbawa nafsu, Papa melanjutkan aksinya. Ia membawaku ke sofa ruang tamu dan mendudukkan diriku di pangkuannya dengan posisiku memunggunginya. Tak lupa pula ia membuka celana dalamku dengan kasar. Tangannya dengan kasar membuka lebar-lebar pahaku sehingga vaginaku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. Sebelum sempat melawan, dengan sigap tangannya kembali meraih vaginaku dan meremasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nin, memek kamu seksi banget.. Nanti Papa sodok ya.." bisik Papaku di telingaku dan menjilatinya ketika tangannya mulai bermain di klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birahiku sudah tak tertahankan lagi hingga aku pun pasrah terhadap perlakuan Papaku ini. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Papa terlihat mencari-cari titik rawan di klitorisku dengan cara menekan-nekan klitorisku dari atas ke bawah. Ketika akhirnya sampai di titik tertentu, aku meracau tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. Shh.. Paa.." desahku bernafsu.&lt;br /&gt;"Nin, Papa suka banget sama kamu.." balas Papa sambil mencium pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan titik rawan itu dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku mendapat orgasmeku yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paa.. Harnin pengen pipiss.." desahku tak tahan menahan sesuatu yang ingin meledak di dalam diriku, tanganku meremas tangan Papa yang sedang bermain di klitorisku dengan bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar perkiraanku, Papa malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Papa merebahkanku di sofa dan merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir vaginaku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu menjalar ke klitoris dan membuat vaginaku membanjir. Di sela jilatan-jilatan Papa yang maut, kurasakan gigitan lembut di klitorisku yang kian merangsang hasrat seks-ku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh papaku untuk terus dan tak berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat reaksiku, Papa semakin berani dan menggesekan jarinya di liang vaginaku yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian. Vaginaku mengeluarkan cairan deras bening yang sebelumnya belum pernah kulihat. Papa tampak senang melihatku mengalami orgasme yang pertama. Setelah sensasi nikmat itu surut, kurasakan tubuhku lelah tak berdaya bagai tak bertulang. Papa membopongku ke kamarnya dan menidurkanku di kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa memelukku dengan lembut. Kami tidak berkata apa-apa. Papa kemudian membuka dasterku, kemudian Papa tampak semakin bernafsu ketika melihat payudaraku yang berukuran cukup besar. Hasratku sudah menurun dan rasa malu mulai menyergapku hingga aku segera menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tangan, namun Papa malah menyingkirkan tanganku dengan kasar. Lelah masih terasa karena orgasme tadi sehingga aku tidak mampu melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pa.. Jangan, Pa. Sudah cukup.. Harnin takut.." isakku mulai menitikkan air mata. Melihat reaksiku, Papa malah semakin bernafsu.&lt;br /&gt;"Harnin sayang. Papa entot kamu ya.. Oh, Harnin. Memekmu pasti nikmat. Sini Papa entotin ya, sayang.." rayu Papa dengan nafas memburu karena nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat 45, Papa meremas payudaraku dengan sangat keras. Pertama-tama, aku berteriak kesakitan namun Papa tak mempedulikan teriakan minta ampunku, malah tampak dia semakin bernafsu untuk menyetubuhiku. Jari-jarinya dengan terampil memilin putingku diselingi dengan cubitan keras sehingga lama kelamaan teriakanku berubah menjadi jeritan nikmat. Libidoku mulai naik lagi dan vaginaku mulai basah. Puting susuku yang berwarna merah muda sekarang berwarna merah tua karena cubitan-cubitan kerasnya, begitu pula dengan payudara putihku yang berubah menjadi kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. Ahh.. Ukhh.. Paa.." racauku tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa puas melihat reaksiku, Papa membuka semua bajunya dan betapa terkejutnya aku melihat penis papaku yang berukuran besar. Dengan lihainya, Papa segera menggesekkan kepala penisnya yang kemerahan ke lubang vaginaku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidah Papa di vaginaku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihanan keras kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh! Papaa.. Ohh.. Entotin Harnin, paa.." racauku. Sudah hilang kesadaran akan harga diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat lampu hijau dariku, Papa segera menjalankan aksinya. Dengan perlahan ia memasukkan kepala penisnya ke dalam liang vaginaku, namun terhalang oleh selaput daraku. Papa tampak kesulitan menembus selaput daraku. Akhirnya dengan satu sodokan keras, vaginaku berhasil ditembus untuk pertama kalinya. Rasa sakit luar biasa terasa di vaginaku. Papa dengan tanpa perasaan segera menyodok-nyodok penisnya dengan kuat dan keras di vaginaku yang masih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat bagaikan melayang di surga. Papa mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya vaginaku. Penis Papa yang panjang dan besar terasa menyodok dinding rahimku hingga membuatku orgasme untuk kedua kalinya. Papa tampak masih bernafsu menggenjot vaginaku. Kemudian Papa membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan penisnya ke dalam vaginaku lewat belakang. Ternyata posisi ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding vaginaku yang masih sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh Harnina.. Memekmu bagaikan sorga, Nin.. Nanti Papa entotin tiap hari yaa.. Ahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, Papa mendapatkan orgasmenya yang luar biasa. Spermanya terasa dengan kuat menyemprot dinding vaginaku. Papa menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas payudaraku dan menarik-narik putingku. Setelah orgasmenya, Papa berbaring di sebelahku dan menjilati puting susuku. Putingku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya Papa ingin membuatku orgasme lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya kembali menjelajahi vaginaku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam liang vaginaku. Papa menekang-nekan dinding vaginaku yang masih rapat. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan Papa tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! Terasa seperti ingin pipis, namun nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bertahan lama dan akhirnya orgasme untuk ketiga kalinya. Badanku mengejang dan cairan orgasme kembali mengalir dengan deras bercampur darah keperawananku. Akhirnya, kami menyudahi permainan seks kami yang perdana dan mandi. Baru setelah itu, kami pergi ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu, kami menjadi sering melakukan hubungan seks dan mencari-cari kesempatan untuk melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan aku pernah membolos sekolah karena pada saat itu Papa sedang naik libidonya. Akhirnya kami memesan hotel dan sama-sama membolos, aku dari sekolah dan Papa dari kantornya. Papa juga mengajariku berbagai posisi dan bagaimana cara mengulum penis dengan benar (blow-job). Ilmu seks yang Papa berikan akhirnya membuatku dicintai oleh beberapa lelaki lain karena servisku yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengalaman seks-ku yang pertama kalinya dan tak akan kulupakan seumur hidup. Terima kasih, Papa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-6371836732584230163?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6371836732584230163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6371836732584230163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/ayah-tiriku.html' title='Ayah Tiriku'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-1112372112393054520</id><published>2007-08-30T11:58:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T05:58:37.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Kak Lina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkenalkan namaku Ahmad, umurku saat ini 19 tahun. Kuliah dikota S yang terkenal dengan sopan santunnya. Aku anak kedua setelah kakakku Ana. Ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ayahku juga bekerja di kantor. Tinggi badanku biasa saja layaknya anak seusiaku yakni 169 kg. Di situs ini aku akan menceritakan kisah unikku. Pengalaman pertama dengan apa yang namanya sex. Kisah ini masih aku ingat selamanya karena pengalaman pertama memang tak terlupakan. Saat itu usiaku masih 10 tahun pada waktu itu aku masih kelas 4 SD. Kisah ini benar benar aku alami tanpa aku rubah sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku punya teman sebayaku namanya Ratna, dia juga duduk di bangku SD. Aku dan dia sering main bersama. Dia anak yang sangat manis dan manja. Dia mempunyai dua kakak. Kakak pertama namanya Rio di sudah bekerja di Jakarta. Dan kakaknya yang satu lagi namanya Lina. Saat itu dia kuliah semester 4 jurusan akuntansi salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Dia lebih cantik dari pada adiknya Ratna. Tingginya kira kira 160 cm dan ukuran payudaranya cukup seusianya tidak besar banget tapi kenceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu hari sangat panas, aku dan Ratna sedang main dirumahnya. Maklum rumahku dan rumahnya bersebelahan. Saat itu ortu dari Ratna sedang pergi ke Bandung untuk beli kain. Ratna ditinggal bersama kakaknya Lina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Main dokter dokter yuk, aku bosen nich mainan ini terus"ajak Ratna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku siapkan mainannya. Aku jadi dokter dan dia jadi pasiennya. Waktu aku periksa dia buka baju. Kami pun melakukan seperti itu biasa karena belum ada naluri seperti orang dewasa, kami menganggap itu mainan dan hal itu biasa karena masih kecil. Waktu aku pegang stetoskop dan menyentuhkannya didadanya. Aku tidak tahu perasaanya. Tapi aku menganggapnya mainan. Waktu itu pintu tiba tiba terbuka. Lina pulang dari kampusnya. Dengan masih telanjang dada Ratna menghampiri kakaknya di depan pintu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Kak baru pulang dari kampus"&lt;br /&gt;"Ngapain kamu buka baju segala" Kak Lina memandangi adiknya.&lt;br /&gt;"Kita lagi main dokter dokteran, aku pasiennya sedangkan Ahmad jadi dokternya, tapi sepi Kak masa pasiennya cuma satu. Kakak lelah nggak. Ikutan main ya kak?"&lt;br /&gt;"Oh mainan toh.. Ya sudah aku nyusul, aku mau ganti pakaian dulu gerah banget nih"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga pun segera masuk ke kamar lagi, aku dan Ratna asyik main dan Kak Lina merebahkan tubuhnya ditempat tidur disamping kami. Aku melihat Kak Lina sangat cantik ketika berbaring. Setelah beberapa menit kemudian dia memperhatikan kami bermain dan dia terbengong memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo Kak cepetan, malah bengong" ajak Ratna pada kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia berdiri membuka lemari. Dia kepanasan karena udaranya. Biasanya dia menyuruh kami tunggu di luar ketika dia ganti baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo tutup mata kalian, aku mau ganti nih soalnya panas banget" Kak Lina menyuruh kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melepaskan pakaian satu persatu dari mulai celana panjangnya, dia memakai CD warna putih berenda dengan model g-string. Saat itu dia masih dihadapan kami. Tertampang paha putih bersih tanpa cacat. Setelah itu dia melepas kemejanya dicopotnya kancing stu perstu. Setelah terbuka seluruh kancingnya, aku dapat melihat bra yang dipakainya. Lalu dia membelakangi kami, dia juga melepas branya setelah kemejanya ditanggalkan. Aku pun terbengong melihatnya karena belum pernah aku melihat wanita dewasa telanjang apa lagi ketika aku melihat pantatnya yang uuhh. Dia memilih baju agak lama, otomatis aku melihat punggungnya yang mulus dan akhirnya dia memakai baby doll dengan potongan leher rendah sekali tanpa bra dan bahannya super tipis kelihatan putingnya yang berwarna coklat muda. Kulitnya sangat putih dan mulus lebih putih dari Ratna. Ratna melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahmad koq bengong belum lihat kakakku buka baju ya? Lagian kakak buka baju nggak nyuruh kita pergi."&lt;br /&gt;Kak Lina ngomel,"Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?"dia bercanda.&lt;br /&gt;Akupun menundukan mukaku karena malu."Tapikan kak, susunya kakak sudah gede segitu apa nggak malu ama Ahmad."&lt;br /&gt;Ratna menjawab ketus."Kamu aja telanjang kayak itu apa kamu juga nggak malu sudah ayo main lagi." Lina menjawab adiknya. Kami pun bermain kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran Kak Lina aku periksa. Dia menyuruh aku memeriksanya, dia agak melongarkan bajunya. Ketika stetoskop aku masukkan di dalam bajunya lewat lubang lehernya, tepat kena putingnya. Dia memekik. Aku pun kaget tapi aku pun tidak melihatnya karena malu. Dia menyuruhku untuk untuk lama lama didaerah itu. Dia merem melek kayak nahan sesuatu, dipegangnya tanganku lalu ditekan tekan daerah putingnya. Aku merasa sesuatu mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak ngapain.. Emang enak banget diperiksa.. Kayak orang sakit beneran banget." Ratna Tanya ama kakaknya.&lt;br /&gt;Kak Lina pun berhenti."Yuk kita mandi soalnya sudah sore lagikan kamu Ratna ada les lho nanti kamu ketinggalan." Ajak Kak Lina pada kami berdua. Dia menyuruh bawa handuk ama baju ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengisi air, aku pun membuka bajuku tanpa ada beban yang ada dan telanjang bulat begitu juga ama Ratna. Kamipun bermain air di bathup. Kamar mandi disini amat mewah ada shower bathup dan lain lain lah, maklum dia anak terkaya dikampungku. Setelah itu pintu digedor ama kakaknya dia suruh buka pintu kamar mandinya. Aku pun membukanya. Kak Lina melihatku penuh kagum sambil menatap bagian bawahku yang sudah tanpa pelindung sedikitpun, aku baru tahu itu namanya lagi horny. Lalu dia masuk segera di membuka piyama mandinya. Jreng.. Hatiku langsung berdetak kencang, dia menggunakan bra tranparan ama CD yang tadi dia pake dihadapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bolehkan mandi bersama kalian lagian kalian kan masih anak kecil."&lt;br /&gt;"Ihh.. Kakak.. Punya kakak itu menonjol" ledek adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya tersenyum menggoda kami terutama aku."biarin"sambil dia pegang sendiri puting dia menjawab lalu dia membasahi badannya ama air di shower. Makin jelas apa yang nama payudara cewek lagi berkembang. Beitu kena air dari shower bra Kak Lina agak merosot kebawah. Lucu banget bentuknya pikirku. Payudaranya hendak seakan melompat keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna bergegas keluar tapi aku tidak, aku takut kalau ketahuan anuku mengeras, aku malu banget. Baru kali ini aku mengeras gede banget. Lalu Kak Lina mendekat dan melihatku serta menyuruhku untuk turun. Aku turun dengan tertunduk muka Kak Lina melihat bagian bawahku yang sudah mengeras sama pada waktu aku bermain tapi bedanya sekarang langsung dihadapan mata. Dia hanya tersenyum padaku. Aku kira dia marah. Dia kayak sengaja menyenggol senjataku dengan paha mulusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooohh.. Apa itu.." (pura pura dia tidak tahu) Ratnapun tertawa melihatnya.&lt;br /&gt;"Itu yang dinamakan senjatanya laki laki yang lagi mengeras tapi culun ya kalau belum disunat" Kak Lina memberitahukan pada adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah busanya melimpah di air kami pun nyebur bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adik adik, Kakak boleh nggak membuka bra kakak" pinta Kak Lina pada kami.&lt;br /&gt;"Buka aja to Kak lagian kalau mandi pakai pakaian kayak orang desa." adiknya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku nggak bisa jawab. Dengan pelan pelan kancing dibelakang punggung dibukanya lalu lepas sudah pengaman dan pelindung susunya. Dengan telapak tangannya dia menutupi payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah buka aja sekalian CD nya nanti kotor kena bau CD kakak," ujar Ratna kepada kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera dia berdiri diatas bathup melorotkan CDnya dengan hati hati(kayaknya dia sangat menunggu ekspresiku ketika melihat wanita telanjang bulat dihadapannya). Ketika dia berdiri membetulkan shower diatas kami, aku melihat seluruh tubuhnya yang sudah telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak anu.. anu.. Susu kakak besarnya, ama bawahan kakak ada rambutnya dikit," aku memujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia hanya tersenyum dan memberitahu kalau aslinya bawahan nya lebat hanya saja rajin dicukur. Dia agak berlama lama berdiri kayaknya makin deket aja bagian sensitivenya dengan wajahku, ada sesuatu harum yang berbeda dari daerah sekitar itu. Kak Lina terus berdiri sambil melirikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membilasi payudaranya dengan air hangat serta digoyang dikit dikit bokong bahenolnya. Dia menghadap kami sambil mnyiram bagian sensitifnya. Aku pun tak berani langsung menatapnya. Sambil memainkan payudaranya sendiri dia punya saran plus ide gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mainan yuk. Aku jadi ibunya, kamu jadi anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kak Lina menyuruh mainan ibu ibuan, dia menyuruh kami jadi bayi. Lalu dia menyodorkan susunya pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku kasihan, sini ibu beri kamu minum" dia berkata pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna pun langsung mengenyot puting susu kakaknya, tapi aku pun tak bergerak sama sekali, lalu dia langsung menyambar kepalaku ditarik ke arah payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo sedot yang kuat.. Ahh.. Cepet.. Gigit pelan pelan.. Acchh," kata itu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi koq nggak keluar airnya. Punya Mama keluar air susunya. Tiba tiba Ratna berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhh.. Ini kan namanya mainan jadi nggak beneran. Kamu udahan aja sudah jamnya kamu les" Ratna pun bergegas turun dan berganti pakaian sejak saat itu aku tak memdengar langkah dia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun masih disuruh mainan dengan putingnya tangan kiriku dikomando supaya meremas susu kirinya. Tiba tiba ada sesuatu yang bikin aku bergetar, ada sesuatu yang berambat dan memegangi anuku. Dengan kanan kanan memegangi tangan kiriku untuk meremas payudaranya ternyata tangan kanannya memainkan penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera dia memerintahkan untuk turun dari situ. Kami pun turun dari situ. Lalu. Dia duduk di pingiran sambil membuka selakangannya. Aku baru melihat rahasia cewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahmad ini yang dinamakan vagina, punya cewek. Tadi waktu kakak berdiri aku tahu kalau kamu memperhatikan bagian kakak yang ini. Ayo aku ajarin gimana mainan ama vagina" akupun hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyuruh menjilatinya setelah dia mengeringkannya dengan handuk. Aku pun menjulurkan lidahku kesana tapi bagian luarnya. Dia hanya tersenyum melihatku. Dengan jari tangan nya dia membuka bagian kewanitaan itu. Aku benar benar takjub melihat pemandangan kayak itu. Warnanya merah muda seperti sebuah bibir mungil. Setelah dia buka kemaluannya, lalu dia suruh aku supaya menjilatinya. Ada cairan sedikit yang keluar dari bagian itu rasanya asin tapi enak. Disuruh aku menyodok dengan kedua jariku, terasa sangat becek. Dia menyuruhku berhenti sejenak. Ketika dia menggosok gosok sendiri dengan tangannya dengan cepat lalu dia menyambar kepalaku dengan tangannya ditempelkan mukaku dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seerr.. Serr.. bunyi air yang keluar dari vaginanya banyak sekali. Sambil berteriak plus mendesis lagi merem melek. Setelah itu dia jongkok, aku kaget ketika dia langsung menjilati kepala penisku. Di buka bagian kulup hingga kelihatan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak enggak jijik ya kan buat kencing" aku bertanya pada dia tapi dia terus mengulumnya maju mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit dan geli itu yang kurasakan tapi lama lama enak aku langsung rasanya seperti kencing tapi tidak jadi. Dia menggunakan sabun cair katanya biar agak licin jadi nggak sakit. Saking enaknya aku bagai melayang badanku bergetar semua. Setelah dibilas dia mengkulum penisku, semua masuk didalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak aku mau kencing dulu" aku menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia berbaring dilantai dia menyuruh bermain dengan kacang didalam vaginanya. Pertama aku tidak tahu, dia memberi tahu setelah dia sendiri membukanya. Aku sentuh bagian itu dengan kasar dia langsung menjerit dia mengajari bagaimana seharusnya melakukannya. Diputar putar jariku disana tiba tiba kacanga itu menjadi sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit aku bermain dengan jariku kadang dengan lidahku. Keluar lagi air dari vaginanya. Aku disuruh terus menyedotnya. Dia kayaknya sangat lemas lunglai. Setelah beberapa saat dia memegang penisku dan menuntunnya di vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba masukan anumu ke dalam sana pasti aku jamin enak banget rasanya" dia menyuruhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati-hati aku masukkan setelah masuk aku diam saja. Dia menyuruh aku untuk menekan keras. Dan bless masuk semuanya dia memberi saran kayak orang memompa. Masuk-keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Acchc terus.. yang cepet.. ah.. ah.. ah.." dia mendesis, dia menggoyangkan pantatnya yang besar kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekitar 3 menit rasanya penisku kayak diremas oleh kedua daging itu lalu aku ingin sekali pipis. Saat itu penisku kayak ada yang air mengalir. Dan serr.. seerrs air kencingku membanjiri bagian dalamnya. Setelah kelelahan kami pun keluar dia langsung pergi ke kamar masih keadaan bugil. Kemudian dia berbaring karena lelah, aku mendekatinya dan dia memelukku seperti adiknya, payudaranya nempel di mukaku. Setelah aku melihat wajahnya dia menangis. Lalu dia menyuruh aku pulang. Aku mengenakan pakaian dan pulang. Dia menyuruh merahasiakan kalau aku berbicara ama orang lain aku nggak boleh bermain ama adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun terus melakukannya sekitar 1 tahun tanpa ada siapa yang tahu. Sekitar aku kelas 1 SMP dia kawin ama temannya karena dia hamil. Ketika 2 minggu lalu (saat ini) aku bertemu dia bertanya masih suka main seperti dulu. Akupun hanya tertawa ketika aku tahu itu yang namanya sex dan aku ngucapin terima kasih buat kakak, itu adalah pengalamanku yang pertama. Buat pembaca aku masih punya cerita nyata yang tak kalah seru tunggu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-1112372112393054520?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1112372112393054520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/1112372112393054520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/kak-lina.html' title='Kak Lina'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-2167175482147906910</id><published>2007-08-30T11:45:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Baby Syster</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah seminar Marketing dan diteruskan dengan pertemuan khusus para leaders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghilangkan suntuk, aku browsing ke internet dan berbagai macam situs aku buka, seperti biasa pasti terdapat banyak situs porno yang asal nyrobot. Biasanya aku langsung close karena aku enggak enak dengan kakakku, tetapi malam ini mereka tidak ada dirumah, hanya bersama dengan seorang baby siters keponakanku, namanya Ijah baru berumur 18 Tahun dan berasal dari Wonosobo. Memang agak kolotan dan dusun sekali, tetapi kalau aku perhatikan lagi Ijah memiliki body yang lumayan bagus dengan wajah yang tidak terlalu jelek.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa mengobrolkan acara tivi atau terkadang Ijah (panggilan Ijah sehari-hari) aku ajari internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs porno sangat besar dan libidoku naik saat aku lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aku sadari Ijah keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah sudah berapa lama dia berdiri disampingku ikut memperhatikan foto-foto telanjang yang ada di monitor komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa enggak malu ya..?" tanya Ijah yang membuatku kaget dan segera aku ganti situsnya dengan yang "normal". Dengan berusaha tenang, aku minta Ijah mengulangi pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lho tadi, gambar cewek telanjang yang Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Ijah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dengan santai aku jawab sembari menyuruhnya duduk disebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini Ijah, ini foto bukan aku yang buat, orang yang buat ini (sambil aku perlihatkan lagi situs yang memuat foto telanjang tadi), merekakan model yang dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ijah melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dengan posisi badan agak membungkuk sehingga terlihat jelas bulatan kenyal panyudaranya, sudah sejak lama aku menikmati pemandangan ini dan aku sangat terobsesi untuk tidur dengan Ijah. Aku tersentak kaget saat Ijah bertanya soal foto dIjahana seorang cowok sedang menjilati vagina cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa nggak geli ceweknya dijilati kayak gitu terus lagian mau-maunya cowok itu jilatin punya ceweknya padahalkan tempat pipis?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan otak yang sudah kotor aku mulai berfikir bagaIjahana aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gini Ijah, vaginanya cewek kalau dijilatin oleh cowok malah enak, memang awalnya geli tapi lama-lama ketagihan ceweknya. Kamu belum pernah coba kan?" tanyaku pada Ijah sambil tanganku membuka foto-foto yang lebih hot lagi.&lt;br /&gt;"Belum pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes sudah pernah, aku takut kalau nanti hamil". (memang Ijah sangat terbuka tentang pacarnya yang di Bogor dan pernah suatu hari cerita kalau pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Ijah nggak mau).&lt;br /&gt;"Kalau Cuma kayak gitu nggak bakal bikin hamil, gemana kalau kamu coba, nanti kalau kamu hamil aku mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal uang, terus kalau ternyata kamu nggak hamil, kamu nanti aku ajari gaya-gaya yang ada difoto ini. GIjahana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ijah cuma diam sambil lihatin wajahku, sebenarnya aku tahu dia naksir aku sudah lama tapi karena posisi dia hanya babysiters yang membuatnya nggak PD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar ya.., janji lho?" pintanya dengan sedikit ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan wajah penuh semangat aku bersumpah untuk menepati janjiku, meskipun aku enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aku putuskan sambungan internet dan mulai "melatih" Ijah dengan diawali teknik berciuman yang sudah pernah dia rasakan dengan pacarnya, sentuhan halus bibirnya yang lembut membuatku membalas dengan ganas hingga tanpa terasa tanganku telah meremas payudara Ijah yang memang masih kencang. Desahan halus mulai muncul saat bibirku menelusuri lehernya yang agak berbulu seolah Ijah menikmati semua pelatihan yang aku berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa cumbuan ini kurang nyaman, aku dan Ijah pindah ke dalam kamar Ijah, perlahan aku rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah bibir dan lehernya sedangkan tanganku berusaha membuka kaos dan BH-nya dan kini separoh tubuh Ijah telah bugil membuat libidoku tidak karuan. Tanpa ada keluhan apapun Ijah terus mendesah nikmat dan tangannya membIjahbing tangan kiriku meremas teteknya yang bulat sedangkan payudara kanannya aku lumat dengan bibirku hingga terdengar jeritan kecil Ijah. Entah berapa lama aku mencumbu bagian atas tubuhnya dan sebenarnya keinginanku untuk bercinta sudah sangat besar tetapi aku tahu ini bukan saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama hingga Ijah sepenuhnya bugil dan ini yang membuat dia malu. Untuk membuat Ijah tidak merasa canggung aku mencumbunya lebih ganas lagi sehingga kini Ijah mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas kaosku untuk menyalurkan gairahnya yang mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar kebawah menuju vaginanya yang tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aku angkat kedua pahanya hingga posisi selakangannya terlihat jelas. Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di vaginanya dan aku tahu baru aku yang melihat surga dunia milik Ijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bibirku mulai menjilati vaginanya yang mulai banjir dengan halus agar Ijah tidak merasa geli dan ternyata rencanaku berjalan lancar, desahan yang tadi menghiasi cumbuanku dengan Ijah kini mulai diselingi lenguhan dan jeritan kecil yang menandakan kenikmatan luar biasa yang sedang dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir yang keluar dari kemaluannya yang membuatku lebih bergairah lagi, tiba-tiba seluruh tubuh Ijah kejang dan suara lenguhannya menjadi gagap sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dengan diiringi lenguhan panjang Ijah mencapai klIjahak, tubuhnya bergerak tidak beraturan dan aku lihat sepasang teteknya mengeras sehingga membuatku ingin meremasnya dengan kuat. Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring tenaganya yang habis terkuras membuat tubuhnya yang bugil menjadi lunglai, dengan kepasrahannya aku menjadi sangat ingin segera menembus vaginanya dengan penisku yang sedari tadi sudah tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ijah merasa sangat aneh, bingung aku jelasin rasanya" katanya dengan perlahan.&lt;br /&gt;"Belum pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, aku takut kalau terjadi apa-apa," sambil memelukku erat. Sambil kukecup keningnya, aku jawab kekhawatiranya.&lt;br /&gt;"Ini yang disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian. Ijah nggak perlu takut atau khawatir soal ini, kan aku mau tanggungjawab kalau kamu hamil," sambil kubalas pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas aku lupa libidoku dan berganti dengan perasaan ingin melindungi seorang cewek, kemudian tanpa disengaja tangan Ijah menyentuh penisku sehingga membuat penisku kembali menegang. Wajah Ijah tersipu malu saat aku lihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya dan tanpa menunggu komandoku Ijah membalasnya dengan lebih panas lagi dan kini Ijah terlihat lebih PD dalam mengIjahbangi cumbuanku. Teteknya aku remas dengan keras sehingga Ijah mengerang kecil. Kini bajuku dibuka oleh sepasang tangan yang sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yang kini sudah acak-acakan spreinya dan aku imbangi dengan melepas celana pendekku dan segera terlihat penis yang sudah tegang karena aku terbiasa tidak memakai CD saat dirumah. Melihat pemandangan itu, Ijah malu dan menjadi sangat kikuk saat tangannya aku bimbing memegang penisku dan setelah terbiasa dengan pemandangan ini aku membuat gaya 69 dengan Ijah berada diatas yang membuatnya lebih leluasa menelusuri penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama aku bujuk untuk mengulumnya, akhirnya Ijah mau melakukan dan menjadi sangat menikmati, sedangkan aku terus menghujani vaginanya dengan jilatan lidahku yang memburunya dengan ganas. Karena tidak kuat menahan rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhnya, Ijah tak mampu meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan aku tahu Ijah menginginkan kenikmatan yang lebih lagi sehingga tubuh bugilnya aku rebahkan sedangkan kini tubuhku menindihnya sembari aku teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yang memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tanganku menuntun tangan kanan Ijah untuk memegang penisku hingga berada tepat di depan mulut vaginanya, aku gosok-gosok penisku di lipatan vaginanya dan mengakibatkan sensasi yang menyenangkan, erat sekali tangannya memelukku sambil telus mengerang nikmat tanpa memperdulikan lagi suaranya yang mulai parau. Vaginanya semakin basah dan perlahan penisku yang tidak terlalu besar mendesak masuk ke dalam vaginanya dan usahaku tidak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan kepala penisku. Perlahan aku mencoba lagi dan dengan inisiatif Ijah yang mengangkat kedua kakinya hingga selakangannya lebih terbuka lebar yang membuatku lebih leluasa menerobos masuk vaginanya dan ternyata usahaku tidak sia-sia. Dengan sedikit menjerit Ijah mengeluh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong" dengan terbata-bata dan lemah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat seluruh penisku telah masuk semua, aku diam sejenak untuk merasakan hangatnya lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku gerakkan penisku keluar-masuk liang vaginanya hingga menjadi lebih lancar lagi, semakin lama semakin kencang aku gerakkan penisku hingga memasuki liang paling dalam. Berbagai rancauan yang aku dan Ijah keluarkan untuk mengekspresikan kenikmatan yang kami alami sudah tidak terkendali lagi, hampir 15 menit aku menggenjot vaginanya yang baru pertama kali dIjahasuki penis hingga aku merasa seluruh syaraf kenikmatanku tegang. Rasa nikmat yang aku rasakan saat spermaku keluar dan memasuki lubang vaginanya membuat seluruh tubuhku menegang, aku lumat habis bibirnya yang memerah hingga Ijah dan kedua tanganku meremas teteknya yang mengeras. Akhirnya aku bisa merasakan tubuh Ijah yang lama ada dianganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Ijah dengan erat agar dia tidak galau dan setelah tenagaku pulih aku berusaha memakaikan baju padanya karena Ijah tidak mampu berdiri lagi. Saat aku hendak mengenakan CD aku lihat sedikit bercak merah dipahanya dan aku bersihkan dengan CD ku agar Ijah tidak tahu kalau perawannya sudah aku renggut tanpa dia sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua melakukan hal itu berulangkali dan Ijah semakin pintar memuaskanku dan selama ini dia tidak hamil yang membuatnya sangat PD. Tanpa disadari 2 tahun aku menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Ijah tidak menjadi baby siters keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan ke daerah lain. Sekarang Ijah menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku saat pacar-pacarku tidak mau aku ajak bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lebaran seperti biasa Ijah pulang kampung selama 2 minggu dan yang membuatku kaget dia membawa seorang cewek sebaya dengan Ijah dan bernama Dina yang merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari Ijah yang membuatku berpikir kotor saat melihat tubuh yang dIjahiliki Dina yang lugu seperti Ijah 2 tahun lalu. Pada malam harinya, setelah kami melepas rasa kangen dengan bercinta hampir 2 jam, Ijah tiba-tiba menjadi serius saat dia mengutarakan maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, aku sudah 2 tahun melayani Mas untuk membereskan urusah rumah dan juga memberikan kepuasan diranjang seperti yang aku berikan saat ini," Ijah terdiam sejenak.&lt;br /&gt;"Aku ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun sampai saat ini aku tidak hamil. Apa Mas mau menikahiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dan diam saat disodori pertanyaan yang tidak pernah terlintas sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aku terdiam dan tidak tahu mau berkata apa dan akhirnya Ijah meneruskan perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ijah tahu kalau Mas nggak ada keinginan untuk menikahiku dan aku nggak menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aku merasa sangat bahagia dan sebelum itu aku telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar saat aku tahu Mas sangat perhatian denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijah terdiam lagi dan aku memeluknya erat penuh rasa sayang dan Ijah pun membalas pelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi.., aku ingin lebih dari ini. Aku ingin bisa menikmati cinta dan kasih sayang seorang suami dan itu yang membuatku menerIjaha pinangan seorang pria yang rumahnya tidak jauh dari desaku." Aku terhenyak dan menjadi lebih bingung lagi dan belum bisa menerIjaha kabar yang benar-benar mengagetkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua hanya bisa diam dan tanpa terasa meleleh air mataku dan aku baru merasa bahwa aku ternyata benar-benar menginginkannya, namun ternyata sudah terlambat. Keesokan harinya aku mengantar Ijah ke terminal untuk kembali pulang ke desanya dan menikah dengan seorang duda tanpa anak, menurutnya calon suaminya akan menerIjahanya meskipun dia sudah tidak perawan. Dengan langkah gontai aku kembali ke mobilku dan melalui hari-hariku tanpa Ijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-2167175482147906910?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/2167175482147906910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/2167175482147906910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/baby-syster.html' title='Baby Syster'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-5934907480932067285</id><published>2007-08-30T08:40:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Ayoe &amp; Anaknya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Didalam cerita pengalaman saya yang pertama yang saya beri judul "Masa kecil saya di Palembang", saya menceritakan bagaimana saya diperkenalkan kepada kenikmatan senggama pada waktu saya masih berumur 15 tahun oleh Ayoe, seorang wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita porno ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Ayoe, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya memandang tubuh Ayoe yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atahu mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kesempatan saya dan Ayoe untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Ayoe dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam pAyoedaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayoe sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Ayoe selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atahu tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayoe bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayoe juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayoe sangat sering menggoda saya dengan menertawakan "kulup" saya, dan setelah beberapa minggu Ayoe kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atahu mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang Ayoe juga minta "main" walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayoe, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Ayoe sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap pAyoedaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Elfi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, "Ibu main kancitan, iya??" (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Ayoe diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Elfi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo, ibu main kancitan," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pelan-pelan Ayoe menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elfi, Elfi. Kamu ngapain sih disini?" kata Ayoe lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elfi pulang sekolah agak pagi dan Elfi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Jonas," kata Elfi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayoe tenang-tenang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elfi juga mau kancitan," kata Elfi tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"E-eh, Elfi masih kecil?" kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elfi mau kancitan, kalau nggak nanti Elfi bilangin Abah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Elfi, jangan bilangin Abah?, kata Ayoe membujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elfi mau kancitan," Elfi membandel. "Kalo nggak nanti Elfi bilangin Abah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya udah, diam. Sini, biar Jonas ngancitin Elfi." Ayoe berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Elfi bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang "main kancitan" segala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayoe mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini, biar Elfi lihat." Ayoe mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Elfi. Elfi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tidur saya cukup besar dan Ayoe kemudian menyutuh Elfi untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Elfi yang masih begitu remaja. PAyoedaranya masih belum berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam. Ayoe kemudian melorot celana dalam Elfi dan saya melihat kemaluan Elfi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Elfi merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengelus-elus bukit venus Elfi yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Elfi menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Elfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, Elfi malu ah?" kata Elfi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, Elfi mau kancitan, ndak?" kata Ayoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengendus kemaluan Elfi dan baunya sangat tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uh, mambu pesing." Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya "keju" yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Elfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar," kata Ayoe yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Elfi dengan jari-jari saya. Elfi mulai membuka pahanya makin lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian Ayoe datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Elfi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Elfi mulai memerah karena digosok-gosok Ayoe dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Elfi. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Elfi yang hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Elfi-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Elfi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Elfi menggeliat-geliat sambil mengerang, "Ibu, aduuuh geli, ibuuuu?., geli nian ibuuuu?."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Elfi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, sakit bu?," Elfi hampir menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jonas, pelan-pelan masuknya." Kata Ayoe sambil mengelus-elus bukit Elfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba lagi mendorong, dan Elfi menggigit bibirnya kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit, ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayoe bangkit kembali dan berkata,"Jonas tunggu sebentar," lalu dia pergi keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu kemana Ayoe perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Elfi dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Elfi. Elfi memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayoe yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Elfi yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Elfi mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, "Aduuuh?!" Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Elfi masih tetap kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi Ayoe datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Elfi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Elfi. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Elfi meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat Elfi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cabut dulu," kata Ayoe tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Elfi. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayoe kembali melumasi penis saya dan kemaluan Elfi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Elfi yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Elfi. Aduh nikmatnya, karena lobang Elfi betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Elfi. Elfi yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayoe, ibunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elfi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Elfi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atahu tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Elfi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Elfi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayoe sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayoe sepuas-puasnya, sementara Elfi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Ayoe dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayoe kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Ayoe. "Alangkah lemak nyoooooo?!" saya berteriak dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ugh, ibu kentut," kata Elfi tetapi Ayoe hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Elfi. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayoe terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atahu tiga kali seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Ayoe, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak. Saya sangat beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor ayam, dan setiap pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya juga memperhatikan dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya cukup besar dibandingkan suami Ayoe ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya Ayoe juga cukup puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur dan ketika saya masih kawin dengan isteri saya yang orang bule, walaupun perkawinan kami itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah menyeleweng. Tetapi saya akan selalu berterima kasih kepada Ayoe (entah dimana dia sekarang) yang telah memberikan saya kenikmatan didalam umur yang sangat dini, dan pelajaran yang sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuan, terlepas dari apakah itu salah atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-5934907480932067285?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5934907480932067285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/5934907480932067285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/ayoe-anaknya.html' title='Ayoe &amp; Anaknya'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-4726382791472334041</id><published>2007-08-30T06:37:00.000-07:00</published><updated>2007-08-30T07:03:12.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ABG'/><title type='text'>Anak Tetangga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai, para pembaca cerita seks, kenalkan nama saya Andra (nggak nama sebenarnya). Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah indah. Tapi dalam kisah ini bukan indah tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama indah. Malah waktu itu aku lagi marahan sama doski.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku nganggap indah nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak indah hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee...). Tapi si indah menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Mayang, si bungsu dan Erina, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Mayang datang menghampiriku.&lt;br /&gt;"Lagi nggak ngapel nih, Mas Andra?" sapanya ramah (perlu diketahui kalau Mayang memang orangnya ramah banget)&lt;br /&gt;"Ngapel sama siapa, May?" jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.&lt;br /&gt;"Ah... Mas Andra ini pura-pura lupa sama pacarnya."&lt;br /&gt;Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Mayang cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.&lt;br /&gt;"Udah putus aku sama dia." jawabku kemudian.&lt;br /&gt;Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Mayang. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.&lt;br /&gt;"Yah, kacian deh... habis putus sama pacar ya?" godanya. "Kayaknya bete banget lagunya."&lt;br /&gt;Aku menghentikan petikan gitarku.&lt;br /&gt;"Yah, gimana ya... kayaknya aku lebih suka sama Mayang deh ketimbang sama dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Mayang ada mau sama aku.&lt;br /&gt;"May, kok diam aja? Malu yah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayang melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya... waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Mayang yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andra bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?"&lt;br /&gt;"Yah Mayang, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andra, iya nggak?" pancingku.&lt;br /&gt;"Ah, Mas Andra ini bisa aja godain Mayang.."&lt;br /&gt;Mayang mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?&lt;br /&gt;"Mau nggak Mas, tolongin Mayang?"&lt;br /&gt;"Ada upahnya nggak?"&lt;br /&gt;"Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih..."&lt;br /&gt;Cubitan kecil Mayang kembali memburu di pahaku. Siiiir... kok malah tambah merinding begini ya?&lt;br /&gt;"Kalau diupah sun sih Mas Andra mau loh." pancingku sekali lagi.&lt;br /&gt;"Aah... Mas Andra nakal deh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Mayang mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Mayang biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.&lt;br /&gt;"Ya udah, Mayang ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik... pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.&lt;br /&gt;"Sudah bilang sama Erina kalo kamu kemari?"&lt;br /&gt;"Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andra."&lt;br /&gt;"Trus si Erina gimana? Nggak marah?"&lt;br /&gt;"Ya enggak, ngapain marah."&lt;br /&gt;"Sendirian dong dia?"&lt;br /&gt;"Mas Andra kok nanyain Erina mulu sih? Sukanya sama Erina ya?" ujar Mayang merajuk.&lt;br /&gt;"Yee... Mayang marah. Cemburu ya?"&lt;br /&gt;Mayang merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mayang udah punya pacar belum?"tanyaku memancing.&lt;br /&gt;"Belum tuh."&lt;br /&gt;"Pacaran juga belum pernah?"&lt;br /&gt;"Katanya Mas Andra mau ngajarin Mayang pacaran." balas Mayang.&lt;br /&gt;"Mayang bener mau?" Gayung bErinambut nih, pikirku.&lt;br /&gt;"Pacaran itu dasarnya harus ada suka." lanjutku ketika kulihar Mayang tertunduk malu. "Mayang suka sama mas Andra?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayang memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Mayang.&lt;br /&gt;"Mayang suka sama Mas Andra?" ulangku.&lt;br /&gt;"Iya." gumamnya lirih.&lt;br /&gt;Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh...&lt;br /&gt;"Mas Andra mau ngesun Mayang, Mayang nurut aja yah..." bisikku ke telinga Mayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Mayang menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.&lt;br /&gt;Mmm..muah... kuhisap bibir ranum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engh.. emmh.." Mayang mulai melenguh.&lt;br /&gt;Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Mayang penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirku merayap menyapu leher jenjang Mayang. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Mayang.&lt;br /&gt;"Engh.. Masss... jangan... aku uuuh..."&lt;br /&gt;Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Mayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"May... kaosnya dilepas ya sayang..."&lt;br /&gt;Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Mayang satu pErsatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Mayang bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Mayang kehilangan kenikmatannya. Jemari Mayang menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Mayang ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaos pink Mayang terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Mayang dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow... payudara Mayang (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Mayang. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Mayang memicingkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"May... adekmu udah gede banget May..."&lt;br /&gt;"Udah waktunya dipetik ya mass..."&lt;br /&gt;"Ehem, biar aku yang metik ya May..."&lt;br /&gt;Aku berada di atas Mayang. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Mayang.&lt;br /&gt;Putar... putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.&lt;br /&gt;"Auh...Mass.. Aku nggak tahan Mass... kayak kebelet pipis mas.." rintih Mayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Mayang dengan mulutku.&lt;br /&gt;"Mmmm... suuup... mmm..." kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.&lt;br /&gt;"Mass... sakiit..." rintih Mayang sambil memegangi vaginanya.&lt;br /&gt;Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Mayang sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Mayang menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Mayang telah basah.&lt;br /&gt;"Mayang kencing di celana ya Mass?"&lt;br /&gt;"Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini."&lt;br /&gt;Mayang tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Mayang. Merah merona, vagina yang masih perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.&lt;br /&gt;"Tahan ya sayang...engh.."&lt;br /&gt;"Aduh... sakiiit mass..."&lt;br /&gt;"Egh... rileks aja...."&lt;br /&gt;"Mas... aah!!!" Mayang menjambak rambutku dengan liar.&lt;br /&gt;Slup... batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Mayang yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.&lt;br /&gt;"Aduuuh Masss... sakiiit..." rintih Mayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.&lt;br /&gt;"Jruub..."&lt;br /&gt;Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Mayang. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.&lt;br /&gt;"Sakit sayang..." kataku.&lt;br /&gt;"Enakkk...eungh..." Mayang menyukainya.&lt;br /&gt;Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Mayang berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Mayang melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggh.. ahhh.." desis Mayang ketika tanganku mulai meremas-remasnya.&lt;br /&gt;"Mass aku mau pipis..."&lt;br /&gt;"Pipis aja May... nggak papa kok."&lt;br /&gt;"Aaach...!!!"&lt;br /&gt;"Hegh...engh..."&lt;br /&gt;"Suuur... crot.. crot.. "&lt;br /&gt;Lendir kawin Mayang keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah..." lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Mayang menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mayangpun terlelap kecapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreek... Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Erina terpaku di depan pintu memandangi tubuh Mayang yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Erina yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Mayang masuk tadi Erina mengintip di depan kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Erina? Ng... anu.." antara takut dan nafsu aku pandangi Erina.&lt;br /&gt;Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Mayang. Pantas saja kalau dia lebih matang dari Mayang. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Mayang, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Mayang, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal..."&lt;br /&gt;"Asal apaan?"&lt;br /&gt;Mata Erina sayu memandang ke arah Mayang dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Erina sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Erina membarakan gairahku lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erina duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.&lt;br /&gt;"Mas Andra.. sini.. ay..."&lt;br /&gt;Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.&lt;br /&gt;"Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi.." pintanya penuh hasrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gantiin Erina meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Erina sudah nafsu banget.&lt;br /&gt;"Eahh.. mmhh..." rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.&lt;br /&gt;"Eahhh.. mas.. sakit.. enak...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erina memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. "Er... tanganmu nakal banget..."&lt;br /&gt;Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Erina bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.&lt;br /&gt;"Auh..."&lt;br /&gt;Erina menekan batang penisku.&lt;br /&gt;"Er... sakit sayang" keluhku diantara payudara Erina.&lt;br /&gt;"Habis dingin kan mas..." balasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas aku pandangi wajah Erina.&lt;br /&gt;"Erina, mau jurus baru Mas Andra?"&lt;br /&gt;Gadis itu mengangguk penuh semangat.&lt;br /&gt;"Kalau gitu Erina tiduran di lantai gih!"&lt;br /&gt;Erina menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Erina mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. "Mmmm... enghh..."&lt;br /&gt;Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Erina untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Erina segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).&lt;br /&gt;Erina bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Erina, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Erina. Ukuran vagina Erina sedikit lebih besar dibanding milik Mayang, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Erina. Dan klitorisnya... mmm... mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngngehhh...uuuhh.." lenguh Erina sambil terus melumat senjataku.&lt;br /&gt;Sedang lendir kawinnya keluar terus.&lt;br /&gt;"Er... isep sayang, iseppp..." kataku ketika aku merasa mau keluar.&lt;br /&gt;Erina menghisap kuat-kuat penisku dan crooott... cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Erina. Erina berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.&lt;br /&gt;"Aha..." ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Erina berbisik, "Mas.. aku udah nggak tahan..."&lt;br /&gt;Sambil berbisik Erina memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta Erina menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.&lt;br /&gt;"Sakit Mas..."&lt;br /&gt;Sulitnya masuk liang kawin Erina, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggeh... dikit lagi Er..."&lt;br /&gt;"Eeehhh... waaa!!"&lt;br /&gt;"Jlub..." 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Erina. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.&lt;br /&gt;"Eeehh... terus mass... uhh..."&lt;br /&gt;Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Erina meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Erina. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Erina menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Erina kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Mayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Mayang ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Erina. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Mayang sudah memudar.&lt;br /&gt;He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-4726382791472334041?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4726382791472334041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/4726382791472334041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/anak-tetangga.html' title='Anak Tetangga'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-6557247564781405401</id><published>2007-08-29T12:43:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Masa Kecil</title><content type='html'>Siang itu sepulang dari sekolah aku langsung menuju rumah untuk bermain playstation yang baru dibelikan ayah untukku. Saat itu keadaan rumah cukup lengang karena ayahku berada di kantor sementara ibuku sedang mengunjungi saudaranya yang berada di luar kota selama tiga hari. Di rumah cuma ada seorang pembantuku yang sudah cukup tua usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Den kecil," begitu pembantuku biasa memanggilku yang memang saat itu aku baru berusia 13 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa bik? tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Begini den, tadi bibi dapet kabar dari orang rumah, katanya anak bibi yang kecil sakit panas jadi paling bibi harus cepat pulang sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun jadi bingung lalu aku bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi' mendingan ngomongnya sama Mbak Dani aja, mungkin bentar lagi dia pulang," begitu jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dani adalah adik dari ayahku yang tinggal bersama keluarga kami di Jakarta untuk bersekolah dan saat itu ia masih duduk di kelas 3 SMA. Ia juga seorang yang cantik dan sangat menarik karena banyak teman laki-lakinya yang berkunjung ramai-ramai untuk mengobrol dengannya di teras depan rumahku, atau mengajaknya pergi jalan-jalan bareng, tapi ia tidak pernah mau. Menurutku ia adalah seorang gadis baik-baik. Begitulah, akhirnya si bibi pun setuju dan ia menunggu sambil mempersiapkan barang bawaannya sementara aku sibuk bermain dengan playstation baruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang terdengarlah bunyi bel dan si bibi kulihat dengan tergopoh-gopoh membuka pintu sambil berharap bahwa yang datang adalah Mbak Dani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai bi, ada apa? kok mukanya kusut begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar Mbak Dani berbicara dan bibi pun menceritakan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, kalau gitu sebentar ya bi biar saya telepon bapak di kantor jadi bapak bisa memutuskan apa bibi boleh pulang atau tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kulihat Mbak Dani menelepon dan menceritakan semuanya pada ayahku di kantor dan akhirnya diputuskan bahwa si bibi boleh pulang selama tujuh hari dan kemudian harus kembali bekerja lagi. Mendengar hal itu terlihat si bibi senang sekali dan segera mengambil semua barang bawaannya yang tidak banyak karena sebagian besar barangnya masih ada di kamarnya, pamit padaku dan Mbak Dani lalu pergi. Dari sinilah cerita itu bermula..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih saja asyik bermain dengan playstation baruku yang keren itu sampai aku benar-benar lupa bahwa aku belum mengganti baju seragam sekolahku sementara Mbak Dani sudah masuk ke kamarnya. Aku masih tenggelam dalam permainan playstationku sampai aku dikejutkan oleh suara keras Mbak Dani,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rob, kamu benar-benar bandel ya!" masa pulang sekolah tidak ganti baju, cuci tangan dan cuci kaki, bagaimana sih kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak kaget dan hanya bisa berkata ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"maaf Mbak Dani, Rob lupa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kalau begitu sini Mbak Dani gantiin bajumu,"kata Mbak Dani sambil menuntunku ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran mengapa ke kamarnya. Sesampainya di kamar Mbak Dani langsung mengunci pintu kamar lalu membuka baju dan celana seragamku sehingga saat itu aku telanjang bulat di hadapannya. Agak malu juga rasanya karena ia memandangi tubuh telanjangku dengan pandangan yang menurutku aneh. Aku bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Dani mana baju gantinya soalnya Rob mau cepat-cepat main playstation lagi di luar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar sayang," begitu kata Mbak Dani dan ia melanjutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba Rob duduk di ujung tempat tidurnya Mbak Dani yang dekat ke TV jadi Rob bisa nemenin nonton film bareng Mbak Dani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku duduk di ujung tempat tidur, kedua kakiku menjuntai ke lantai dan masih dalam keadaan telanjang bulat aku bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang kita mau nonton film apa Mbak Dani?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menjawab bahwa kita akan menonton film pendidikan. Tak lama setelah itu Mbak Dani membawa kaset video dan segera menyetelnya dan setelah itu ia duduk di sebelahku. Pertama ia duduk sambil satu tangannya dirangkulkan ke pundakku sementara yang satunya lagi mulai mengelus-elus paha kananku. Aku diam saja sambil menunggu munculnya gambar di TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian gambar di TV itupun muncul yang berarti film sudah dimulai. Aku melihat di film tersebut ada keluarga bule yang terdiri dari ayah!, ibu dan seorang anak perempuan kecil yang cantik yang umurnya sebaya atau mungkin lebih muda dariku sedang sarapan pagi, di mana ayah dan ibunya sudah siap dengan pakaian kerjanya untuk berangkat ke kantor. Persis ketika mereka mau berangkat bel pintu rumah berbunyi dan yang datang adalah pembantu rumah tangga mereka atau mungkin baby sitter entahlah pada saat itu aku tidak tahu, tapi yang jelas wanita remaja yang datang itu mengenakan semacam baju seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kedua orang tua anak itu pergi, kulihat si wanita remaja tadi sibuk bebersih rumah dan..tiba-tiba, Mbak Dani mempercepat video tersebut karena katanya bukan ini yang akan diperlihatkannya padaku. Ia masih tetap mempercepat video tersebut sampai adegan di mana si wanita remaja tadi menggendong si anak perempuan kecil yang kali ini terbalut dengan handuk tersebut keluar dari kamar mandi menuju ke kamar orang tuanya yang terdapat tempat tidur besar. Wanita remaja tadi segera melepas handuk dan membaringkan tubuh si anak perempuan kecil telanjang tadi di tempat tidur dan mulai menciumi bibir si anak perempuan kecil tersebut sambil kulihat tangannya mengelus paha dan mulai memainkan kemaluan si anak dengan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kali ini aku melihat kemaluan anak perempuan kecil, masih gundul dan di tengahnya ada belahan yang bisa sedikit dilebarkan dengan jari. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas karena sebelum itu kamera telah memperlihatkannya dari dekat. Kulihat Mbak Dani tersenyum sementara tangannya masih mengusap pahaku. Aku mulai bergerak kegelian saat jemarinya juga mulai memainkan burungku. Merasakan aku yang sudah mulai tidak tenang Mbak Dani berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang kamu nikmati saja ini sangat enak kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berkata apa-apa selain hanya berusaha menikmati sambil menonton film tersebut. Sementara kulihat lagi di layar, wanita remaja tadi kini menjilati kemaluan si anak perempuan kecil dan kemudian menghisapinya dengan mulutnya, dan pada saat itu tanpa kusadari Mbak Dani sudah berada di lantai sementara kepalanya sudah menghadap ke burungku yang sudah berdiri tegak, ia berkata sebaiknya kamu sekarang tiduran telentang di kasur tenang dan nikmati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dani pun mulai menjilati burungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..Ooohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa kehangatan dan kenikmatan saat lidahnya bermain-main di lubang burungku yang kebetulan saat itu aku sudah disunat " Aaahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap duduk dan tidak menuruti keinginannya karena menurutku film itu sangatlah menarik, jadi aku tetap menonton film itu sambil merasakan nikmatnya kuluman dan sedotan yang dilakukan Mbak Dani pada burungku. Aku melihat di film itu bahwa anak perempuan kecil itu juga terlihat menikmati apa yang dilakukan si wanita remaja itu padanya. Walaupun sibuk menghisap burungku, ia masih tetap memperhatikanku lalu kudengar Mbak Dani berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rob kenikmatan yang perempuan kecil itu rasakan, sama dengan kenikmatan yang kamu rasakan saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu merupakan kata-kata yang tak terlupakan untukku, sehingga mungkin sampai saat ini selain menyukai wanita cantik yang seumuran, aku juga sangat menyukai perempuan muda yang cantik atau yang masih sangat muda dan cantik tentunya (Lolita lover). Sementara aku sudah merasa kegelian akibat jilatan, kuluman dan hisapan yang dilakukan Mbak Dani pada burungku sehingga tanganku yang kupakai untuk menopang badanku, kupindahkan untuk memegang kepala Mbak Dani akibatnya tubuhku pun telentang di tempat tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..sshh..aahh..Mbak Dani ..aku .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa berkata-kata, tanganku mencengkram rambutnya dan Mbak Dani tahu kalau aku sudah mau mencapai klimaks, ia mempercepat jilatan lidahnya pada burungku yang berada di dalam mulutnya sementara kepalanya turun naik dengan lambat, hal itu membuatku kelojotan tak tentu arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..Aauh..sshh..aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dani pun memeluk pinggangku dengan erat untuk meredam gerakanku sehingga akhirnya aku merasa bahwa aku akan pipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..Aaahh..Mbak Dani aku mau pipis..ahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dani bukannya melepaskanku tapi malah semakin erat memeluk pinggangku dan dapat kurasakan hisapannya pada burungku semakin kuat dan juga lidahnya tidak berhenti menggelitik kepala dan lubang kemaluanku dan akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..Mbak Dani..oohh..aku tidak kuat lagi menahan ledakan kenikmatan yang kurasakan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku merasa malu karena merasa telah pipis di dalam mulut Mbak Dani, tapi juga aku masih merasakan sedotan mulut Mbak Dani pada burungku masih berlanjut sampai tiba-tiba ia melepaskan mulutnya dari burungku dan dengan mulut yang terbuka kepalanya menyusuri badanku sehingga terasa cairan kencing hangatku yang tumpah dari mulutnya mengenai badanku lalu setelah pada jarak yang kira-kira aku bisa melihatnya dengan jelas ia berhenti dan memperlihatkan cairan pipisku yang ada di mulutnya lalu ia menelannya! Aku kaget setengah mati karena kupikir di akan marah besar padaku. Setelah menelannya ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah pipisnya anak kecil memang benar-benar nikmat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun menjilati cairan yang jatuh dari mulutnya tadi di badanku sampai bersih dan kembali menjilati burungku untuk membersihkan yang bersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah Rob enak kan rasanya? Mau lagi ngga?" Tanya Mbak Dani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersipu-sipu aku mengangguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu syaratnya jangan bilang siapa-siapa, janji ya!" ujar Mbak Dani disertai dengan anggukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus nanti kalau gitu Mbak Dani kasih hadiah buat kamu," katanya sambil tersenyum manis sekali padaku sembari mencium bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah sekarang kamu boleh bobo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dani segera memakaikan pakaian padaku dan menuntuku ke kamar untuk tidur sementara Mbak Dani sendiri sama sekali tidak membuka baju atau roknya selama "menikmati" diriku. Kejadian itu benar-benar membuatku bahagia dan aku dan Mbak Dani bisa berperan seolah tidak terjadi apa-apa di depan kedua orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-6557247564781405401?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6557247564781405401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/6557247564781405401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/masa-kecil_29.html' title='Masa Kecil'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-3866474611017373178</id><published>2007-08-29T12:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Pelajar SMA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Agus termasuk salah seorang pembaca situs RumahSeks yang rajin membaca kisahku secara rutin. Seperti halnya para pembaca yang lain, Agus juga melayangkan email padaku untuk berkenalan. Semua email memang kubalas dengan permintaan persyaratan yang kuajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya 90% di antara mereka langsung rontok, dan yang tersisa ini banyak yang nekad menghubungi HP-ku, walau mereka belum memenuhi persyaratan yang kuajukan sebelumnya. Seperti biasanya telepon yang masuk kalau nomernya belum terdaftar, langsung saja kuhindari dengan berbagai cara, mulai dari kubilang kalau mereka telah salah sambung, tertipulah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus termasuk salah seorang pembaca yang terseleksi, dia langsung memenuhi persyaratan yang kuajukan. Pada emailnya yang berikut ternyata Agus langsung memberikan apa yang menjadi persyaratanku bahkan berikut foto dirinya. Tutur katanya di email cukup sopan dan tidak bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Usia Agus ternyata baru 16 tahun, masih pelajar SMU. Namun postur dan penampilannya layaknya sudah berusia sekitar 27 tahun, bukan berarti wajah Agus tampak lebih tua dari usianya, namun kedewasaan dan penampilan Agus itulah yang membuat dia layaknya sudah benar-benar dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun membalas email Agus dengan ucapan terima kasih, dan kukirim juga foto diriku. Pada email berikut kami pun bertukar kata dan foto-foto kami yang lain sambil juga bertukar biodata. Terus terang aku juga cukup terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Agus baru berusia 16 tahun dan masih SMU. Berarti dia 12 tahun lebih muda dariku, namun orang lain tidak akan percaya pada usia Agus sesungguhnya apabila melihat penampilan dan sosok Agus, demikian pula dengan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kami berkenalan, setiap pulang sekolah Agus selalu datang ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) tempatku bekerja sebagai dokter hewan. Setiap kali datang menemuiku, Agus memang tidak pernah memakai baju seragam sekolah, sehingga banyak rekan kerjaku yang juga terkecoh oleh penampilannya. Mereka semua menganggap Agus adalah pacarku, sehingga banyak juga yang cemburu padaku saat Agus menemaniku hingga sore di KBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau penampilannya cukup dewasa, namun sifat kekanakan Agus masih tetap tampak, maklum biar bagaimana pun usia Agus masih 16 tahun. Bicara soal sex, Agus masih layaknya remaja lain yang baru dalam masa pertumbuhan, keinginannya besar sekali tapi masih takut-takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus menceritakan bahwa untuk menyalurkan libidonya, dia sering melakukan masturbasi di depan komputer, sambil membaca tulisan-tulisan di 17Tahun.com. Sesungguhnya dia sama sekali belum pernah melakukannya karena boro-boro ML, melihat tubuh wanita telanjang secara nyata saja belum pernah, paling-paling dilihatnya di film-film BF yang dia putar tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami semakin hari semakin dekat, layaknya sepasang remaja yang sedang asyik berpacaran memadu kasih. Sejak awal aku sudah mengingatkan Agus dan sering kali juga kuingatkan kembali agar Agus tidak terlalu terlena dengan hubungan kami ini, karena aku memang tidak ingin jatuh cinta apa lagi married.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus pun mau mengerti, jadi hubungan kami adalah sekedar pertemanan saja dan hanya saling suka sama suka satu dengan yang lain. Sejauh ini hubungan kami biasa-biasa saja sampai pada sore ini, saat Agus mengantarku pulang. Memang sejak siang tadi Agus sudah mengunjungiku di KBS dan kami pulang sama-sama. Kebetulan kendaraanku belakangan ini dipakai Papaku, jadi setiap pagi aku didrop dan sore harinya dijemput dari KBS. Sejak aku kenal dengan Agus, Papaku sudah tidak perlu menjemputku lagi karena aku selalu pulang dengan diantar oleh Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumahku Agus kupersilakan untuk masuk, karena dia masih harus menungguku mandi. Aku tadi memang meminta tolong Agus mengantarku ke Gramedia untuk membeli buku tentang konservasi, tapi aku ingin pulang mandi dulu karena badanku terasa gerah sekali dan bau keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu rumahku masih kosong, Papaku belum pulang dan Mamaku entah pergi kemana, sedangkan adikku mungkin masih di kampus. Melihat suasana rumah yang sepi begini, tiba-tiba timbul keisenganku hingga kutanyakan pada Agus..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gus! Kamu benar-benar seumur hidup belum pernah lihat cewek telanjang bulat di hadapanmu?"&lt;br /&gt;"Belum! Emangnya kenapa?" sahut Agus.&lt;br /&gt;"Kalau ada cewek bersedia telanjang di hadapanmu gimana?" tanyaku selanjutnya. Rupanya Agus sudah mengerti kemana arah pembicaraanku selanjutnya.&lt;br /&gt;"Emangnya Mbak Lia mau telanjang bulat di hadapanku?" tanya Agus sedikit menggoda.&lt;br /&gt;"Yuk kita masuk ke kamarku" ajakku pada Agus sambil melangkah masuk ke kamar, dan Agus pun mengikuti langkahku dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup dan kukunci pintu kamarku dari dalam. Berikutnya kubuka satu persatu kancing hemku dan kutanggalkan begitu saja di hadapan Agus yang duduk di pinggiran tempat tidurku. Payudaraku yang ranum menggairahkan langsung terpampang jelas di hadapan Agus karena memang aku tidak pernah memakai BH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka kaitan rok miniku dan kubiarkan terluncur ke lantai begitu saja hingga kini tubuhku pun hampir telanjang bulat. Hanya tersisa CD mini yang kukenakan, modelnya G String dengan seutas tali nylon melingkar di pinggangku, sisanya juga seutas nylon yang tersambung dari belakang pinggang ke bawah, melingkari selangkangan melalui belahan pantatku. Di bagian depan hanya berupa kain sutera tipis tembus pandang berbentuk segi tiga, ukurannya tidak lebih dari seukuran dua jari yang fungsinya hanya mampu menutupi bagian luar liang vaginaku. Untuk melepaskannya cukup menarik kedua ikatan yang ada di samping kiri kanan pinggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja meminta agar Agus yang melucuti sisa penutup tubuhku. Hanya dengan sekali tarikan di ujung tali nylon yang mengikat di pinggangku, lepas sudah G Stringku dan langsung terluncur ke lantai. Kini aku pun benar-benar telanjang bulat di hadapan Agus, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh molekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kulihat tonjolan besar di bagian depan celana Agus. Rupanya Agus langsung horny begitu melihat aku benar-benar telanjang bulat di hadapannya. Napasnya tampak naik turun mulai tidak teratur. Kutinggalkan Agus begitu saja, dan aku langsung masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja saat aku mandi, pintu kamar mandi kubiarkan terbuka lebar sehingga Agus bisa dengan jelas melihat seluruh aktifitasku di dalamnya. Rupanya Agus sudah benar-benar tidak tahan hingga dilepaskannya seluruh pakaiannya sampai telanjang bulat. Agus melangkah dari tempat tidurku dan berdiri di pintu kamar mandi memandangku sambil mengocok batang kemaluannya yang sudah berdiri tegak bagaikan Tugu Pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatnya, aku mengajak Agus untuk sama-sama mandi. Lalu kami berdua berdiri di atas bathtub, saling gosok dan saling menyabuni tubuh kami secara bergantian. Tangan Agus selalu 'parkir' di daerah sensitifku. Walau belum pernah melakukan ML bukan berarti Agus tidak paham letak daerah sensitifku karena hampir seluruh daerah sensitifku itu digerayanginya sehingga membuat nafsuku langsung naik ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah kenikmatan saat jari-jari tangan Agus memainkan klitorisku hingga dari dalam liang vaginaku mengalir cairan bening hangat. Aku seakan tak mampu berdiri lagi. Badanku sedikit berjongkok menahan rasa yang akan meledak dari dalam tubuhku. Lalu kuajak Agus agar segera menyelesaikan mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya mengeringkan tubuh seadanya kami keluar kamar mandi. Lalu kududukkan Agus di tepian tempat tidurku dan aku berjongkok di hadapan selangkangannya. Langsung kuraih dan kukulum batang kemaluannya. Agus sedikit terkejut namun tidak menolak saat aku memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Kujilat kepala kemaluannya dengan penuh nafsu, lidahku menyapu batang kemaluannya hingga kedua biji pelirnya. Agus merebahkan badannya ke tempat tidur saat mulutku mengulum biji pelirnya. Tanganku mengocok-ngocok batang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uu.. Uuh! Mbak aku pengen kencing nich!" seru Agus. Dan.. croo.. oot! Cree.. eet! See.. eerrt! Sperma Agus benar-benar muncrat tumpah keluar membasahi wajah dan rambut kepalaku.&lt;br /&gt;"Aduu.. Uuh! Enak sekali Mbak!" ujar Agus padaku.&lt;br /&gt;"Gila! Kok cepat sekali orgasmenya Gus?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Belum-belum kok sudah keluar?" timpalku lagi.&lt;br /&gt;"Iya Mbak! Habis enak sekali, jauh lebih enak daripada yang kulakukan sendiri selama ini", kata Agus.&lt;br /&gt;"Ayo Mbak, sekarang giliran Mbak", lanjut Agus sambil menarikku ke tempat tidur, dan aku pun menurut langsung naik ke atas tempat tidur dengan menelentangkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus langsung mencium bibirku dan kubalas dengan lumatan dan rabaan di punggungnya. Mulut kami saling berpagut, mulut kami saling lumat, saling menjulurkan lidah bergantian. Nafsuku tadi sebenarnya sudah mencapai puncak, namun sedikit drop saat belum-belum Agus sudah mengalami orgasme saat sedang kukulum batang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hasratku mulai naik kembali, aku jadi semakin liar saja saat tangan Agus bergerilya di daerah seputar selangkanganku. Agus mulai melakukan jilatannya, lidahnya menjilati seputaran telinga, leher, dada dan payudaraku. Aku jadi merasa geli sekali saat ujung lidah Agus menyapu seluruh bagian payudaraku. Puting susuku digigitnya dengan bibirnya dan dikulum-kulum. Jilatannya mengarah terus ke bawah menyapu setiap jengkal perutku. Pusarku pun tak luput dari jilatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uu.. Uuh! Gus! Kamu ternyata pintar juga bikin perempuan kelojotan", kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus hanya mendiamkan ucapanku, mulutnya terus turun menciumi paha hingga lututku. Mulutnya naik kembali menciumi dan menjilati pahaku bagian dalam yang sensitif hingga aku jadi benar-benar tidak tahan dibuatnya. Kuraih kepala Agus dan kujambak sedikit sambil menariknya ke atas. Agus mengerti apa mauku, kepalanya mengikuti tarikan tanganku yang mengarahkannya ke arah pangkal pahaku yang kubuka lebih lebar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Agus langsung terbenam di pangkal selangkanganku, mulutnya menyambar bibir vaginaku dan lidahnya serta merta dijulurkan dan mengorek celah lipatan bibir vaginaku. Entah berapa banyak sudah cairan lendir yang mengalir keluar dari dalam liang vaginaku dan bibir vaginaku jadi ternganga lebar. Aku sudah benar-benar tidak mampu lagi membendung gelombang orgasmeku saat mulut Agus mengulum klitorisku. Rasa meledak-ledak dari dalam tubuhku akhirnya benar-benar meledak dengan dahsyat saat lidahnya mempermainkan ujung klitorisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uu.. Uucch! Teruu.. Uus! Terus Gus!" desahku.&lt;br /&gt;"Auu.. Uucch!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vaginaku jadi becek sekali. Pantatku kuangkat dan kugoyangkan mengikuti jilatan lidah Agus. Tubuhku menggigil sedikit kejang dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aa.. Aaff! Oo.. Oocch! Aduu.. Uuh! Gus! Sudah Gus, aku sudah orgasme" kataku sambil mendesis.&lt;br /&gt;"Gimana Mbak, puas ndak?" tanya Agus padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mampu menjawab pertanyaannya, hanya mengangguk sambil berdehem saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8164095310951539283-3866474611017373178?l=critaxxx.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3866474611017373178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8164095310951539283/posts/default/3866474611017373178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://critaxxx.blogspot.com/2007/08/pelajar-sma.html' title='Pelajar SMA'/><author><name>andra</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8164095310951539283.post-4508597526264407301</id><published>2007-08-29T12:32:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T06:01:07.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lain2'/><title type='text'>Berlibur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini adalah pengalaman dari seorang teman dekatku yang terjadi sekitar 5 bulan yang lalu. Aku sedikit bingung menulis cerita ini karena biasanya aku menceritakan pengalamanku, tapi kali ini aku harus menceritakan pengalaman temanku. Oke, tanpa banyak bicara lagi, kumulai cerita yang kuberi judul "Petualangan Berlibur Ke Desa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bulan yang lalu, Hans temanku mengajakku sedikit refreshing ke sebuah desa yang kebetulan adalah tempat Hans bermain waktu kecil. Ayah Hans seorang pengusaha kaya yang sedikit memperhatikan soal alam bebas, karenanya dia membeli ribuan hektar tanah yang kemudian dijadikannya hutan karet. Bisnis sambil memelihara alam liar, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans biasa berlibur ke hutan karet ayahnya dan dia biasa menginap di sebuah rumah yang terlihat begitu mewah kalau dibandingkan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Meski terkesan ada sedikit kesenjangan, tapi penduduk desa itu sama sekali tidak menaruh kebencian atau iri hati pada keluarga Hans karena keluarga itu cukup dermawan, bahkan ayah Hans hanya mengambil keuntungan 25% dari hasil hutan karetnya, dan sisanya dibagikan pada penduduk yang ikut mengusahakan hutan karet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oke, cukup perkenalannya. Aku sendiri menyesal karena tidak bisa ikut dengan Hans karena ada sedikit keperluan dengan keluargaku. Tapi aku berjanji akan menyusul kalau ada waktu. Hans sedikit kecewa tapi dia tetap pergi ke desa itu, sebut saja Desa Sukamaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pertama dilalui Hans dengan bermalas-malasan di rumahnya sambil menikmati udara segar pedesaan yang sangat jarang ditemuinya di Bandung. Baru pada hari kelima Hans keluar dari rumah, diantar oleh seorang bujangnya Hans berjalan-jalan melihat-lihat sekeliling desa itu. Dia berhenti ketika dilihatnya seorang gadis, mungkin beberapa tahun lebih muda darinya sedang menyapu di pekarangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya yang hitam terurai menutupi punggungnya. Kulitnya yang hitam manis mengkilat karena keringat yang tertimpa sinar mentari. Hans tertegun, baru kali ini dilihatnya gadis desa yang begitu cantik. Bujangnya tahu kalau Hans memperhatikan gadis itu, karena itu dia mengatakan kalau gadis itu adalah anak salah seorang pekerja ayahnya. Umurnya sekitar 14 tahun, dan kini ayahnya sudah tiada. Dia tinggal dengan ibunya dan sering membantu mencari nafkah dengan mencucikan pakaian orang-orang desa yang lebih mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans merasa iba, tapi rasa ibanya langsung hilang berganti rasa tertarik ketika dipikirnya kalau gadis itu pasti memerlukan uang untuk biaya hidupnya. Kemudian berubah lagi perasaannya menjadi keinginan untuk mendekatinya ketika dilihatnya kalau gadis itu cukup cantik dan manis. Tapi rasa ingin mendekati itu berubah seketika ketika dilihatnya dada gadis itu yang agak terlalu besar untuk anak seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja setan bersarang di kepala Hans. Dia mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar uang bergambar Pak Harto dan menyuruh bujangnya memberikan uang itu pada gadis itu untuk mencuci bajunya. Bujangnya tidak menaruh curiga, dia segera memberikan uang itu pada gadis itu, dan tidak lama kemudian gadis itu mengikutinya mendekati Hans. Hans menyuruh bujangnya pulang, sedangkan dia melanjutkan jalannya bersama gadis itu. Ditengoknya arloji di tangannya, baru pukul 4:00 sore, karena itu Hans mengulur waktu. Setidaknya pukul 5:00 sore akan dilaksanakan rencananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bertanya dimana sungai yang airnya bening dan bisa dipakai mandi. Gadis itu mengantarkan Hans ke sana. Cukup jauh juga, dan setiba di sana Hans melepas semua pakaiannya dan langsung masuk ke sungai itu. Dia meminta gadis itu mencuci pakaiannya, dan gadis itu menurut walaupun agak malu-malu karena melihat Hans berenang telanjang. Hans sendiri sudah sedikit sinting, entah setan apa yang merasuki kepalanya, yang jelas ketika dilihatnya arlojinya menunjukkan pukul 5:00 sore, langsung dijalankan rencananya. Hans keluar dari air, mendekati gadis yang sedang membersihkan pakaiannya dan berjongkok di sampingnya. Batang kemaluan di sela pangkal kaki Hans sudah bangun dari tidurnya, dan tanpa tembakan peringatan Hans langsung saja merangkul gadis itu sambil berusaha mencium leher gadis itu (sebut saja namanya Narti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu segera berontak karena terkejut, tapi dekapan Hans lebih kencang dari tenaganya. Hansberhasil mencium leher gadis itu tapi begitu Hans berusaha lebih gila lagi gadis itu mengancam akan berteriak. Hans takut juga dia digebuki penduduk desa itu, karena itu segera ditutupnya mulut gadis itu, dan dia berbisik, "Jangan teriak, kalau kau mau melayaniku kuberi lebihdari sekedar lima puluh ribu, mungkin akan kuberi seratus ribu lagi, bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu masih diam, tapi begitu Hans mengeluarkan dua lembar uang Rp. 50.000-an yang sedikit basah karena air sungai dan mengipas-ngipaskan di depan muka Narti, akhirnya dia mengangguk. Kapan lagi dia bisa mendapat uang Rp 150.000,- dalam sehari, begitu pikirnya. Hans tersenyum senang sambil melepaskan tangannya dari mulut gadis itu. Tapi ketika dia berusaha memegang dada Narti, gadis itu berbisik, "Jangan di sini, takut ketahuan orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans setuju kata-kata gadis itu, karena itu diajaknya gadis itu ke hutan karet milik ayahnya. Hans tahu persis kalau sore-sore begini tidak mungkin ada orang di sana. Singkat cerita, mereka sampai di sana, dan tanpa tunggu lama lagi Hans segera membuka bajunya yang basah, juga celananya. Dibentangkannya baju dan celananya di tanah, dan diciumnya Narti sekali lagi. Kali ini dia tidak berontak. Hans dengan mudah menyingkirkan pakaian gadis itu, dan terlihat kedua gunung kembarnya yang tidak begitu besar tapi lumayan juga untuk ukuran gadis 14 tahun. Hans meremas keduanya sekaligus sambil terus melumat bibir gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 2 menit kemudian Hans berbisik, "Aku nggak butuh patung, layani aku. Jangan cuma diam gitu aja!" Hans lalu mendorong kepala Narti ke bawah, dan menyuruhnya sedikit bermain dengan kejantanannya yang sudah hampir mencapai ukuran maksimal. Gadis itu bingung, maklum di desa mana ada film "bokep". Hans menyuruh Narti menjilat "jamur ungu"-nya. Narti sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya dilakukannya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Narti cepat belajar, beberapa menit kemudian Hans sudah dibuatnya keenakan dengan permainannya di selangkaan kakinya. Terpedo itu sudah mencapai ukuran maksimal, dan Narti masih terus bermain dengan benda itu, mungkin asyik juga dia bermain dengan benda itu. Mulai dari mencium, menjilat dan akhirnya mengulumnya sambil menggerakkan kepalanya maju-mundur dan sesekali menghisap benda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans cukup puas dengan permainan itu, dan ketika dilihatnya langit mulai gelap, disuruhnya Narti duduk. Hans meregangkan kaki gadis itu, terlihat bulu-bulu halus yang masih sangat jarang di sela-sela pahanya. Hans menggunakan lidahnya untuk membasahi vagina Narti. Narti bergoyang-goyang kegelian, tapi kelihatannya dia menimati permainan itu. Sekarang Hans menggunakan jarinya untuk menggosok klitoris Narti yang masih kecil. Narti semakin liar bergoyang-goyang menahan nikmat. Desahan mulai keluar dari mulutnya dan vaginanya basah karena lendir yang bercampur ludah Hans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Narti mendesah panjang, dan tubuhnya bergetar hebat. Lendir mengalir dari vaginanya yang merah segar. Hans tahu Narti sudah mencapai puncak, dan inilah kesempatannya untuk menusukkan terpedonya ke kemaluan Narti. Dibukanya lebih lebar paha Narti, dan diarahkannyakepala kejantanannya ke vagina Narti. Narti sendiri masih memejamkan mata menikmati sisa-sisa orgasmenya. Tapi tiba-tiba dia menjerit tertahan ketika Hans memaksa terpedonya masuk ke lubang yang sempit itu. Narti kembali menjerit ketika kejantanan Hans semakin memaksa melesak masuk ke dalam. Hans berusaha keras menembus pertahanan vagina Narti, tapi baru setengah dari barangnya yang masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans meremas dada Narti sambil menciumnya. Dia berusaha membuat otot kemaluan Narti sedikit mengendur, dan ketika dirasakannya mulai mengendur, disodoknya sekuat tenaga kejantanannya ke dalam kemaluan Narti. Kali ini Narti menjerit cukup keras, dan terlihat air mata keluar dari balik kelopak matanya yang tertutup menahan nyeri. Hans tidak peduli, sekarang sudah seluruhkejantanannya masuk, dan mulai digoyangkannya maju-mundur diiringi jeritan-jeritan kecil Narti. Vagina Narti sangat sempir, karena itu belum lama Hans bermain sudah hampir keluar maninya. Hans mempercepat gerakannya, dan Narti semakin kuat menjerit. Tentu saja vagina Narti yang masih 14 tahun itu terlalu kecil untuk kejantanan Hans yang lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai Hans bermain, suara Narti tidak terdengar lagi, dia pingsan karena tidak kuat menahan nyeri. Hans sendiri mengetahuinya, tapi dia tidak mau menghentikan permainannya, dikocoknya terus kemaluan Narti yang sedikit memar, dan akhirnya Hans mendesah dalam sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh mungil Narti. Setelah itu Hans sempat mengocok vagina Narti lagi, dan ketika hampir mencapai puncak kedua kalinya Narti bangun dari pingsannya. Dia langsungmenjerit-jerit dan beberapa saat kemudian mereka mencapai puncak hampir bersamaan. Hans terlihat puas dan lelah, dan ketika dicabutnya kejantanannya dari vagina Narti, terlihat maninya keluar lagi dari kemaluan Narti. Kental berwarna putih kekuningan yang bercampur darah keperawanan Narti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans mengajak Narti membersihkan diri, dan ketika selesai diberikannya dua lembar uang Rp. 50.000-an pada Narti. Narti sangat berterima kasih, dan Hans berpesan agar jangan sampai hal itu diketahui orang lain. Narti mengangguk, tapi Hans segera menegur Narti ketika diperhatikannya jalannya sedikit menegang menahan perih di kemaluannya. Narti berusaha berjalan normal walaupun dirasakannya sakit di sela pahanya. Dia juga takut kalu orang-orang desa tahu kalau dia sudahmenjual tubuhnya pada Hans, tapi tetap saja diambilnya resiko itu demi uang yang memang sangat dia butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian aku datang menyusul Hans, dan di sanalah Hans menceritakan kisahnya itu. Aku jadi sedukit terangsang juga mendengar cerita itu, dan rencananya aku akan mencobanya juga bila ada waktu, yang jelas hari-h
